Ulasan

Review The Ugly Stepsister: Reinterpretasi Gelap Cinderella yang Visceral!

Review The Ugly Stepsister: Reinterpretasi Gelap Cinderella yang Visceral!
Poster film The Ugly Stepsister (IMDb)

The Ugly Stepsister, atau dikenal dengan judul asli Den stygge stesøsteren, merupakan film horor tubuh (body horror) Norwegia yang disutradarai dan ditulis oleh Emilie Blichfeldt dalam debut feature-nya.

Dirilis pada tahun 2025, film ini menyajikan reinterpretasi gelap dan satir dari dongeng klasik Cinderella karya Brothers Grimm.

Berbeda dari versi tradisional yang memusatkan perhatian pada tokoh utama yang cantik dan baik hati, film ini mengangkat perspektif salah satu saudari tiri yang jelek, yaitu Elvira (diperankan oleh Lea Myren).

Dengan durasi sekitar 109 menit, film ini menggabungkan elemen black comedy, horor visceral, dan kritik sosial yang tajam terhadap standar kecantikan patriarkal serta tekanan masyarakat terhadap penampilan fisik perempuan.

Perjalanan Dramatis Elvira Menuju Kecantikan

Salah satu adegan di film The Ugly Stepsister (IMDb)
Salah satu adegan di film The Ugly Stepsister (IMDb)

Cerita berawal dari keluarga yang baru saja dibentuk melalui pernikahan ibu Elvira, Rebekka (Ane Dahl Torp), dengan seorang duda kaya yang memiliki putri cantik bernama Agnes (Thea Sofie Loch Næss), yang kemudian dikenal sebagai Cinderella.

Setelah ayah tiri meninggal, keluarga ini menghadapi kemiskinan. Ketika Pangeran Julian mengumumkan pesta dansa untuk mencari istri, Rebekka melihat peluang untuk menikahkan Elvira dengan pangeran demi menyelamatkan status sosial mereka.

Elvira, yang terobsesi dengan kecantikan dan romansa ideal dari buku-buku dongeng, rela melakukan segala cara—termasuk prosedur medis ekstrem dan mutilasi diri—untuk bersaing dengan Agnes yang secara alami cantik.

Review Film The Ugly Stepsister

Salah satu adegan di film The Ugly Stepsister (IMDb)
Salah satu adegan di film The Ugly Stepsister (IMDb)

Blichfeldt berhasil menyusun narasi yang elegan secara visual namun brutal dalam eksekusi. Sinematografi yang indah dengan kostum dan set ala dongeng gothic kontras tajam dengan adegan-adegan gore yang mengerikan.

Film ini mengeksplorasi tema body image, internalisasi misogini, dan absurditas pencarian kecantikan sempurna. Elvira bukanlah antagonis murni; ia adalah korban sekaligus pelaku dalam sistem yang menindas.

Penampilan Lea Myren sangat memukau, menyampaikan penderitaan emosional dan fisik dengan intensitas yang membuatku ikut merasakan keputusasaan karakter tersebut.

Film ini sering dibandingkan dengan The Substance (2024) karena kesamaan tema body horror, namun pendekatan Blichfeldt lebih berakar pada tradisi dongeng Grimm yang gelap.

Secara keseluruhan, The Ugly Stepsister meraih pujian tinggi dari kritikus, dengan rating 96% di Rotten Tomatoes. Banyak yang memuji aplikasi gore yang masterful dan subversi terhadap narasi fairy tale klasik.

Akan tetapi, film ini tidak cocok untuk semua penonton karena kekerasan grafis yang ekstrem, termasuk mutilasi, cacing pita, dan prosedur bedah primitif.

Buat kamu penggemar horor yang menyukai elemen intelektual dan visual yang kuat, film ini adalah pengalaman yang tak terlupakan sekaligus mengganggu.

Film ini didistribusikan oleh KlikFilm untuk penayangan di bioskop Indonesia pada 28 Mei 2025. Saat ini, film tersedia untuk disewa (rent) di platform KlikFilm dengan harga terjangkau sekitar IDR 30.000 per bulan atau sesuai paket. Untuk informasi terkini, kusarankan memeriksa aplikasi KlikFilm secara langsung ya, Sobat Yoursay.

Salah satu adegan paling dramatis adalah proses mutilasi kaki Elvira. Terinspirasi dari versi Grimm asli di mana saudari tiri memotong jari kaki untuk memasukkan kaki ke sepatu kaca, adegan ini dieksekusi dengan detail grafis yang mengerikan.

Rebekka yang dingin membantu memotong jari kaki Elvira yang salah, diikuti dengan upaya putus asa Elvira sendiri menggunakan pisau daging.

Adegan ini tidak hanya menampilkan darah dan rasa sakit fisik yang ekstrem, tetapi juga mengungkap dinamika toksik antara ibu dan anak, di mana ambisi sosial mengalahkan kasih sayang.

Ketegangan emosional mencapai puncak saat Elvira, dengan kaki yang hancur, berusaha berjalan dan akhirnya jatuh dari tangga, mematahkan hidung dan giginya. Adegan ini melambangkan kehancuran total harapan dan tubuhnya.

Untuk adegan yang paling kuingat dan paling menjijikkan adalah sekuel de-worming atau pengeluaran cacing pita. Setelah menelan obat untuk menurunkan berat badan secara drastis, Elvira menderita infestasi cacing.

Saudarinya, Alma, menarik cacing panjang yang keluar dari mulut Elvira dalam adegan panjang yang penuh humor hitam sekaligus mengerikan.

Saat menontonnya aku pun sempat mual dan tertawa gugup. Adegan ini menjadi metafor kuat tentang harga kecantikan yang literally memakan dari dalam.

Selain itu, prosedur bedah mata—di mana bulu mata palsu dijahit langsung ke kelopak mata—juga tak terlupakan karena kedekatannya dengan horor psikologis dan fisik yang intim.

Suasana pesta dansa mencapai puncaknya dengan ketegangan akhir yang begitu dramatis; impian Elvira hancur berkeping-keping saat sang Pangeran menjatuhkan pilihannya pada Agnes.

Visual darah, patah hati, dan penerimaan tragis Elvira meninggalkan kesan mendalam. Adegan-adegan ini tidak hanya menghibur secara horor, tetapi juga memprovokasi refleksi tentang masyarakat yang menilai perempuan berdasarkan penampilan.

Jadi kesimpulannya, The Ugly Stepsister adalah karya debut yang ambisius dan sukses. Film ini mengingatkan bahwa dongeng klasik sering menyembunyikan kegelapan yang dalam.

Dengan elemen horor yang inovatif dan kritik sosial yang relevan, film ini layak ditonton oleh mereka yang siap menghadapi ketidaknyamanan untuk mendapatkan wawasan mendalam.

Rekomendasi khusus untuk pencinta genre body horror dan fairy tale subversion. Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda