Ulasan

Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam

Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam
Scene Film Writing with Fire (IMDb)

Banyak film dokumenter jurnalistik berusaha meyakinkan penonton bahwa profesi wartawan adalah pekerjaan yang heroik. Kamera mengikuti proses investigasi, narasi dibangun lengkap dengan ketegangan, lalu penonton diajak mengagumi para jurnalis yang berani membongkar kebenaran. Namun, Film Writing with Fire mengambil jalan yang berbeda. Film ini memang berbicara tentang wartawan, tapi semakin lama ditonton, semakin terasa inti ceritanya bukanlah jurnalisme.

Film dokumenter asal India yang dirilis pada 2021 ini disutradarai Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas. Produksinya ditangani Black Ticket Films bersama sejumlah mitra dokumenter internasional. Film ini juga mencatat sejarah sebagai dokumenter panjang India pertama yang masuk nominasi Academy Awards kategori Best Documentary Feature.

Karena merupakan dokumenter, para tokohnya bukan aktor profesional. Penonton mengikuti kehidupan nyata Meera Devi, Suneeta Prajapati, Shyamkali Devi, dan para jurnalis perempuan lain yang bekerja di Khabar Lahariya, sebuah media independen yang dijalankanperempuan dari komunitas Dalit, kelompok yang selama bertahun-tahun mengalami diskriminasi akibat sistem kasta di India.

Secara garis besar, Writing with Fire mengikuti perjalanan Khabar Lahariya yang sedang berada di persimpangan penting. Setelah lama hadir dalam bentuk surat kabar cetak, media tersebut harus bertransformasi ke platform digital. Perubahan ini bukan sebatas mengganti kertas dengan layar ponsel. Para jurnalisnya harus belajar menggunakan teknologi baru, memahami cara kerja media digital, merekam video, mengelola media sosial, hingga bersaing dalam lanskap informasi yang bergerak sangat cepat.

Di tengah proses itu, mereka tetap menjalankan tugas utama sebagai wartawan. Mereka meliput kasus kekerasan terhadap perempuan, korupsi, konflik sosial, ketidakadilan hukum, hingga berbagai persoalan masyarakat yang sering luput dari perhatian media besar. Namun di saat yang sama, mereka juga harus menghadapi tantangan yang jauh lebih personal: budaya patriarki, tekanan keluarga, dan stigma sosial yang terus membayangi kehidupan mereka.

Sekilas, kisahnya merupakan dokumenter tentang dunia jurnalistik. Namun menurutku, membaca Writing with Fire hanya sebagai film tentang wartawan justru membuat kita kehilangan lapisan paling menarik dari keseluruhan ceritanya.

Film ini sebenarnya berbicara tentang siapa yang berhak bertanya, yang layak didengar, dan siapa yang selama ini sengaja dibuat nggak terlihat.

Sepanjang film, kita melihat para tokoh utama bukan berasal dari kelompok yang terbiasa mendapat panggung. Mereka bukan politisi, bukan pula pengusaha besar maupun figur publik dengan akses luas. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering berada di posisi yang suaranya dianggap kurang penting.

Ketika Meera dan rekan-rekannya menjadi wartawan, mereka sebenarnya nggak hanya sedang mencari berita. Mereka sedang merebut sesuatu yang jauh lebih mendasar: hak untuk bertanya.

Bagi banyak orang, bertanya mungkin terdengar mudah. Namun dalam masyarakat yang masih dipengaruhi hierarki sosial, kasta, dan patriarki, kemampuan untuk mengajukan pertanyaan bisa menjadi bentuk kekuasaan tersendiri.

Siapa yang boleh mempertanyakan pejabat, meminta penjelasan dari aparat, dan siapa yang berhak mendatangi lokasi konflik termasuk meminta jawaban?

Film ini memperlihatkan selama bertahun-tahun, hak tersebut lebih sering dipegang kelompok tertentu. Ketika perempuan Dalit mulai mengambil peran itu, situasinya berubah. Mereka bukan lagi objek cerita, tapi menjadi pihak yang menentukan cerita. Perubahan posisi inilah yang menurutku menjadi jantung emosional filmnya.

Ada satu hal yang terus aku pikirkan setelah menontonnya. Banyak film tentang perjuangan biasanya fokus pada kemenangan besar di akhir cerita. Tokohnya berhasil mengalahkan sistem, mengubah keadaan, atau menciptakan revolusi yang nyata. Film ini nggak berjalan seperti itu.

Bahkan menjelang akhir, banyak persoalan yang tetap terasa rumit. Ketidakadilan masih ada. Diskriminasi belum hilang. Hambatan sosial tetap berdiri di tempatnya.

Bisa dibilang, Film Writing with Fire nggak menawarkan fantasi semua masalah bisa selesai dalam satu gerakan heroik. Film ini lebih tertarik menunjukkan perubahan sering dimulai dari sesuatu yang jauh lebih kecil. Yakni keberanian untuk berbicara, hadir, dan nggak bungkam. 

Di banyak tempat, termasuk di era media sosial saat ini, persoalan terbesar seringkali bukan kurangnya informasi. Persoalan terbesarnya adalah siapa yang mendapat kesempatan untuk berbicara dan siapa yang terus-menerus diabaikan.

Ujung-ujungnya aku melihat film ini sebagai kisah tentang orang-orang yang selama hidupnya nggak diberi mikrofon, lalu memutuskan untuk membuat mikrofon mereka sendiri.

Dan ketika akhirnya mereka berbicara, dunia nggak lagi bisa berpura-pura nggak mendengar. Sekali-kali, cobalah tonton film macam dokumenter seperti ini, Sobat Yoursay. Kamu bisa cek KlikFilm, ya. Selamat nonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda