Ulasan

Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta: Teman Kontemplasi di Larut Malam

Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta: Teman Kontemplasi di Larut Malam
Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta by Mohammad Ali Ma’ruf. (mojokstore)

Membahas perihal dinamika cinta memang sebuah labirin yang tidak akan pernah menemukan ujungnya. Di tengah lautan literatur romansa yang membanjiri rak-rak toko buku, karya terbaru dari Mohammad Ali Ma’ruf yang bertajuk Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta hadir dengan daya pikat personalnya yang sangat distingtif.

Dibungkus dengan desain sampul berwarna biru gelap yang minimalis sekaligus elegan, buku ini seolah-olah bertindak sebagai kotak pandora yang menyimpan banyak rahasia emosional, siap untuk dibuka oleh siapa saja yang saat ini sedang bergelut dan bertarung dengan perasaannya sendiri.

Jujur saja, ketika pertama kali pandangan saya berserobok dan jemari ini menggenggam buku ini, sebuah prasangka skeptis langsung melintas di kepala.

Saya sempat berasumsi dan menghakimi sepihak, "Ah, ini pasti tipikal buku kumpulan narasi patah hati yang hanya berisi keluhan melankolis yang repetitif seperti biasanya." Namun, begitu saya mulai membuka lembar pertama dan menuntaskannya hingga kalimat terakhir, prasangka buruk tersebut seketika runtuh secara total.

Mohammad Ali Ma'ruf terbukti menyajikan sesuatu yang jauh lebih substansial, filosofis, dan mendalam daripada sekadar ratapan sentimental seorang pencinta yang kalah.

Anatomi Hubungan Realistis dan Seni Menerima Luka

Melalui jajaran prosa dan kumpulan tulisan pendeknya, Ali Ma'ruf secara berani memilih untuk tidak menjual angan-angan utopis yang manis tentang cinta, tidak pula mendramatisasi kesedihan secara berlebihan.

Sebaliknya, ia justru menyodorkan cermin realitas yang jernih kepada pembaca: menunjukkan bahwa di dalam sebuah hubungan interpersonal yang nyata, kehadiran konflik domestik, letup-letup kekhawatiran, dan benturan perbedaan prinsip adalah sebuah keniscayaan yang wajar terjadi.

Diksi “Tidak apa-apa sebab kita saling cinta” yang dipilih sebagai judul besar seolah-olah menjelma menjadi mantra penenang sekaligus pengingat yang sangat kokoh.

Pesan implisitnya sangat tegas: asalkan kedua belah pihak memiliki fondasi perasaan dan komitmen yang setara, segala kerikil masalah dalam hubungan sebenarnya memiliki jalan keluar untuk dilalui bersama.

Penulis dengan sangat taktis berhasil mengartikulasikan bahwa mencintai seseorang secara dewasa berarti telah menyatakan kesiapan mutlak untuk menerima keseluruhan paket diri mereka, termasuk di dalamnya adalah menerima segala bentuk kekurangan organik dan bilur luka masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.

Teman Kontemplasi Terbaik untuk Jiwa yang Kerap Overthinking

Secara fisik, buku ini dikemas dengan ketebalan yang sangat proporsional dan tidak terlalu tebal. Lembaran-lembarannya yang ringkas memungkinkan pembaca untuk menyelesaikan seluruh isi buku hanya dalam satu kali duduk (one-sitting reading).

Ditambah lagi dengan gaya kepenulisan Ali Ma'ruf yang mengalir ringan, membuat buku ini tidak menuntut konsentrasi teoretis yang berat atau melelahkan dari pembacanya.

Secara pribadi, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dikonsumsi pada waktu-waktu tenang, terutama saat malam hari ketika intensitas kebisingan kota mulai mereda. Bagi generasi muda masa kini yang kerap kali terjebak dalam pusaran pemikiran berlebih (overthinking) pasca-jam dua belas malam, buku ini mampu mengondisikan ruang psikologis yang sangat pas.

Cara penulis menyampaikan isi pesannya terasa begitu puitis namun tetap membumi dan relevan, seolah-olah ada sosok sahabat karib yang duduk di samping kita, menemani merenung membelah sunyinya malam.

Uniknya, bagi mereka yang saat ini sedang berada di fase patah hati yang akut, buku ini akan bertindak sebagai pisau bermata dua: ia bisa menjadi sangat bermanfaat, sekaligus teramat menyakitkan.

Di satu sisi, ia menawarkan diksi yang ramah untuk mendekap kesendirianmu. Namun di sisi lain, artikulasi kalimatnya yang sangat presisi memotret kenyataan lapangan justru berpotensi membuat rasa perih patah hati itu menembus lapisan terdalam.

Kendati demikian, rasa sakit ini bukanlah destruktif, melainkan sebuah proses katarsis atau pembersihan jiwa (catharsis) yang memang mutlak dibutuhkan demi mencapai pemulihan emosional yang paripurna.

Benang Merah dari Sang Penulis dan Catatan Akhir

Ketika saya membalikkan buku ini dan mengamati deskripsi pada bagian belakang jilidnya, saya menemukan fakta bibliografi yang menarik bahwa karya ini merupakan buku kedua dari sang penulis.

Buku debutnya yang berjudul Perihal Cinta Kita Semua Pemula tercatat telah mengudara sejak tahun 2019 silam. Keberhasilan Ali Ma'ruf dalam memberikan impresi dan kesan mendalam pada buku keduanya ini secara otomatis memantik rasa penasaran intelektual saya untuk berburu dan memasukkan buku pertamanya ke dalam daftar rencana bacaan (reading list) saya selanjutnya.

Secara keseluruhan, Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta adalah sebuah rekomendasi bacaan yang sangat otentik bagi siapa saja yang sedang dirundung lara patah hati dan membutuhkan asupan bacaan yang menenangkan untuk menemani malam-malam yang sepi.

Buku ini sukses menjalankan misinya: mengingatkan kita semua bahwa cinta yang dewasa sama sekali tidak pernah menuntut kesempurnaan yang semu, melainkan tentang bagaimana menyediakan ruang yang luas untuk saling bertumbuh, saling memaafkan, dan menerima apa adanya.

Identitas Buku:

  • Judul: Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta
  • Penulis: Mohammad Ali Ma'Ruf
  • Penerbit: Buku Mojok
  • Tahun Terbit: Cetakan pertama, November 2021
  • ISBN: 978-623-7284-67-3

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda