Kolom
Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?
Asap hitam mengepul tinggi di suatu tempat. Sumbernya dari dapur salah satu warga yang menggunakan kayu bakar dan sampah-sampah plastik untuk memasak makanan sehari-hari mereka. Pemandangan tersebut terasa normal dan biasa saja bagi warga di sekitarnya. Orang-orang yang melakukannya pun merasa ini wajar dilakukan, sebab ketika kayu bakar sedang mahal atau sulit ditemukan, sampah plastik menjadi solusi yang praktis dan murah untuk membuat dapur mereka tetap mengebul.
Jika dipikir-pikir, kebiasaan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Bagi sebagian masyarakat, membakar sampah plastik bukanlah pilihan yang diambil karena tidak peduli terhadap lingkungan. Sebaliknya, praktik itu lahir dari keterbatasan. Ketika biaya energi terus meningkat sementara kebutuhan memasak tetap harus dipenuhi setiap hari, apa pun yang dianggap bisa menghasilkan api sering kali dipilih sebagai jalan keluar.
Faktanya, praktik ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa sekitar 1 dari 3 orang di negara berkembang mengetahui adanya rumah tangga yang membakar plastik untuk kebutuhan energi. Bahkan sekitar 15–16 persen responden mengaku pernah melakukannya sendiri.
Apabila praktik serupa masih dilakukan oleh begitu banyak orang, yang jadi pertanyaan kini: mengapa sebagian masyarakat masih menganggapnya sebagai solusi?
Membakar plastik sebenarnya bukan pilihan yang ideal bagi mereka. Namun, ketika minyak tanah semakin langka, harga LPG semakin mahal, dan penjual kayu bakar semakin sulit ditemukan, sampah plastik sering kali dianggap sebagai jalan keluar yang paling murah. Bagi sebagian orang, praktik ini bukan soal memilih cara terbaik, melainkan tentang bertahan dengan pilihan yang tersedia.
Fenomena yang sama sempat menjadi sorotan di Indonesia. Di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur, terdapat industry tahu yang diketahui menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar produksi karena biayanya jauh lebuh murah dibandingkan kayu bakar maupun gas. Bagi para pelaku usaha, langkah tersebut dianggap mampu menekan biaya produksi di tengah kebutuhan usaha yang harus terus berjalan.
Namun, pertanyaannya: benarkah sampah plastik yang dibakar hanya menghasilkan penghematan biaya?
Pada saat sampah plastik dibakar, mungkin yang kita lihat hanya api menyala dan asap mengepul ke udara. Iya, sekilas itu memang tidak tampak seperti masalah besar. Bahkan tumpukan sampah bisa berkurang secara signifikan dalam waktu singkat. Namun nyatanya, tanpa kita sadari, sampah plastik tersebut tidak benar-benar menghilang begitu saja. Ia hanya berubah bentuk menjadi asap yang membawa berbagai partikel berbahaya yang menyebar ke lingkungan.
Pembakaran plastik pada suhu rendah dapat menghasilkan berbagai zat beracun, seperti dioksin dan furan yang dikenal sebagai senyawa karsinogenik atau pemicu kanker. Selain itu, asapnya juga mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk hingga ke dalam paru-paru dan aliran darah manusia.
Masalahnya, zat berbahaya tersebut tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang. Karena itulah, masih banyak orang yang menganggap pembakaran plastik sebagai sesuatu yang biasa. Padahal tanpa disadari, ada ancaman yang tersembunyi di balik asap yang menghilang secara perlahan di udara.
Di sisi lain, dampak dari pembakaran itu tidak selalu muncul pada waktu yang bersamaan. Dalam jangka pendek, asap hasil pembakaran plastik dapat menyebabkan mata perih, batuk, iritasi saluran pernapasan, hingga memicu asma dan ISPA. Namun, ancaman yang lebih besar justru muncul dari paparan yang terjadi secara terus-menerus. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa senyawa beracun dari pembakaran plastik dapat meningkatkan risiko kanker, gangguan hormon, kerusakan hati dan ginjal, hingga masalah reproduksi.
Akan menjadi semakin mengkhawatirkan lagi apabila sampah plastik digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Sebab racun yang dihasilkan tidak hanya menyebar ke udara, tetapi juga berpotensi mencemari makanan yang sedang diolah. Dioksin yang dilepaskan saat proses pembakaran dapat menempel pada peralatan masak maupun masuk ke dalam kandungan minyak dan lemak pada makanan. Jika dikonsumsi secara terus-menerus, zat tersebut dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Penelitian yang dilakukan di sekitar kawasan Tropodo menemukan kandungan dioksin pada telur ayam kampung dengan kadar yang jauh melampaui batas aman yang ditetapkan otoritas keamanan pangan Eropa. Temuan ini menunjukkan bahwa racun dari pembakaran plastik dapat masuk ke rantai makanan, mulai dari lingkungan sekitar, hewan ternak, hingga akhirnya dikonsumsi oleh manusia.
Di titik ini, yang mungkin perlu ditingkatkan lagi adalah kesadaran bahwa membakar sampah plastik untuk memasak memang terlihat sebagai solusi murah yang mampu menghemat biaya hari ini. Namun, ketika asapnya mencemari udara, racunnya masuk ke makanan, dan dampaknya mengancam kesehatan masyarakat, mungkin kita perlu bertanya kembali: apakah yang kita hemat benar-benar biaya, atau hanya memindahkan tagihannya ke masa depan?
Di atas kertas, membakar sampah plastik memang terlihat mampu menghemat pengeluaran. Namun ketika biaya kesehatan, pencemaran lingkungan, dan risiko yang ditanggung masyarakat ikut diperhitungkan, mungkin yang terjadi bukanlah penghematan, melainkan pemindahan tagihan kepada generasi yang akan datang.