Ulasan

Membaca Matilda di Era Modern: Masihkah Kita Mendengarkan Anak?

Membaca Matilda di Era Modern: Masihkah Kita Mendengarkan Anak?
Matilda (Dok.Pribadi/Oktavia)

Membaca buku ini tuh seperti sedang membaca surat cinta Roald Dahl untuk anak-anak yang gemar membaca. Sebenarnya, nggak banyak buku anak yang mampu dinikmati oleh pembaca lintas generasi. Namun, Matilda karya Roald Dahl mungkin salah satu pengecualian.

Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan menjadi salah satu karya Roald Dahl yang paling populer. Sekilas, Matilda tampak seperti dongeng anak biasa tentang seorang gadis kecil yang memiliki kekuatan super.

Namun, di balik kisah fantasinya, novel ini menyimpan pesan yang kuat tentang pentingnya pendidikan, kecintaan terhadap membaca, keberanian melawan ketidakadilan, dan kebutuhan anak untuk mendapatkan kasih sayang yang layak.

Sinopsis

Tokoh utama novel ini adalah Matilda Wormwood, seorang anak perempuan yang luar biasa cerdas. Bahkan sebelum berusia lima tahun, ia sudah mampu membaca buku-buku karya penulis besar seperti Charles Dickens, Ernest Hemingway, Rudyard Kipling, dan John Steinbeck. Kemampuan intelektualnya jauh melampaui anak-anak seusianya.

Ironisnya, kecerdasan Matilda tidak pernah dihargai oleh keluarganya sendiri.

Ayahnya, Mr. Wormwood, adalah pedagang mobil bekas yang gemar menipu pelanggan demi keuntungan pribadi. Ia memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang tidak penting dan lebih bangga pada uang yang diperolehnya secara curang. Sementara itu, Mrs. Wormwood lebih memilih menghabiskan waktunya menonton televisi dan bermain bingo daripada memperhatikan anak-anaknya. Bahkan kakak Matilda, Michael, yang tidak memiliki prestasi istimewa justru mendapat perhatian lebih besar dibanding dirinya.

Dalam keluarga yang mengagungkan televisi dan menganggap membaca sebagai kegiatan membosankan, Matilda menemukan pelariannya sendiri: perpustakaan.

Di sanalah ia menghabiskan banyak waktu membaca berbagai buku yang membuka jendela dunia baginya. Kehadiran perpustakaan dalam cerita ini menjadi simbol penting bahwa pendidikan dan pengetahuan dapat menjadi jalan keluar dari lingkungan yang tidak mendukung.

Harapan baru muncul ketika Matilda mulai bersekolah. Di sekolah, ia bertemu dengan Miss Honey, seorang guru yang baik hati, perhatian, dan mampu melihat potensi luar biasa yang dimiliki Matilda. Berbeda dengan orang tua Matilda yang selalu meremehkannya, Miss Honey memberikan dukungan dan penghargaan yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak berbakat.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung tanpa hambatan.

Sekolah Matilda dipimpin oleh kepala sekolah yang sangat ditakuti, Miss Trunchbull. Karakter ini menjadi salah satu tokoh antagonis paling ikonik dalam sastra anak. Miss Trunchbull digambarkan sebagai sosok yang kejam, kasar, dan gemar menghukum murid-murid dengan cara yang tidak masuk akal. Ia melempar anak-anak, mempermalukan mereka di depan umum, dan menggunakan ketakutan sebagai alat untuk mengendalikan sekolah.

Meski digambarkan secara hiperbolis dan absurd, karakter Miss Trunchbull sebenarnya merepresentasikan bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang sering ditemukan dalam kehidupan nyata. Melalui tokoh ini, Roald Dahl menunjukkan bagaimana kekuasaan yang tidak disertai empati dapat berubah menjadi alat penindasan.

Konflik cerita semakin menarik ketika Matilda menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan telekinetik, yaitu kekuatan untuk menggerakkan benda hanya dengan pikirannya. Kemampuan tersebut muncul seiring dengan tekanan emosional yang selama ini ia alami.

Kelebihan dan Kekurangan

Kecerdasan, keberanian, dan rasa keadilan Matildalah yang sebenarnya menjadi senjata terkuatnya. Kekuatan telekinetik hanya berfungsi sebagai simbol bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang dapat berkembang ketika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat.

Salah satu alasan mengapa Matilda tetap relevan hingga sekarang adalah kemampuannya mengangkat isu-isu serius melalui cara yang ringan dan menghibur. Novel ini berbicara tentang pengabaian anak, pentingnya pendidikan, ketimpangan kekuasaan, hingga hak anak untuk dihargai sebagai individu.

Roald Dahl juga berhasil menciptakan dunia yang penuh humor, imajinasi liar, dan karakter-karakter eksentrik yang sulit dilupakan. Meskipun beberapa adegannya terasa berlebihan dan mustahil terjadi di dunia nyata, justru di situlah letak daya tariknya.

Pesan Moral

Pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang anak-anak, di mana orang dewasa bisa tampak seperti raksasa menakutkan dan keberanian sekecil apa pun dapat mengubah segalanya.

Pada akhirnya, Matilda bukan sekadar novel anak tentang seorang gadis jenius berkekuatan super. Ini adalah kisah tentang seorang anak yang menolak menyerah meski diremehkan oleh keluarga dan lingkungannya.

Melalui kecerdasan, kecintaan terhadap buku, dan keberanian melawan ketidakadilan, Matilda mengajarkan bahwa kekuatan terbesar manusia sering kali bukan berasal dari kemampuan luar biasa, melainkan dari keberanian untuk menjadi diri sendiri dan memperjuangkan apa yang benar.

Identitas Buku

  • Judul: Matilda
  • Penulis: Roald Dahl
  • Ilustrator: Quentin Blake
  • Tahun Terbit: Januari 2010
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: Sekitar 264 halaman 
  • ISBN: 9789795111672
  • Kategori: Fiksi, Buku Anak

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda