Ulasan

Review Toy Story 5: Ketika Woody dan Buzz Harus Melawan Tablet Canggih Masa Kini!

Review Toy Story 5: Ketika Woody dan Buzz Harus Melawan Tablet Canggih Masa Kini!
Poster film Toy Story 5 (IMDb)

Toy Story 5, sekuel kelima dari franchise animasi ikonik Pixar, dirilis di bioskop pada Juni 2026. Film ini disutradarai oleh Andrew Stanton dengan co-director Kenna Harris, serta diproduseri oleh Lindsey Collins. Dengan durasi sekitar 102 menit, Toy Story 5 membawa kembali karakter-karakter klasik seperti Woody (disuarakan Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack), dan rombongan mainan lainnya. Kali ini, cerita berfokus pada tantangan baru: persaingan antara mainan tradisional dan teknologi modern, khususnya perangkat tablet bernama Lilypad yang disuarakan oleh Greta Lee.

Film ini tayang perdana di Los Angeles pada 9 Juni 2026 dan rilis luas di Amerika Serikat. Di bioskop Indonesia, seperti CGV Cinemas dan Cinema XXI, Toy Story 5 mulai tayang pada 17 Juni 2026, dengan tiket presale yang dibuka beberapa hari sebelumnya. Kamu dapat menikmati versi 2D dan 3D dengan subtitle bahasa Indonesia. Rating film ini PG (Suitable for All Ages), menjadikannya pilihan tepat untuk keluarga.

Jessie dan Woody Hadapi Tantangan Baru

Salah satu adegan di film Toy Story 5 (IMDb)
Salah satu adegan di film Toy Story 5 (IMDb)

Cerita berlanjut setelah Toy Story 4, ketika mainan-mainan milik Bonnie kini menghadapi ancaman eksistensial. Lilypad, sebuah tablet canggih yang dibeli orang tua Bonnie untuk membantunya bersosialisasi, memperkenalkan dunia digital yang penuh aplikasi, game, dan koneksi online. Lilypad meyakini bahwa mainan klasik seperti Jessie dan Buzz sudah ketinggalan zaman dan harus digantikan oleh pengalaman virtual. Konflik utama muncul ketika mainan-mainan berusaha mempertahankan peran mereka sebagai sahabat Bonnie di tengah dominasi layar gadget.

Tema sentral film ini sangat relevan dengan era saat ini: dampak teknologi terhadap masa kanak-kanak, cyberbullying, screen addiction, serta nilai persahabatan abadi. Pixar berhasil mengemas isu kontemporer ini tanpa mengurangi esensi hangat dan humor khas Toy Story. Woody, meski perannya lebih ke pendukung, tetap menjadi simbol kepemimpinan dan kesetiaan. Jessie mendapatkan porsi cerita yang lebih mendalam, mengeksplorasi identitasnya sebagai cowgirl yang kini merasa terancam oleh kemajuan zaman.

Review Film Toy Story 5

Salah satu adegan di film Toy Story 5 (IMDb)
Salah satu adegan di film Toy Story 5 (IMDb)

Animasi Pixar kembali mencapai standar tinggi. Adegan-adegan aksi yang melibatkan mainan dan perangkat elektronik terasa hidup dengan detail tekstur yang tajam serta pencahayaan dinamis. Skor musik Randy Newman yang ikonik hadir kembali, memperkuat emosi setiap momen. Sulih suara aktor legendaris seperti Tom Hanks dan Tim Allen memberikan kedalaman karakter yang autentik. Penambahan karakter baru seperti Lilypad membawa nuansa segar, meski alur awal sedikit terasa disjointed sebelum menyatu di babak ketiga yang fenomenal.

Salah satu adegan paling dramatis dan sulit kulupakan adalah momen ketika Bonnie mengalami cyberbullying melalui pesan-pesan di Lilypad. Ia menerima komentar negatif dari teman-teman online yang membuatnya bingung dan terluka, tanpa sepenuhnya memahami mengapa. Adegan ini digambarkan sebagai salah satu yang paling mengharukan dalam sejarah franchise oleh Tom Hanks sendiri. Mainan-mainan, terutama Jessie dan Woody, menyaksikan penderitaan Bonnie dari perspektif mereka yang tak terlihat. Suasana mencapai puncak kulminasi emosinya ketika Jessie berusaha membebaskan Bonnie dari pengaruh digital, memicu pertarungan batin dan fisik yang dramatis melawan Lilypad. Adegan ini tidak hanya menyentuh isu bullying digital, tetapi juga menggambarkan rasa tidak berdaya mainan untuk melindungi pemiliknya.

Adegan ini begitu kuat karena menggabungkan animasi ekspresif wajah Bonnie yang polos dengan musik latar yang menyayat hati. Sampai-sampai mataku ikut berkaca-kaca, sementara anak-anak diajak berdiskusi tentang pentingnya interaksi nyata dibandingkan dengan dunia maya. Selain itu, momen reunian atau pertarungan antara mainan klasik dan elemen teknologi, seperti pasukan Buzz Lightyear yang canggih, juga meninggalkan kesan visual yang kuat. Adegan penutup yang menekankan persahabatan abadi ("Waktu boleh berlalu, tapi sahabat selamanya") menjadi penutup emosional yang memuaskan, meski bukan akhir definitif bagi franchise.

Kelebihan utama Toy Story 5 terletak pada kemampuannya menghadirkan cerita yang heartfelt di tengah komedi ringan. Film ini berhasil menyeimbangkan nostalgia dengan relevansi modern, membuatnya cocok untuk kamu dari berbagai generasi. Humor slapstick khas Pixar tetap ada, ditambah dialog cerdas yang mengkritik ketergantungan gadget tanpa terasa menggurui. Animasi dan produksi suara berkualitas tinggi mendukung pengalaman sinematik yang immersive.

Kekurangan minornya ada di beberapa subplot yang terasa agak terburu-buru di awal, serta kesan bahwa cerita ini bukanlah kebutuhan mutlak setelah ending memuaskan Toy Story 4. Film ini memperkuat posisi Toy Story sebagai salah satu franchise animasi terbaik sepanjang masa.

Toy Story 5 adalah tontonan wajib buat kamu penggemar franchise ini dan keluarga yang ingin menikmati petualangan penuh emosi. Film ini mengingatkan kita bahwa meski teknologi berkembang pesat, nilai-nilai seperti persahabatan, keberanian, dan kehadiran fisik tetap tak tergantikan. Di bioskop Indonesia mulai 17 Juni 2026, jangan lewatkan kesempatan menyaksikannya di layar lebar untuk pengalaman paling optimal. Toy Story 5 bukan hanya sekuel, melainkan refleksi indah tentang masa kanak-kanak di era digital. Sangat aku rekomendasikan untuk ditonton bersama orang tercinta dan keluarga.

Rating pribadi: 8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda