Ulasan
Antara Aturan Adat Bali dan Suara Kenanga yang Menulis Takdirnya Sendiri
Mengenal Oka Rusmini, sama halnya dengan mengenal perempuan asal Bali dengan karyanya yang selalu menyentuh persoalan adat, hierarki sosial, dan perjuangan perempuan. Buku Kenanga (2017) ini mengajak kita menyelami kehidupan dilingkungan Griya (rumah kaum bangsawan Brahmana) di Bali. Oka tidak hanya bercerita, tapi juga membuka mata kita tentang nilai-nilai yang diwariskan, serta luka-luka yang sering tersembunyi di balik aturan adat yang kaku. Gaya bahasanya puitis sehingga kita bisa merasakan emosi setiap tokoh yang diceritakan.
Cerita ini berpusat pada Kenanga, seorang perempuan dewasa yang belum menikah, tinggal bersama orang tua dan adiknya Kencana di Griya. Hidupnya berubah total saat bertemu Luh Intan, anak perempuan kecil yang diserahkan neneknya untuk dirawat. Sejak bertemu, Kenanga merasa ada ikatan batin yang kuat dan dia menganggap Intan seperti anak sendiri. Berbeda dengan Kenanga, Kencana adiknya sudah menikah dan selalu mendapatkan perhatian lebih dari ibu mereka. Ada juga tokoh lain seperti Galuh, anak pembantu lain yang sering memanfaatkan Intan, serta Kendran, warga Griya yang ingin membawa Intan pergi.
Konflik utama muncul dari adat dan hierarki sosial. Di lingkungan itu, anak dari keluarga biasa yang tinggal di Griya dianggap sebagai wang jero atau pembantu. Orang-orang menganggap Intan hanya pantas dibesarkan untuk bekerja, bukan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kenanga menentang pandangan itu, dia ingin menyekolahkan Intan di sekolah terbaik, padahal banyak yang tidak setuju.
Soal percintaan juga tersirat sampai usia dewasa, Kenanga tidak pernah tertarik pada laki-laki yang datang melamar dan orang tua sering bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya. Dia menemukan makna cinta dan pengabdian justru dalam hubungannya dengan Intan, bukan dalam hubungan dengan pasangan.
Terdapat kutipan yang mendukung suasana dalam Kenanga:
"Kebebasannya tertanam dalam di tubuh malam. Wujud kelam dengan sembilu kesunyiannya yang sublim, satu - satunya teman dan sahabat terbaiknya." (Rusmini, 11).
Saya merasa kalimat ini menggambarkan perasaan perempuan yang terbelenggu aturan sosial. Malam menjadi ruang aman bagi Kenanga, tempat dia bisa menjadi diri sendiri tanpa dinilai. Kesunyian yang dianggap orang lain sebagai kesepian, justru menjadi sumber kekuatan baginya. Ini mengajarkan kita bahwa kebebasan tidak harus terlihat secara fisik, tapi bisa tumbuh dari dalam diri.
"Tradisi bagai akar pohon tua yang menjerat kaki, tapi hati yang bebas akan selalu menemukan celah untuk tumbuh menuju cahaya." (Rusmini, 23).
Kenanga membuktikan meskipun hidup di lingkungan yang penuh aturan dan hierarki, kekuatan batin dan kasih sayang bisa menjadi celah kebebasan. Ini mengajarkan kita untuk tidak harus memusuhi warisan budaya tapi berani menyaring mana yang tetap relevan dan mana yang perlu diubah demi keadilan. Kebebasan sejati tidak didapat dengan melarikan diri, tapi dengan memiliki hati yang kuat unruk menentukan takdirnya sendiri.
Berikutnya kelebihan buku ini adalah penggambaran budaya Bali yang sangat rinci dan jujur. Kita jadi tahu bagaimana kehidupan di Griya, aturan-aturan adat, dan istilah-istilah khas yang disertai penjelasan. Pesan tentang pentingnya pendidikan dan kesetaraan juga disampaikan dengan menyentuh hati.
Sedangkan kekurangannya, penulis seringkali lebih memfokuskan narasi pada dunia batin dan perasaan Kenanga, sehinggga konflik sosial yang seharusnya menjadi inti cerita terasa kurang tergali secara mendalam. Misalnya ketika ada pihak yang menentang rencana pendidikan Intan, penulis hanya menyampaikan sebagai dialog biasa tanpa menguraikan dampak atau perdebatan yang lebih tajam. Selain itu, latar belakang asal-usul Intan yang menjadi alasan utama kenapa ia dianggap rendah statusnya juga kurang dijelaskan secara tuntas.
Secara keseluruhan buku ini sangat cocok dibaca siapa saja, terutama yang ingin memahami lebih dalam tentang kehidupan sosial dan perjuangan perempuan di Bali. Di balik kekayaan dan keindahan adat dan budaya, masih ada ketidakadilan yang harus dilawan. Kenanga menjadi contoh perempuan yang berani bersuara dalam kebenaran. Kita bisa mengerti dari cerita ini bahwa cinta dan pengorbanan tidak mengenal status sosial dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Identitas Buku
- Penulis: Oka Rusmini
- Penyunting: A. Ariobimo Nusantara
- Penyelia: Septi Ws
- Perancang Sampul: Studio Broccoli
- Penerbit: Grasindo
- ISBN: 9786023758937
- Tebal: 272 Halaman