Ulasan

Taman Ngronggo Kediri: Ruang Singgah untuk Tertawa dan Menenangkan Diri

Taman Ngronggo Kediri: Ruang Singgah untuk Tertawa dan Menenangkan Diri
Taman Ngronggo (Dokumentasi Pribadi/Ukhro Wiyah)

Tidak semua tempat yang berkesan harus megah atau indah luar biasa. Kadang, sebuah taman kecil di pinggir jalan pun bisa meninggalkan jejak yang cukup lama di ingatan. Begitulah Taman Ngronggo bagi saya.

Siang itu, matahari Kediri terasa sangat menyengat. Saya tiba di Taman Ngronggo sekitar pukul 12.40 usai melaksanakan salat Zuhur di masjid yang letaknya tidak jauh dari sana. Udara panas langsung menyambut, membuat sebagian sudut taman tampak lengang.

Lokasi dan Fasilitas Taman Ngronggo

Taman Ngronggo berada tepat di tepi jalan raya. Posisi tersebut membuat taman ini cukup mencolok dan mudah ditemukan. Namun di sisi lain, suara lalu lalang kendaraan juga terdengar cukup mengganggu.

Sementara itu, di sebelah timur taman, terdapat rel kereta api. Pengunjung bisa menyaksikan kereta lewat dari arah taman dengan cukup jelas. Di area yang cukup dekat dengan rel, juga dipasang beberapa bangku taman.

Di beberapa spot juga ada gazebo yang bisa digunakan pengunjung untuk berteduh. Jika pengunjung membawa anak kecil, anak-anak bisa bermain di playground yang sudah disediakan. Ada fasilitas tempat duduk di sekitar area bermain untuk orang tua mengawasi anak mereka.

Di bagian belakang, ada area parkir yang cukup luas dengan tarif sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 saja. Meski tidak terlalu besar, taman ini cukup sering menjadi tempat singgah masyarakat karena tidak dipungut biaya masuk dan cukup membayar parkir saja jika membawa kendaraan.

Kenangan Sederhana di Taman Ngronggo

Desember lalu, saya kemari untuk melakukan foto bersama pascawisuda. Saya datang bersama dua teman dekat dengan wajah yang masih penuh riasan dan kebaya yang belum sempat dilepas. Sejak dini hari, energi kami sebenarnya sudah banyak terkuras untuk mempersiapkan wisuda, mengikuti acara yang panjang, lalu berfoto bersama keluarga dan teman-teman di kampus. Namun, kami masih memaksakan diri datang ke Taman Ngronggo untuk satu sesi foto terakhir.

Sore itu taman cukup ramai. Ada anak-anak bermain, pasangan duduk bercengkerama, dan beberapa orang sibuk dengan urusannya sendiri. Di tengah rasa lelah yang menumpuk, kami tetap berdiri di depan kamera, berganti pose, lalu tertawa saat hasil foto terlihat lucu.

Meski sederhana, tetapi itu menjadi salah satu momen yang paling saya ingat. Mungkin karena setelah hari itu, kami sadar bahwa kebersamaan tidak akan lagi seintens dulu. Tidak akan ada lagi rutinitas bertemu setiap hari di asrama, saling meminjam barang, atau mengobrol sampai larut malam. Wisuda bukan hanya tentang kelulusan, tetapi juga tentang awal dari perpisahan-perpisahan kecil. Sekitar pukul 17.00, sesi foto selesai. Kami pulang dengan wajah lelah, tetapi hati yang cukup penuh.

Beberapa bulan kemudian, saya kembali lagi ke taman yang sama. Kali ini sendirian. Niat awalnya hanya menunggu agenda diskusi organisasi yang rencananya dilakukan sore hari di sana. Matahari masih terasa menyengat saat saya tiba, membuat sebagian besar pengunjung memilih berteduh atau bahkan tidak datang sama sekali.

Saya sempat duduk di dekat area bermain anak, tetapi suasananya terlalu ramai. Akhirnya saya berpindah ke bangku melingkar di bagian tengah taman yang jauh lebih sepi. Di sana hanya ada saya, buku yang sedang dibaca, dan tas berisi tripod.

Hari itu, saya memberanikan diri melakukan sesuatu yang selama ini selalu saya tunda: mengeluarkan tripod dan mengambil foto sendirian di tempat umum. Awalnya canggung. Saya merasa semua orang akan melihat dan menilai. Namun, setelah tripod berdiri dan kamera mulai merekam, saya justru menyadari satu hal: tak ada satu pun yang benar-benar memedulikan saya.

Orang-orang tetap sibuk dengan anaknya, dengan ponselnya, dengan obrolannya, atau sekadar lewat begitu saja. Tidak ada yang memperhatikan saya sebanyak yang saya bayangkan. Dari momen kecil itu, saya seperti diingatkan bahwa sering kali ketakutan terbesar memang hanya hidup di kepala sendiri. Kita terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain, padahal mereka belum tentu meluangkan waktu untuk memikirkan kita.

Tak lama setelah itu, pesan di grup WhatsApp masuk: agenda diskusi hari itu dibatalkan. Anehnya, saya tidak terlalu kecewa. Duduk sendirian di taman yang panas dan sepi justru terasa cukup menenangkan. Saya punya waktu untuk membaca dan berpikir tentang banyak hal.

Dua kunjungan itu memiliki dua suasana dan dua rasa yang berbeda. Yang satu dipenuhi tawa bersama sahabat di penghujung masa kuliah. Yang satu lagi dipenuhi diam dan keberanian kecil untuk melawan rasa canggung dan mencoba lebih percaya diri.

Taman Ngronggo mungkin hanya taman sederhana di pinggir jalan. Namun, di sanalah saya belajar bahwa kenangan tidak selalu lahir dari peristiwa besar; kadang ia tercipta dari foto terakhir bersama sahabat, atau dari satu siang yang panas ketika kita akhirnya berani menghadapi diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda