Ulasan
Triangle of Sadness: Film yang Mengungkap Kerapuhan Struktur Sosial Manusia
Triangle of Sadness, disutradarai oleh Ruben Östlund, merupakan film komedi satir hitam berbahasa Inggris yang pertama kali diproduksi oleh sineas Swedia tersebut. Film ini meraih Palme d'Or di Festival Film Cannes 2022 dan mendapat tiga nominasi Academy Awards, termasuk Best Picture, Best Director, serta Best Original Screenplay. Dengan durasi 147 menit, film ini mengeksplorasi tema ketidaksetaraan kelas sosial, kekuasaan, kecantikan sebagai mata uang, serta absurditas dunia elit super kaya melalui pendekatan yang provokatif dan sering kali ekstrem.
Eksplorasi Privilege, Kecantikan, dan Dinamika Kekuasaan yang Gelap

Cerita dibagi menjadi tiga bagian utama. Bagian pertama, Carl and Yaya, memperkenalkan pasangan model Carl (Harris Dickinson) dan Yaya (Charlbi Dean). Carl, seorang model pria, menghadapi casting yang merendahkan, sementara hubungan mereka dipenuhi ketegangan soal uang dan peran gender. Yaya, sebagai influencer yang lebih sukses, sering kali mengharapkan Carl membayar tagihan, meskipun ia sendiri memiliki pendapatan lebih tinggi. Bagian ini secara cerdas mengkritik industri mode dan dinamika hubungan yang transaksional.
Bagian kedua, The Yacht, berlangsung di kapal pesiar mewah senilai ratusan juta dolar. Carl dan Yaya diundang secara gratis untuk mempromosikan kapal tersebut di media sosial. Para tamu termasuk oligark Rusia Dmitry beserta istrinya, pasangan senjata manufaktur yang kaya raya, serta miliarder teknologi. Awak kapal dipaksa memenuhi permintaan absurd para tamu, sementara kapten (Woody Harrelson) lebih suka mabuk di kabinnya. Ketegangan memuncak saat makan malam kapten yang berubah menjadi kekacauan total akibat badai dan keracunan makanan. Adegan ini menjadi puncak satire, di mana hierarki sosial runtuh secara harfiah di tengah muntahan dan kotoran.
Bagian ketiga, The Island, menjadi titik balik paling dramatis. Setelah serangan bajak laut, sekelompok kecil penyintas terdampar di pulau terpencil. Abigail (Dolly de Leon), seorang petugas kebersihan kapal, muncul sebagai satu-satunya individu yang memiliki keterampilan bertahan hidup. Ia pun mengambil alih kepemimpinan, membalikkan struktur kelas sosial secara radikal. Para tamu kaya yang biasa dimanja harus bekerja dan merayu Abigail demi makanan dan perlindungan. Carl terjebak dalam hubungan transaksional baru, sementara Yaya kehilangan pengaruhnya yang semula bergantung pada kecantikan dan status.
Review Film Triangle of Sadness

Intinya, Östlund menyajikan kritik tajam terhadap kapitalisme, privilege, dan hipokrisinya. Film ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bersifat kontekstual—bergantung pada situasi dan sumber daya yang dimiliki. Performa Dolly de Leon sebagai Abigail sangat mencuri perhatian dan mendapat banyak pujian kritis. Charlbi Dean, yang berperan sebagai Yaya, sayangnya meninggal dunia tidak lama setelah rilis film ini. Visualisasi kapal mewah kontras tajam dengan kondisi pulau yang primitif, memperkuat tema utama. Humor film ini bersifat gelap dan bodily, sering kali tidak nyaman namun efektif dalam mengungkap absurditas perilaku manusia.
Film Triangle of Sadness semula dirilis secara internasional pada akhir 2022. Di Indonesia, film ini sempat tayang terbatas sekitar Desember 2022 atau awal 2023. Baru-baru ini, film ini kembali tayang di bioskop tanah air mulai sekitar 9 Mei 2026, sebagaimana terlihat di jadwal jaringan bioskop seperti CGV. Kehadiran ulang ini memberikan kesempatan buat kamu yang melewatkan rilis perdana untuk menyaksikannya di layar lebar.
Salah satu adegan paling berkesan dan ikonik adalah saat makan malam kapten di kapal pesiar. Di tengah badai hebat, para tamu super kaya mengalami keracunan makanan parah yang menyebabkan muntah massal, diare, dan banjir kotoran di ruang makan mewah. Adegan ini berlangsung cukup panjang, dikombinasikan dengan perdebatan mabuk antara kapten Marxis dan oligark kapitalis yang disiarkan melalui intercom. Kekacauan fisik ini secara metaforis merepresentasikan keruntuhan moral dan sosial kelas atas. Kurasa ini adalah salah satu adegan komedi bodily paling ekstrem dan menghibur dalam perfilman kontemporer.
Adegan lain yang tak kalah memorable adalah saat hierarki terbalik di pulau. Abigail yang semula melayani kini menjadi ratu, sementara Carl harus memberikan layanan intim demi makanan. Transisi kekuasaan ini disajikan dengan nuansa humor dan ketegangan yang halus, meninggalkan kesan mendalam tentang relativitas privilege. Adegan penutup yang ambigu juga meninggalkan ruang interpretasi buatku mengenai nasib para karakter.
Triangle of Sadness bukanlah film yang mudah ditonton bagi semua kalangan. Menurutku durasi filmnya terlalu panjang dan satirenya terlalu frontal. Akan tetapi, buat kamu yang menyukai kritik sosial berbalut humor gelap, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang kuat dan provokatif. Östlund berhasil mengingatkan bahwa di balik kemewahan, manusia tetap rentan terhadap insting dasar ketika struktur sosial runtuh. Film ini patut ditonton sebagai cerminan masyarakat kontemporer yang semakin terobsesi dengan status dan penampilan.