Ulasan

Novel Canting: Usaha Menjaga Batik Tulis di Tengah Gempuran Batik Printing

Novel Canting: Usaha Menjaga Batik Tulis di Tengah Gempuran Batik Printing
Canting Karya Arswendo Atmowiloto (Dok. Pribadi/Rafi Hanif)

Saya mengenal karya ini lewat tulisan Arswendo Atmowiloto, seorang pengarang Indonesia yang sering mengangkat kisah kehidupan masyarakat Jawa berserta nilai-nilai budayanya. Novel Canting ini membawa kita masuk ke dalam lingkungan keluarga pengusaha batik yang penuh dengan rahasia, harapan, dan perbedaan pandangan hidup. Lewat gaya bahasanya yang sederhana namun puitis, kita bisa merasakan suasana rumah tangga dan lingkungan sosial yang diwarnai oleh tradisi dan modernisasi.

Cerita berpusat di Ndalem Ngabean Sestrokusuman, rumah besar milik Pak Bei dan istrinya, Bu Bei. Di tempat ini bekerja 112 orang buruh batik yang menggantungkan hidupnya dari usaha keluarga tersebut. Dalam menjalankan usahanya, Pak Bei berusaha keras mempertahankan keaslian batik tulis meski saat itu mulai digempur oleh batik printing yang diproduksi lebih cepat dan murah. Ia tetap mempertahankan proses pembuatan secara tradisional dengan teknik yang diwarisi turun temurun dengan keyakinan nilai seni dan kualitas batik tulis tidak akan pernah tergantikan.

Kita akan bertemu berapa tokoh penting dimulai dari Pak Bei, pengusaha batik yang kaya, berpendidikan luas, dan sangat mengagumi Ki Ageng Suryamentaram. Ia sering berpergian ke luar kota, bergaul dengan kalangan ningrat, dan memiliki pandangan hidup yang bebas. Bu Bei (istri Pak Bei) yang setia, pendiam, dan selalu menuruti keinginan suaminya. Ia sedang mengandung anaknya lagi, dan kondisi ini menjadi pemicu masalah dalam rumah tangganya. Jimin, orang kepercayaan Pak Bei yang bertugas merawat ikan maskoki, bunga, dan hewan peliharaan lainnya. Ia patuh dan jarang berbicara. Ki Ageng Suryamentaram, tokoh yang sangat dihormati Pak Bei, ajaran-ajarannya sering menjadi pegangan hidupnya.

Konflik utama bermula ketika Bu Bei hamil lagi. Pak Bei justru meragukan status anak tersebut. Selain itu, ada ketegangan antara kehidupan mewah dan kebebasan yang dijalani Pak Bei di lingkungan ningrat dengan kenyataan bahwa banyak masyarakat di sekitarnya yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Konflik ini juga terlihat ketika pertemuan budaya yang mereka adakan sempat diprotes warga karena dianggap tidak memahami kondisi rakyat. Selanjutnya interpretasi dalam kutipan Canting  yang sarat dengan filosofis Jawa antara lain:

"Dalam hidup ini kita harus bisa nrima ing pandum, menerima apa yang sudah menjadi garis takdir. Orang yang bisa nrima hatinya akan tenang, tidak mudah marah atau iri melihat keadaan orang lain." (Atmowiloto, 14).

Menurut saya, nilai ini mengajarkan kita untuk bersyukur dan menerima segala keadaan hidup denganlapang dada, bukan berarti pasrah tanpa usaha. Ketika kita bisa menerima apa yang kita miliki dan apa yang terjadi, hati kita akan terbebas dari beban keinginan yang tidak tercapai atau perasaan tidak puas. Hal ini sesuai dengan karakter masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi ketenangan dan keharmonisan.

"Canting itu bukan cuma alat buat membatik, tapi juga lambang cara kita hidup. Kita harus bisa menggoreskan kebaikan, keindahan, dan manfaat di mana pun kita berada, sama seperti canting yang membentuk motif indah di atas kain." (Atmowiloto, 19).

Filosofi ini menjadikan benda budaya sebagai cerminan perilaku manusia. Bagi saya, kalimat ini mengingatkan kita bahwa setiap tindakan dan ucapan kita bagaikan goresan canting bisa menciptakan keindahan atau justru merusak. Kita dituntut untuk selalu berperilaku yang bermanfaat bagi lingkungan, sama seperti canting yang menghasilkan karya seni yang memiliki nilai guna dan keindahan. Pekerjaan apapun yang kita lakukan jika dijalani dengan hati akan menjadi sesuatu yang berharga.

Kelebihan buku ini adalah cara penulis menggambarkan suasana dan karakter tokoh dengan sangat hidup. Kita bisa merasakan ketegangan, kesetiaan, dan perbedaan pandangan yang ada. Selain itu, banyak nilai-nilai budaya dan filosofis Jawa yang disampaikan secara alami, tidak seperti pelajaran yang kaku. Penulis juga berhasil mempertemukan antara kehidupan tradisional dan perubahan zaman, sehingga ceritanya terasa nyata dan dekat dengan kenyataan.

Adapun kekurangannya jika ditelisik, penulis kurang memberikan penjelasan yang jelas mengenai latar belakang hubungan antara Pak Bei dan Ki Ageng Suryamentaram. Kita hanya diberi tahu bahwa Pak Bei sangat mengaguminya, namun tidak dijelaskan sejak kapan atau bagaimana hubungan mereka terjalin.

Selain itu, bagian yang menceritakan pertemuan Jumat Kliwonan diakhiri secara mendadak, sehingga saya tidak mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemuan tersebut dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan Pak Bei dan keluarganya.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, novel Canting tetap menjadi karya yang berharga karena berhasil membungkus nilai-nilai luhur budaya Jawa dalam alur yang dekat dengan kenyataan hidup. Lewat kisah Pak Bei, Bu Bei, dan lingkungannya, kita diajak untuk lebih peka terhadap sesama, memaknai hidup dengan tujuan yang mulia, serta menyadari bahwa kekayaan dan status sosial tidak akan ada artinya tanpa diiringi rasa empati dan keseimbangan batin. 

Identitas Buku

  • Judul: Canting
  • Penulis: Arswendo Atmowiloto
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 360 Halaman
  • Sampul: Maryna Roesdy
  • ISBN: 9789792296235

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda