Ulasan

Tanah Bangsawan: Rahasia Kelam di Balik Identitas Ganda Seorang Pemuda Eropa

Tanah Bangsawan: Rahasia Kelam di Balik Identitas Ganda Seorang Pemuda Eropa
Tanah Bangsawan Karya Filiana Nur (Perpustakaan Jogja)

Mengenal karya penulis bernama Filiana Nur lewat novel berjudul Tanah Bangsawan. Penulis tampak merangkai kisah yang memadukan unsur sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan.

Dalam buku ini, bab-bab yang ada memiliki judul yang menarik dan menggugah rasa penasaran seperti Kepulangan Lars, Desas-Desus, Penculikan, Balada Tangis, Rencana Penghancuran, hingga Karma Telah Berakhir. Judul-judul itu saja sudah memberi gambaran bahwa kisah di dalamnya penuh perjalanan, pertentangan, dan juga pelajaran hidup yang mendalam.

Sinopsis: Lars dan Pencarian Jati Diri di Balik Nama Dimas

Pada tahun 1798, Lars, seorang pemuda berusia dua puluh tahun berdarah Eropa, kembali menginjakkan kakinya di Hindia Belanda setelah bertahun-tahun tinggal dan bersekolah di Negeri Belanda. Ia pulang bukan hanya untuk membantu usaha ayahnya, Tuan Hanzie, tetapi juga karena kerinduannya pada tanah tempat ia tumbuh dan bergaul. Berbeda dengan kebanyakan bangsawan Eropa yang angkuh dan menganggap diri lebih tinggi, Lars justru memiliki hati yang lembut, rendah hati, dan sangat menghargai penduduk setempat.

Sesampainya di sana, hal pertama yang dilakukan Lars bukan pulang ke rumah orang tuanya, melainkan menjumpai dua sahabat lama sekaligus kakak beradik, Kailash dan Dharma, anak dari tokoh terpandang Kiai Said di daerah Cinawi Jeran. Lars memiliki keinginan unik: ingin merasakan hidup sebagai penduduk asli, bukan sebagai orang asing yang dihormati karena kekayaan dan asal-usulnya. Untuk itulah, Lars pun menyamar dengan nama baru "Dimas", menjadi seorang santri biasa yang hidup di lingkungan pesantren dan mengenakan pakaian sederhana, serta menjadi jongos yang memasak dan bersih-bersih.

Di sisi lain, ada Theresia, ibu Lars. Ia kerap bersitegang dengan Eis, istri rekan kerja suaminya yang memiliki pandangan sempit dan angkuh. Eis menganggap penduduk lokal adalah orang rendahan yang harus diperlakukan kasar, padahal Theresia percaya di mana pun berada, rasa hormat dan keadilan adalah hal yang paling utama.

Kehidupan Lars yang damai perlahan terganggu saat kedua anak kembarnya, Lery dan Heinry, berulang kali memohon izin untuk pergi ke Negeri Belanda mengunjungi kakek-neneknya. Permintaan ini justru membuka kembali luka dan rahasia masa lalu yang selama ini ditutup rapat. Cinta dan karma menjadi benang merah yang mengikat takdir setiap tokoh dalam kisah ini.

Kelebihan dan Kekurangan

Penulis sangat pandai menggambarkan suasana zaman dulu, adat istiadat, dan cara bergaul antarmanusia. Karakter tokoh-tokohnya sangat jelas; masing-masing punya sifat khas dan alasan bertindak, jadi saya mudah mengerti perasaan dan pemikiran mereka. Selain itu, pesan moralnya sangat kuat tentang persahabatan, rasa hormat, kesetaraan, dan pentingnya jujur pada diri sendiri dan orang lain. Cerita juga mengalir dengan baik dari awal sampai akhir sehingga menimbulkan rasa penasaran yang terus terjaga.

Untuk kekurangannya dalam penyamaran Lars ada kejanggalan logika yang tidak dijelaskan penulis. Di masa itu, setiap orang punya asal-usul, ada catatan warga, ada keluarga yang dikenali. Lars datang tiba-tiba, tidak punya surat desa maupun surat keterangan dan cuma dibawa oleh Kailash dan Dharma. Logikanya tidak mungkin pesantren menerima orang asing tanpa latar belakang jelas, apalagi zaman itu rawan pemberontakan, penculikan, mata-mata.

Selain itu, Lars memiliki warna kulit putih, wajah tampan, dan bicara berbeda. Hal yang sangat mencolok di mata orang pada masa itu untuk dikenali. Ditambah dengan penuturan Lars yang berujar kulitnya putih karena jarang terkena matahari. Penuturan inilah yang justru mempersempit penyamarannya lebih cepat diketahui khususnya oleh Rumi (gadis pribumi).

Penutup: Makna Menjadi Tuan dan Tamu

Novel ini mengajak pembaca menyusuri perjalanan panjang tentang persahabatan, kasih sayang, serta makna sejati menjadi tuan dan tamu. Semua peristiwa itu mengarah pada satu kebenaran besar bahwa karma pasti berakhir, dan kebaikanlah yang akan tetap abadi di tanah yang disebut Tanah Bangsawan ini.

Identitas Buku

  • Penulis: Filiana Nur
  • Penerbit: Mediakita
  • Tebal: 306 Halaman
  • ISBN: 9789797946616

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda