Ulasan
Review Backrooms: Sajikan Perjalanan Menyeramkan ke Dimensi Paralel Lain
Film Backrooms, yang dirilis oleh A24 pada 29 Mei 2026 di Amerika Serikat dan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 10 Juni 2026, merupakan adaptasi panjang dari fenomena creepypasta internet yang populer.
Disutradarai oleh Kane Parsons yang dikenal sebagai Kane Pixels, seorang sineas muda berbakat yang memulai karier melalui seri found footage di YouTube, film ini menggabungkan elemen horor psikologis, fiksi ilmiah, dan liminal horror dengan cara yang mengesankan.
Dengan durasi sekitar 111 menit, Backrooms menawarkan pengalaman yang mendalam, penuh atmosfer, serta refleksi tentang ingatan, kegagalan, dan realitas yang terdistorsi.
Sebuah Metafor Kegagalan Hidup dan Realitas yang Retak

Cerita berlatar tahun 1990 mengikuti Clark (Chiwetel Ejiofor), seorang manajer toko furnitur bernama Cap’n Clark’s Ottoman Empire yang sedang mengalami krisis pribadi. Setelah perceraian yang menyakitkan dan kebiasaan minum berlebih, Clark menemukan portal misterius di basement toko furniturnya.
Pintu itu membawanya ke dimensi paralel yang dikenal sebagai Backrooms: labirin tak berujung dengan dinding kuning mono, karpet lembab, lampu neon berdengung, dan ruangan-ruangan yang terasa familiar akan tetapi salah.
Clark menjadi terobsesi dengan tempat itu, sementara terapisnya, Dr. Mary Kline (Renate Reinsve), terpaksa memasuki dunia yang sama untuk menyelamatkannya.
Film ini berhasil menangkap esensi creepypasta asli sambil memperluasnya menjadi narasi karakter yang kuat. Parsons, yang baru berusia sekitar 20 tahun saat proyek ini diumumkan, menunjukkan visi matang melalui desain produksi yang luar biasa.
Ruang-ruang Backrooms terasa hidup dan mengancam, dengan elemen arsitektur yang semakin absurd semakin dalam penjelajahan—mulai dari koridor panjang hingga ruangan yang menyerupai versi cacat dari ingatan pribadi karakter.
Aktor utama memberikan penampilan solid: Ejiofor menyampaikan kerapuhan dan amarah Clark dengan nuansa mendalam, sementara Reinsve menghadirkan keteguhan Mary yang dihantui trauma masa lalu. Pendukung seperti Finn Bennett, Lukita Maxwell, dan Mark Duplass turut memperkaya dinamika kelompok.
Review Film Backrooms

Salah satu kekuatan utama film adalah pembangunan atmosfer. Backrooms bukanlah horor yang mengandalkan jump scare murahan, melainkan dread yang perlahan merayap melalui ketidakpastian liminal spaces. Suara dengung lampu neon, perspektif yang membingungkan, dan rasa disorientasi menciptakan ketegangan konstan.
Tema film mengeksplorasi bagaimana ingatan dan kegagalan pribadi dapat membentuk realitas kita. Backrooms berfungsi sebagai metafor untuk jebakan pikiran: ruangan-ruangan yang terbentuk dari versi setengah ingat atau terdistorsi dari kehidupan sehari-hari, termasuk elemen dari toko furnitur Clark dan masa kecil Mary. Ini membuatku merenungkan pola hidup yang berulang dan sulit dihindari.
Adegan paling menyeramkan melibatkan penemuan bertahap tentang entitas di dalam Backrooms. Salah satu yang paling mencekam adalah sekuel penurunan kamera atau eksplorasi dengan tali, di mana asisten Clark melihat sesuatu bergerak di kegelapan. Ketegangan meningkat saat ia ditarik ke bawah, disertai jejak darah dan sekilas sosok yang mengerikan. Adegan ini mengingatkan pada elemen found footage klasik namun dieksekusi dengan lebih imersif, memanfaatkan ruang sempit dan ketidakpastian untuk menciptakan kepanikan murni.
Adegan yang paling melekat di ingatan dan ikonik adalah pertempuran sengit melawan Captain Clark—sesosok entitas bajak laut raksasa yang menjadi wujud karikatural dari kemarahan serta kegagalan Clark sebagai maskot toko furniturnya.
Makhluk ini muncul sebagai versi grotesk, dengan gigitan brutal yang berdarah dan mengejar Mary melalui labirin.
Adegan ini tidak hanya visualnya mencengangkan dan disturbing, tetapi juga simbolis kuat, mewakili bagaimana sisi gelap diri kita dapat memakan eksistensi kita sendiri.
Kombinasi antara horor tubuh, psikologis, dan absurditasnya membuatnya sulit dilupakan lama setelah kredit bergulir. Elemen lain seperti still lifes atau versi distorted dari manusia, serta ruangan yang mereplikasi ingatan Mary, turut meninggalkan kesan mendalam tentang ketakutan akan kehilangan kendali atas realitas.
Jadi pada akhirnya, Backrooms adalah debut feature yang mengesankan dari Parsons. Meski narasi di dunia nyata terkadang kurang halus dibandingkan bagian Backrooms-nya, film ini unggul dalam menciptakan pengalaman sensorik yang unik. Ia menghormati asal-usul viralnya sambil menambahkan kedalaman emosional.
Buat kamu penggemar horor atmosferik seperti Skinamarink atau karya David Lynch, ini adalah sajian wajib. Rating sensor 17+ di Indonesia sesuai karena kekerasan grafis dan bahasa kasar, meski kekuatannya justru terletak pada ketakutan subtil.
Dengan tayang perdana di Indonesia mulai tanggal 10 Juni 2026 di jaringan bioskop seperti CGV, XXI, dan Cinepolis, Backrooms siap menjadi fenomena baru.
Film ini membuktikan bahwa konsep sederhana dari internet dapat diubah menjadi horor sinematik berkualitas tinggi. Setelah menonton, mungkin kamu akan merasa ragu memasuki ruang bawah tanah atau koridor kosong, karena Backrooms telah meninggalkan jejak abadi dalam imajinasi kolektif. Sangat aku rekomendasikan untuk yang mencari pengalaman horor intelektual dan visual yang memukau. Rating pribadi: 8.5/10.