Cerita Fiksi
Petaka Cinta Lintas Planet: Kala Dahlan Menjadi Mak Comblang
Dahlan adalah definisi anomali berjalan di Universitas Tata Surya. Mahasiswa Jurusan Vokasi Pertanian yang "tersesat" di dalam FKIP, sebuah fakultas keguruan yang entah mengapa menaungi jurusan teknis bertani. Dahlan punya bakat alami yang jarang dimiliki orang lain: ia selalu berhasil membesar-besarkan masalah sepele hingga menjadi tragedi epik, tetapi justru menganggap remeh hal-hal yang sebenarnya krusial. Baginya, tugas akhir yang menumpuk bisa ia abaikan, tetapi satu pesan singkat dari seorang gadis yang tidak dibalas selama sepuluh menit bisa membuatnya mengalami krisis eksistensial selama tiga hari tiga malam.
Beberapa minggu terakhir, Dahlan mendadak berubah menjadi pujangga dadakan. Ia dimabuk kepayang oleh Idah, mahasiswi dari Universitas Neptunus. Baginya, Idah adalah takdir sehidup semati yang dikirim semesta untuk menyelamatkan hidupnya dari kebosanan menjadi mahasiswa vokasi di fakultas keguruan. Dahlan mulai mempraktikkan lirik lagu Sudah Jangan ke Jatinangor milik The Panas Dalam dengan sangat serius. Ia mulai memberikan buku-buku filsafat, cendera mata berupa gantungan kunci berbentuk tanaman, hingga meriset taktik "menguasai wanita" dari forum-forum internet yang isinya justru membuat orang normal geleng-geleng kepala.
Malam itu, di Warkop "Marilah Cerita", Dahlan duduk termenung, menatap gelas kopi susunya yang sudah dingin. Ia tidak peduli dengan kerumunan mahasiswa lain yang sedang tertawa atau suasana bising di sekelilingnya. Fajar dan Pane yang sedang asyik push rank sampai terganggu konsentrasinya karena Dahlan terus-menerus menghela napas seperti orang yang baru saja kehilangan harta karun.
"Lan, kalau mau melamun dan memproduksi oksigen berlebih, tolong jangan di depan hidungku," ujar Pane tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Wajahmu itu, lho, sudah kayak draf skripsi yang isinya cuma bab satu sampai bab tiga terus ditinggal pergi oleh dosen pembimbing. Tidak ada kemajuan, hanya menyisakan beban."
Dahlan menghela napas panjang, dramatis sekali, seolah-olah ia sedang memerankan tokoh utama dalam film tragedi klasik. "Kalian tidak paham. Idah itu bukan sekadar mahasiswi. Dia itu... mercusuar di tengah badai Neptunus. Bayangkan, dia kuliah di Neptunus, aku di Tata Surya. Jarak kita ini lebih jauh dari sekadar lintas kota, Pane! Ini adalah tentang keselarasan frekuensi cinta yang terbentur tembok geografi."
Mas Rio yang sedang membersihkan gelas di balik bar menyahut, tidak bisa menahan geli. "Mercusuar atau lampu jalan yang bakal mati kalau pulsanya habis? Jangan terlalu serius, Lan. Kau itu anak Vokasi Pertanian yang nyangkut di FKIP, duniamu saja sudah aneh, kenapa mau cari yang lebih aneh lagi di kampus sebelah? Ingat, di kampus Tata Surya saja kau sudah pusing, apalagi mengurus hati orang dari Neptunus."
"Aku baru saja beli buku Taktik Menaklukkan Hati Wanita buat dia, Mas. Buku itu harganya setara jatah kopi sasetku selama seminggu!" lanjut Dahlan mantap, seolah pengorbanan finansialnya adalah bukti cinta paling murni.
"Itu buku panduan atau buku petunjuk menjinakkan buaya?" celetuk Pak Hendra sambil terkekeh di sudut meja, matanya menatap tajam dari balik kepulan asap rokok hitamnya. "Dahlan, kau ini seperti mahasiswa baru yang baru kenal dunia organisasi. Terlalu bersemangat di awal, tetapi tidak sadar sedang masuk ke dalam perangkap yang kau buat sendiri."
Namun, drama Dahlan mencapai klimaksnya seminggu kemudian. Idah datang ke kampus Tata Surya, bukan untuk menemui Dahlan, melainkan untuk menitipkan pesan agar Dahlan memperkenalkannya kepada teman akrab Dahlan—tepatnya, dia mengincar Pane. Dahlan, yang selama ini merasa menjadi tokoh utama dalam drama romansa tersebut, seketika hancur lebur seperti bangunan tanpa fondasi.
Dahlan kembali ke warkop dengan tatapan kosong, seperti zombi yang baru saja kehilangan arah tujuan. Ia bahkan tidak memesan kopi, sebuah pemandangan langka di Warkop Marilah Cerita.
"Dia datang, Mas," gumam Dahlan dengan suara serak yang dipaksakan.
"Siapa? Idah? Terus, bagaimana? Jadi jadian?" tanya Fajar sambil menyimpan ponselnya, bersiap mendengarkan berita yang ia sangka akan membahagiakan.
"Dia nanya Pane. Dia mau kenalan sama Pane," jawab Dahlan lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Pane yang mendengar namanya disebut hampir tersedak rokoknya sendiri. Ia meletakkan ponselnya dengan kasar. "Hah? Gila! Kenapa jadi aku yang kena? Aku saja tidak pernah dengar nama dia, apalagi berniat memacari mahasiswi dari planet Neptunus itu!"
Warkop yang tadinya sunyi mendadak riuh. Bukannya simpati, Fajar, Pane, Mas Rio, dan Pak Hendra malah terbahak-bahak. Ini adalah hiburan terbaik bagi mereka setelah seharian berurusan dengan birokrasi kampus yang kaku dan tidak masuk akal.
"Wah, selamat, Lan! Kamu bukan cuma dipatahkan hatinya, tetapi juga dijadikan jembatan buat teman sendiri." Mas Rio tertawa paling keras, hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang.
Dahlan tidak membalas. Ia hanya menelungkupkan wajah di meja kayu yang retak itu. "Aku tidak mau makan, tidak mau minum. Hidupku berakhir. Ini adalah pengkhianatan paling epik di Universitas Tata Surya."
"Lan," Pak Hendra menepuk bahu Dahlan dengan santai, mencoba memberikan sedikit perspektif dewasa. "Dengar ya, kau ini kan selalu membesar-besarkan masalah. Dulu saja pas kau diterima di jurusan Vokasi Pertanian tetapi masuknya di FKIP, kau anggap itu tragedi Yunani Kuno. Padahal kau cuma tidak tahu arah jalan. Sekarang, kau dijadikan mak comblang tidak sengaja, kau anggap itu akhir dunia? Cinta itu cuma soal perspektif, dan perspektifmu sedang kotor."
"Masalahnya, Pak, dia minta buku-buku yang kubeli kemarin dibalikin ke dia lewat Pane," tambah Dahlan makin merana, suaranya teredam oleh meja.
"Sudah, sudah," Fajar menepuk punggung Dahlan dengan nada mengejek yang dibalut kebaikan. "Anggap saja kau sedang melakukan pengabdian masyarakat yang sesungguhnya. Kau mengabdi supaya Pane punya pacar. Itu jauh lebih berdampak daripada KKN yang cuma disuruh posting di Instagram. Katanya KKN itu pengabdian, tetapi tolok ukur berhasil atau tidaknya sebuah posko di mata kampus cuma dilihat dari seberapa aktif akun media sosial kelompok kami. Masa parameter pengabdian diukur dari jumlah unggahan Instagram, bukan dari seberapa besar dampak nyata mahasiswa terhadap warga sekitar? Kau sedang mengalami versi mini dari KKN tidak jelas itu, Lan."
"Tapi dia janji sehidup semati, Fajar!" seru Dahlan dengan sisa-sisa semangatnya.
"Itu cuma janji, Lan," sahut Pane sinis sambil menyalakan rokok baru. "Bahkan rektorat saja janji fasilitas kampus mau diperbaiki, tetapi nyatanya cuma nambahin kolam ikan di depan gedung buat pencitraan. Kalau rektorat saja bisa bohong, apalagi mahasiswi yang cuma ingin kenalan sama orang lain lewat perantara."
Dahlan akhirnya menegakkan kepala, menatap teman-temannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di Warkop Marilah Cerita, kisah cinta Dahlan hanyalah sebutir debu di antara obrolan tentang politik, kampus, dan keberadaan Tuhan. Malam itu, Dahlan tetap menjadi Dahlan: orang yang merasa dunianya runtuh, sementara yang lain hanya menganggapnya sebagai lelucon penutup sebelum subuh tiba. Namun, di balik tawa tersebut, mereka semua sadar bahwa di Universitas Tata Surya, rasa sakit yang paling nyata sering kali lahir dari harapan yang tidak masuk akal, dan warkop ini adalah satu-satunya tempat di mana rasa sakit itu bisa ditertawakan bersama tanpa perlu merasa takut disidang oleh birokrasi.