Ulasan

Diusir dari Tanah Sendiri: Luka Kemanusiaan dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari

Diusir dari Tanah Sendiri: Luka Kemanusiaan dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari
Buku Maryam karya Okky Madasari (Gramedia Digital)

Novel Maryam karya Okky Madasari ini adalah jeritan panjang tentang manusia-manusia yang kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, dan perlahan kehilangan hak untuk dianggap sebagai warga negara di tanah kelahirannya sendiri.

Novel yang diterbitkan pada tahun 2012 ini membawa pembaca masuk ke luka sosial yang nyata, yakni diskriminasi terhadap jemaat Ahmadiyah di Lombok.

Sejak halaman pertama, saya merasakan suasana muram yang menyesakkan. Kalimat pembuka tentang keinginan sederhana untuk pulang terasa sangat menghantam batin, “Kami hanya ingin pulang.”

Kalimat itu tampak sederhana, namun justru di situlah novel ini begitu nendang. Okky menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, hak paling dasar manusia, tinggal dengan aman di rumah sendiri, dapat dirampas oleh kebencian dan fanatisme.

Tokoh Maryam digambarkan sebagai perempuan yang tumbuh di tengah komunitas Ahmadiyah di Lombok. Sejak kecil ia sadar bahwa dirinya berbeda. Ia memiliki masjid sendiri, pengajian sendiri, dan batas-batas sosial yang tak terlihat tetapi terasa nyata. Perbedaan itu mula-mula hadir sebagai sesuatu yang biasa, sampai akhirnya masyarakat mulai memandang keyakinan mereka sebagai ancaman.

Konflik menjadi semakin kuat ketika Maryam jatuh cinta kepada Alam, laki-laki non-Ahmadi. Di titik ini, novel tidak hanya berbicara tentang konflik agama, tetapi juga pergulatan identitas dan kebebasan memilih hidup. Maryam harus memilih antara cinta, keluarga, dan keyakinannya. Pilihan-pilihannya kemudian menyeret dirinya pada rasa bersalah, keterasingan, dan kehilangan.

Saat membaca bagian ketika Maryam kembali ke Lombok dan mendapati keluarganya terusir dari rumah sendiri, emosi saya benar-benar terpukul. Rumah yang dulu penuh kenangan berubah menjadi simbol pengasingan.

Okky menuliskan tragedi itu dengan bahasa yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, rasa sakitnya terasa lebih nyata. Tidak ada dramatisasi berlebihan. Semua terasa seperti laporan luka yang disampaikan dengan tenang, namun menghancurkan.

Bagian paling memilukan bagi saya adalah ketika ayah Maryam meninggal dan warga menolak pemakamannya di kampung sendiri. Dalam suasana duka, manusia masih bisa mempertahankan kebencian atas nama keyakinan. Adegan itu membuat saya berhenti sejenak membaca karena terasa sangat ironis. Kematian yang seharusnya menjadi ruang kemanusiaan terakhir justru berubah menjadi arena penghakiman.

Novel ini relevan dengan keadaan zaman sekarang. Di tengah masyarakat yang semakin mudah terpecah karena perbedaan pandangan, Maryam menjadi pengingat bahwa intoleransi selalu bermula dari anggapan bahwa orang lain tidak layak diperlakukan setara.

Media sosial hari ini memperlihatkan bagaimana kebencian dapat menyebar cepat, bagaimana label “sesat”, “berbeda”, atau “bukan golongan kami” sering dipakai untuk membenarkan pengucilan. Karena itu, Maryam terasa bukan seperti cerita masa lalu, melainkan cermin yang masih hidup hingga sekarang.

Kekuatan terbesar novel ini terletak pada keberanian Okky Madasari mengangkat isu sensitif tanpa kehilangan sisi manusiawi. Ia tidak sibuk menggurui pembaca tentang benar atau salah dalam agama. Ia lebih memilih menunjukkan penderitaan manusia akibat kebencian yang dipelihara. Pembaca dibiarkan menyimpulkan sendiri, apakah keyakinan yang berbeda pantas dibalas dengan pengusiran, kekerasan, dan perampasan hak hidup?

Gaya bahasa Okky juga menjadi kelebihan penting. Ia menulis dengan lugas, tajam, dan jernih seperti laporan jurnalistik, tetapi tetap memiliki sentuhan emosional yang kuat. Saya merasa seolah sedang melihat langsung kamp pengungsian, mendengar isak tangis para ibu, dan merasakan ketakutan anak-anak yang terusir dari rumahnya. Kesederhanaan narasi justru membuat tragedi terasa lebih dekat dan nyata.

Kendati demikian, novel ini memiliki sedikit kekurangan. Beberapa bagian terasa terlalu datar secara emosional karena Okky lebih fokus pada isu sosial dibanding pendalaman psikologis tokoh. Ada momen ketika saya ingin melihat pergolakan batin Maryam lebih dalam, terutama saat ia meninggalkan keyakinannya demi menikahi Alam. Namun kekurangan itu tidak terlalu mengurangi kekuatan keseluruhan cerita.

Yang paling membekas dari novel ini adalah bagaimana Okky menghadirkan pertanyaan moral kepada pembaca. Sejauh mana manusia bisa kehilangan rasa kemanusiaannya karena perbedaan iman? Maryam tidak menawarkan solusi besar. Novel ini hanya menunjukkan kenyataan pahit bahwa kadang negara gagal melindungi warganya sendiri.

Ada satu nuansa yang terus tinggal setelah saya menutup buku ini, yaitu kesedihan yang sunyi. Kesedihan orang-orang yang tidak meminta banyak selain hidup damai. Mereka tidak meminta kekuasaan, tidak meminta kemenangan, hanya meminta hak untuk tinggal di rumah sendiri tanpa rasa takut. Dan justru karena tuntutan mereka begitu sederhana, tragedi dalam Maryam terasa semakin menyakitkan.

Identitas Buku

Judul: Maryam

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, September 2012

Tebal: 284 Halaman

ISBN: 978-979-228-009-8

Genre: Fiksi/Novel

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda