Ulasan

Review The Smashing Machine: Kisah Nyata Paling Emosional di Ring MMA Dunia

Review The Smashing Machine: Kisah Nyata Paling Emosional di Ring MMA Dunia
Poster film The Smashing Machine (IMDb)

The Smashing Machine (2025) merupakan film biografi olahraga yang disutradarai dan ditulis oleh Benny Safdie, yang dikenal dengan pendekatan sinematik intens dan observasionalnya. Film ini mengisahkan perjalanan Mark Kerr (diperankan Dwayne Johnson), seorang petarung MMA dan UFC legendaris pada akhir 1990-an.

Dengan durasi sekitar 123 menit, film bergenre drama olahraga, aksi, dan biografi ini mengeksplorasi ambisi, kecanduan, serta kerapuhan manusia di balik dunia pertarungan yang brutal. Dirilis secara teatrikal pada 3 Oktober 2025 oleh A24 di Amerika Serikat, film ini mendapat respons campuran namun dipuji atas penampilan transformatif Johnson.

Ketika Ring Menjadi Arena Hidup dan Mati

Salah satu adegan di film The Smashing Machine (IMDb)
Salah satu adegan di film The Smashing Machine (IMDb)

Cerita berfokus pada periode 1997-2000, saat Kerr mencapai puncak karier sebagai petarung tak terkalahkan sebelum menghadapi tantangan pribadi yang mengancam segalanya. Kerr digambarkan sebagai sosok raksasa lembut di luar ring—ramah, sensitif, dan penuh hormat—namun di dalam ring ia menjadi mesin penghancur yang tak kenal ampun.

Film tidak mengikuti formula biografi olahraga konvensional yang penuh kemenangan heroik. Sebaliknya, Safdie menyajikan narasi yang gritty, observasional, dan kadang anti-klise, dengan pengambilan gambar pertarungan dari jarak jauh atau sudut atas, disertai musik pop atau rock dan skor jazz yang kontras untuk mengingatkanku bahwa ini adalah rekonstruksi sinematik.

Review Film The Smashing Machine

Salah satu adegan di film The Smashing Machine (IMDb)
Salah satu adegan di film The Smashing Machine (IMDb)

Dwayne Johnson menghadirkan penampilan terbaik dalam kariernya. Dengan wig, transformasi fisik, dan ekspresi mata yang penuh kedalaman emosional, ia berhasil melampaui citra The Rock menjadi sosok Kerr yang autentik—seorang atlet yang bergulat dengan tekanan kemenangan, rasa sakit fisik, dan kecanduan opioid.

Emily Blunt sebagai Dawn Staples, pasangan Kerr, memberikan kontras kuat melalui dinamika hubungan yang toksik namun penuh gairah. Pendukung seperti Ryan Bader (sebagai Mark Coleman) menambah nuansa autentisitas dunia MMA. Meski naskah kurang mendalam dalam eksplorasi latar belakang, chemistry Johnson-Blunt dan adegan pertarungan yang brutal berhasil mempertahankan ketegangan.

Secara teknis, film ini kuat. Sinematografi Safdie menekankan isolasi dan tekanan mental Kerr, sementara editing pertarungan menyampaikan kekerasan tanpa sensasional berlebih. Skor musik, termasuk penggunaan Jungleland milik Bruce Springsteen, menjadi sorotan dalam adegan klimaks emosional. Akan tetapi, sebagai biografi, film ini lebih berfokus pada potret psikologis daripada kronologi lengkap, sehingga aku sendiri merasa narasinya agak datar atau kurang memuaskan secara dramatik. Rating IMDb sekitar 6.3 dan Rotten Tomatoes 71% mencerminkan kekuatan akting di tengah kritik terhadap struktur cerita.

Film ini tersedia untuk disewa atau dibeli di Prime Video mulai 4 November 2025 secara global, termasuk platform digital seperti Prime Video. Di Indonesia, mengingat distribusi A24 dan Amazon, film sudah dapat diakses melalui Prime Video sejak akhir 2025 atau awal 2026, tergantung lisensi regional. Saat ini, penonton di Indonesia dapat memeriksa katalog Prime Video untuk opsi streaming, rental, atau pembelian. Pastikan akun Prime aktif untuk akses penuh ya, Sobat Yoursay.

Salah satu adegan paling emosional adalah saat Kerr overdosis dan dirawat di rumah sakit. Di sana, ia berinteraksi dengan temannya dalam keadaan setengah sadar, kemudian menarik seprai menutupi kepalanya sambil menangis. Adegan ini menyentuh karena Johnson menyuntikkan pengalaman pribadi—terkait ayahnya yang alkoholik dan ibunya yang sakit—menciptakan momen raw dan autentik yang membuatku ikut merasakan kerapuhan di balik sosok kuat. Ini bukan hanya soal kecanduan, melainkan kesepian dan kegagalan menerima kelemahan diri.

Untuk adegan paling berkesan lainnya adalah pertengkaran hebat antara Mark dan Dawn yang diiringi Jungleland Springsteen. Mulai dari musik diegetik di rumah hingga menjadi nondiegetik saat kekerasan emosional dan fisik memuncak, adegan ini menggambarkan kehancuran hubungan mereka dengan intensitas luar biasa. Suara organ yang menggelegar menyimbolkan kekacauan batin, membuatnya tak terlupakan sebagai klimaks emosional sekaligus visual yang powerful. Adegan ini menonjol karena menggabungkan elemen pribadi, musik, dan akting prima, meninggalkan kesan mendalam tentang biaya kesuksesan.

Jadi bisa kusimpulkan, The Smashing Machine adalah tontonan yang kuat bagi penggemar MMA dan drama karakter. Meski bukan film olahraga epik penuh inspirasi, ia berhasil menyoroti sisi gelap ambisi dan kecanduan dengan kejujuran. Penampilan Johnson layak dipuji sebagai bukti evolusi aktingnya. Rekomendasi untuk penonton dewasa yang mencari cerita autentik di balik sorotan. Dengan kekuatan emosional dan visualnya, film ini meninggalkan bekas panjang meski tidak sempurna. Rating pribadi: 7/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda