Ulasan

Membongkar Perempuan di Titik Nol: Kisah Nyata yang Lebih Ngilu dari Fiksi

Membongkar Perempuan di Titik Nol: Kisah Nyata yang Lebih Ngilu dari Fiksi
Ulasan Novel Perempuan di Titik Nol (Dok. Pribadi)

Dari balik sel penjara, Firdaus, seorang wanita yang divonis gantung karena telah membunuh seorang germo, menceritakan lika-liku kehidupannya. Mulai dari masa kecilnya di desa. hingga ia menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo.

Firdaus menyambut gembira hukuman gantung itu. Bahkan dengan tegas ia menolak grasi kepada presiden yang diusulkan oleh dokter penjara. Menurut Firdaus, vonis itu justru merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran sejati. Ironis memang.

Melalui kisah pelacur ini, kita justru bisa menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum lelaki. Sebuah kritik sosial yang keras dan pedas.

Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Perempuan di Titik Nol: Kritis Pedas dan Keras

Buku yang ditulis oleh Nawal el-Saadawi, seorang dokter berkebangsaan Mesir, mengisahkan jalan hidup seorang perempuan bernama Firdaus yang sepanjang hidupnya selalu berhadapan dengan kekerasan terhadap perempuan. Sejak kecil, Firdaus bahkan tidak memiliki memori yang indah dengan ayahnya.

Hal yang terpatri dalam ingatan Firdaus justru adegan ketika ayahnya menampar ibunya. Belum lagi pamannya yang adalah seorang terpelajar di universitas, melakukan hal tidak senonoh dan tidak beradab padanya.

Tumbuh besar dalam lingkungan demikian membuat Firdaus tidak mengenal arti kebebasan dan kasih sayang. Saat beranjak dewasa. ia diknikahan dengan seorang ulama tua dengan selisih usia hampir ang lebih 40 tahun dengannya. Lagi-lagi Firdaus tidak diperlakukan manusiawi.

Hidupnya bukanlah miliknya. Hidupnya terikat pada peran sebagai istri yang harus berbakti kepada suami. Kebebasan tidak ada di dalam kamus Firdaus. Pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya, makan yang dijatah, hingga doktrin bahwa suami memukul istri adalah hal biasa membuat Firdaus tidak lagi tahan dan memilih untuk kabur.

"Dia menjawab, bahwa justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengizinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna." Halaman 70.

Saat kabur, ia bertemu dengan seorang wanita. Rupanya ia adalah semacam madam yang memiliki pekerja seks perempuan. Ia pun mengajari Firdaus bagaimana cara menghasilkan uang dengan memanfaatkan tubuh. Ia menanamkan pemahaman bahwa tubuh perempan bisa dihargai dengan nilai uang yang tinggi.

Namun, Firdaus pun akhirnya menyadari bahwa tubuhnya tetap bukan miliknya, melainkan milik majikannya itu. Ia pun memutuskan untuk kembali kabur dan memilih jalan hidupnya sendiri sebagai seorang pelacur yang bebas. Ia bebas menentukan tarif dirinya sendiri, menolak semua lelaki yang tidak ia inginkan, dan menerima setiap lelaki yang ia mau.

"Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang paling kejam untuk wanita." Halaman 143.

Sayangnya hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang Firdaus inginkan. Perempuan malang ini justru berakhir di sebuah penjara dengan hukuman gantung karena telah membunuh seorang germo yang mencoba membunuhnya lebih dulu.

Perempuan di Titik Nol adalah karya sastra Arab modern yang mencoba menggambarkan kebrutalan sikap pria terhadap wanita. Bagaimana cara pria menganggap wanita tidak lebih dari sekadar 'objek' pemuas nafsu belaka.

Menurutku pribadi, buku ini akan membuka wawasan kita semua bahwa sepertinya hampir di seluruh belahan bumi manapun, dari latar belakang suku dan agama apapun, masih banyak wanita yang menjadi korban patriarki.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda