Ulasan
Mengingat yang Dilupakan: Kisah Segara Alam dan Bayang-Bayang 1965
Salah satu kelebihan buku karya Leila adalah penceritaan tentang latar sejarah. Tak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia kerap luput akan peninggalan dan warisan-warisan masa lampau. Tak hanya karena angka buta huruf yang dulu begitu tinggi, tapi pembakaran arsip yang sempat terjadi membuat arsip sejarah hanya sisa-sisa.
Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori merupakan sastra kontemporer yang berusaha mengisi “lubang-lubang” dalam narasi sejarah resmi, khususnya terkait tragedi 1965. Sebagai semacam prekuel atau spin-off dari novel Pulang, buku ini mengisahkan perjalanan hidup Segara Alam.
Sinopsis Novel
Cerita dalam Namaku Alam berlatar waktu 1965 hingga awal 1980-an, mengikuti kehidupan Alam sejak kecil hingga remaja. Ia adalah anak dari seorang pria yang dicap sebagai “pengkhianat negara”, sebuah label yang tidak hanya menghancurkan hidup ayahnya, tetapi juga membekas dalam kehidupan seluruh keluarga.
Sejak usia dini, Alam sudah dihadapkan pada memori dimana ayahnya yang ditodong senapan tertanam kuat dalam memorinya.
Salah satu aspek paling menarik dari karakter Alam adalah kemampuannya memiliki photographic memory. Kemampuan ini membuatnya mampu mengingat detail peristiwa secara tajam, tetapi sekaligus menjadi beban psikologis yang berat. Ia tidak bisa melupakan trauma, hinaan, maupun pengalaman pahit yang ia alami.
Ingatan yang seharusnya menjadi kekuatan justru berubah menjadi sumber penderitaan berlapis.
Novel ini juga menggambarkan bagaimana stigma sosial bekerja secara sistemik. Alam tidak hanya menghadapi diskriminasi di lingkungan masyarakat, tetapi juga di sekolah. Ia kerap menjadi korban perundungan karena status keluarganya.
Label “anak pengkhianat” melekat begitu kuat hingga membentuk kepribadiannya menjadi keras dan temperamental. Perkelahian demi perkelahian menjadi cara Alam mempertahankan harga dirinya.
Leila S. Chudori dengan cermat menampilkan dampak jangka panjang dari peristiwa politik terhadap individu dan keluarga. Tidak hanya soal kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan identitas, rasa aman, dan masa depan. Melalui kisah Alam, pembaca diajak melihat bahwa tragedi sejarah bukan hanya milik masa lalu, tetapi terus hidup dalam ingatan dan kehidupan generasi berikutnya.
Kelebihan dan Kekurangan Novel Namaku Alam
Salah satu yang cukup terasa adalah kecenderungan penulis untuk memasukkan referensi pewayangan, khususnya Mahabharata, secara berulang. Hampir semua tokoh digambarkan memiliki ketertarikan pada dunia pewayangan. Bagi sebagian pembaca, ini bisa menjadi kekayaan budaya, tetapi bagi yang lain, repetisi ini justru menimbulkan kejenuhan karena terasa seperti pola yang berulang dalam karya-karya Leila.
Selain itu, struktur penceritaan yang dibagi dalam subbab berdasarkan tokoh-tokoh di sekitar Alam terkadang tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi. Alih-alih memperdalam hubungan antar karakter, beberapa bagian justru melebar ke arah yang kurang relevan dengan fokus utama. Hal ini membuat narasi terasa kurang padat dan sedikit kehilangan arah.
Karakter-karakter dalam novel ini juga sering digambarkan sangat cerdas dan matang, bahkan untuk ukuran remaja. Ini menimbulkan kesan bahwa pemikiran penulis “ditransfer” secara langsung ke dalam tokoh, sehingga terasa kurang natural. Meski demikian, hal ini tidak sepenuhnya mengurangi kekuatan emosional cerita.
Serta kecenderungan name-dropping, penyebutan nama-nama sastrawan atau pemikir dunia tanpa eksplorasi yang mendalam. Alih-alih memperkaya diskursus, hal ini terkadang terasa seperti hiasan intelektual yang tidak sepenuhnya terintegrasi dengan cerita.
Meski memiliki beberapa kelemahan, Namaku Alam tetap menawarkan pengalaman membaca yang kuat. Novel ini berhasil menghadirkan perspektif alternatif tentang sejarah Indonesia, terutama dari sudut pandang korban yang selama ini jarang mendapat ruang.
Leila tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenung: bagaimana sebuah bangsa mengingat masa lalunya, dan siapa yang menentukan narasi tersebut.
Pada akhirnya, Namaku Alam adalah kisah tentang ingatan, luka, dan pencarian jati diri. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada suara-suara yang belum terdengar, cerita-cerita yang belum sepenuhnya terungkap.
Dan melalui tokoh Segara Alam, kita diajak menyelami bagaimana rasanya hidup dalam bayang-bayang sejarah yang tidak pernah benar-benar pergi.
Identitas Buku
- Judul: Namaku Alam
- Penulis: Leila S. Chudori
- Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
- Tahun Terbit: 2023
- ISBN: 978-623-134-082-5
- Tebal: 438 Halaman
- Genre: Fiksi Historis, Drama