Ulasan

The Book of Everyday Things: Temukan Makna Hidup Lewat Benda di Sekitarmu!

The Book of Everyday Things: Temukan Makna Hidup Lewat Benda di Sekitarmu!
The Book of Everyday Things (Dok.Pribadi/Oktavia)

Apa hubungan antara bantal, buku, uang, sepatu, sikat gigi, kematian, dan kenangan? Bagi sebagian orang, benda-benda tersebut hanyalah bagian biasa dari rutinitas sehari-hari. Namun, di tangan jurnalis senior dan penulis Desi Anwar, berbagai hal yang tampak sederhana itu berubah menjadi pintu masuk untuk memahami manusia, sejarah, peradaban, bahkan makna kehidupan.

Melalui bukunya yang berjudul The Book of Everyday Things, Desi mengajak pembaca melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa benda-benda yang kita gunakan setiap hari menyimpan kisah yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2024, buku setebal 300 halaman ini merupakan kumpulan esai reflektif yang membahas sekitar 30 benda dan konsep yang akrab dalam kehidupan manusia.

Isi Buku

Mulai dari buku, bantal, uang, rumah, mainan, bendera, hingga kematian dan kenangan, semuanya menjadi bahan renungan yang kaya akan perspektif filosofis, sejarah, dan pengalaman pribadi.

Keunikan buku ini terletak pada cara Desi Anwar mengangkat hal-hal yang sering dianggap remeh. Ia tidak sekadar menjelaskan fungsi suatu benda, tetapi juga menelusuri asal-usulnya, peranannya dalam sejarah manusia, serta dampaknya terhadap cara kita menjalani hidup. Dengan gaya penulisan yang ringan dan komunikatif, pembaca diajak berpikir tanpa merasa sedang membaca buku yang berat.

Salah satu esai yang menarik membahas tentang bantal. Benda yang tampak sederhana ini ternyata menjadi titik awal refleksi mengenai kebutuhan manusia akan kenyamanan. Desi menceritakan pengalamannya mencoba berbagai jenis bantal mahal, mulai dari memory foam, bulu angsa, lateks premium, hingga bantal khusus dari Jepang yang dirancang dengan teknologi tertentu. Semua dilakukan demi mendapatkan kualitas tidur yang sempurna.

Namun pada akhirnya, pencarian tersebut membawanya pada kesadaran bahwa tidur nyenyak tidak selalu ditentukan oleh bantal terbaik. Kadang yang dibutuhkan hanyalah kemampuan untuk beristirahat dan melepaskan beban pikiran. Dari sebuah bantal, Desi berhasil mengajak pembaca mempertanyakan kecenderungan manusia modern yang sering mencari solusi melalui konsumsi barang, padahal jawabannya mungkin jauh lebih sederhana.

Pembahasan lain yang tidak kalah menarik adalah tentang kematian. Dalam buku ini, kematian tidak dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan semata, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Desi berpendapat bahwa manusia adalah satu-satunya spesies yang secara sadar memikirkan kematian dan berusaha memahami apa yang terjadi setelahnya. Namun karena tidak ada yang benar-benar mengetahui jawabannya, ketakutan terhadap kematian sering kali lahir dari imajinasi dan ketidakpastian.

Alih-alih terus-menerus mengkhawatirkan akhir kehidupan, Desi mengajak pembaca untuk lebih fokus menjalani hidup dengan penuh makna, rasa syukur, dan petualangan. Pandangan ini menjadikan pembahasan tentang kematian terasa reflektif, hangat, dan tidak menggurui.

Kelebihan dan Kekurangan

Selain filsafat kehidupan, buku ini juga kaya akan informasi sejarah yang menarik. Misalnya, bagaimana roti menjadi bagian penting dalam peradaban manusia, bagaimana uang diciptakan sebagai alat pertukaran yang kemudian membentuk sistem ekonomi modern, atau bagaimana secangkir teh memiliki hubungan sejarah dengan perdagangan global dan wilayah Nusantara.

Fakta-fakta semacam ini membuat pembaca menyadari bahwa benda sehari-hari sebenarnya menyimpan perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks.

Tidak hanya itu, buku ini juga memuat banyak unsur autobiografis. Desi Anwar sering menyelipkan kisah masa kecil, pengalaman keluarga, perjalanan hidup, hingga kebiasaan pribadinya. Unsur personal tersebut membuat setiap esai terasa lebih dekat dan manusiawi.

Pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga diajak memahami bagaimana pengalaman hidup seseorang dapat membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Pesan Moral

Pesan utama yang ingin disampaikan buku ini adalah pentingnya meninjau kembali hubungan manusia dengan benda-benda yang diciptakannya. Kemampuan manusia untuk menciptakan berbagai alat dan teknologi memang menjadi salah satu ciri utama peradaban.

Namun di sisi lain, obsesi terhadap produksi dan konsumsi yang berlebihan justru dapat menjauhkan manusia dari esensi kehidupannya sendiri serta memperbesar tekanan terhadap lingkungan.

Melalui benda-benda yang tampak biasa, Desi Anwar mengajak pembaca merenungkan pertanyaan-pertanyaan besar tentang identitas, kebahagiaan, konsumsi, kenangan, dan makna hidup.

Buku ini membuktikan bahwa pelajaran berharga tidak selalu ditemukan dalam hal-hal luar biasa. Terkadang, makna terdalam justru tersembunyi dalam benda-benda yang setiap hari ada di sekitar kita.

Identitas Buku

  • Judul: The Book of Everyday Things 
  • Penulis: Desi Anwar
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2024
  • Tebal: 300 halaman
  • ISBN:978-602-06-7592-3
  • Kategori: Esai, Self-Improvement

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda