Ulasan

Mengenal Dimensi Liminal, Sumber Teror Utama Film Backrooms

Mengenal Dimensi Liminal, Sumber Teror Utama Film Backrooms
Scene dalam film Backrooms (IMDb)

Lorong kosong, lampu yang terus menyala, dinding kuning kusam, dan ruangan yang tampak nggak memiliki ujung mungkin terdengar seperti deskripsi tempat yang membosankan. Namun di tangan Kane Parsons, elemen-elemen ‘biasa’ tersebut berubah menjadi salah satu sumber horor psikologis paling mengganggu dalam Backrooms

Film produksi A24 ini diadaptasi dari fenomena horor internet yang berkembang selama bertahun-tahun. Kane Parsons, kreator serial analog horror ‘The Backrooms’ yang viral di YouTube, dipercaya menyutradarai versi layar lebarnya.

Naskah film ditulis Will Soodik dengan jajaran pemain yang diisi Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, Renate Reinsve sebagai Dr. Mary Kline, Mark Duplass sebagai Phil, serta Finn Bennett, Lukita Maxwell, dan Avan Jogia. 

Tayang di Indonesia sejak 10 Juni 2026, ceritanya sendiri mengambil latar Santa Clara pada tahun 1990. Clark adalah pemilik toko furnitur yang sedang mengalami berbagai masalah dalam hidupnya. Kondisi keuangan yang memburuk, hubungan pribadi yang nggak berjalan baik, serta rasa frustrasi yang terus menumpuk membuat hidupnya semakin berat dari hari ke hari.

Situasi tersebut berubah ketika menemukan celah misterius di ruang bawah tanah tokonya. Celah itu membawanya menuju Backrooms, ruang yang berada di luar realita normal. Tempat tersebut tampak seperti gedung perkantoran kosong yang nggak berpenghuni. Namun semakin jauh Clark menjelajah, semakin jelas ruang itu nggak mengikuti hukum fisika yang dikenal manusia.

Lorong-lorong terus memanjang tanpa ujung. Ruangan saling terhubung secara mustahil. Arah kehilangan maknanya. Waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Tempat itulah yang kemudian dikenal sebagai dimensi liminal dalam dunia Backrooms.

Konsep Dimensi Liminal Film Backrooms

Scene dalam Film Backrooms (IMDb)
Scene dalam film Backrooms (IMDb)

Hal yang membuat film ini sangat unik terletak pada keberhasilannya memanfaatkan konsep dimensi liminal sebagai sumber ketakutan utama.

Istilah liminal berasal dari kata Latin limen yang berarti ambang batas. Dalam konteks masa kini, liminal space biasanya merujuk pada ruang transisi, tempat yang berada di antara satu kondisi dan kondisi lainnya.

Contohnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: Koridor hotel, ruang tunggu, tangga darurat, gedung perkantoran yang kosong, bandara pada tengah malam.

Semua tempat tersebut sebenarnya nggak dirancang untuk ditinggali. Ruang-ruang itu hanya berfungsi sebagai jalur perpindahan menuju tujuan lain. Nah, film Backrooms mengambil konsep tersebut lalu mendorongnya hingga titik ekstrem.

Bayangkan jika koridor yang seharusnya mengantarkan seseorang menuju sebuah ruangan nggak pernah berakhir. Bayangkan lagi deh, bila ruang tunggu nggak lagi menjadi tempat menunggu sementara, melainkan menjadi tempat yang memenjarakanmu selamanya. Dan setiap pintu yang dibuka hanya mengarah ke koridor lain yang terlihat sama. Itulah inti horor Backrooms.

Dimensi liminal dalam Backrooms sangat mengganggu karena nggak memiliki tujuan yang jelas. Dalam kehidupan normal, manusia selalu memahami fungsi sebuah ruang. Kita tahu ke mana sebuah lorong akan berakhir, alasan pintu dibuat, pun dengan fungsi tata ruang bekerja. Nah, Film Backrooms menghancurkan seluruh kepastian itu.

Penonton dipaksa berada di tempat yang tampak familier tapi beroperasi dengan logika yang sepenuhnya asing. Menurutku, di sinilah Kane Parsons menunjukkan pemahaman yang sangat baik terhadap konsep liminal space.

Banyak film horor menggunakan rumah berhantu, rumah sakit terbengkalai, atau bangunan tua untuk menciptakan suasana menyeramkan. Sedangkan Film Backrooms melakukan pendekatan yang jauh lebih sederhana tapi lebih efektif.

Aku bahkan merasa dimensi liminal dalam Backrooms sebenarnya merupakan karakter utama film ini. Yup, Clark memang menjadi tokoh cerita, kendati pada akhirnya kita dipelintir terkait karakter lain yang sebenarnya menjadi sorotan utama. Terlepas dari itu, amera berulang kali menyoroti koridor panjang, ruangan kosong, tikungan tanpa akhir, dan area-area yang kayak salinan satu sama lain.

Aku dipaksa menghabiskan waktu bersama ruang tersebut hingga akhirnya mulai merasakan ketidaknyamanan yang sama dengan para karakternya. Menariknya lagi, film ini menunjukkan ketakutan nggak selalu membutuhkan ancaman yang jelas. Dalam banyak adegan, nggak ada sesuatu yang benar-benar terjadi.

Karakter hanya berjalan. Berbelok. Masuk ke ruangan lain. Lalu berjalan lagi. Namun anehnya, ketegangan tetap terasa.

Itu terjadi karena dimensi liminal Backrooms menciptakan rasa kehilangan orientasi yang sangat kuat. Aku nggak pernah tahu apa yang menunggu di depan. Bahkan ketika nggak ada bahaya yang terlihat, lingkungan itu sendiri sudah cukup menciptakan rasa cemas.

Meski pada beberapa bagian film mulai mencoba menjelaskan lebih banyak tentang Backrooms, konsep liminal space tetap berhasil dipertahankan. Kane Parsons memahami misteri adalah bagian penting dari pengalaman tersebut. Semakin sedikit yang diketahui tentang ruang itu, semakin besar pula rasa takut yang muncul.

Di sini, dimensi liminal berhasil mengubah koridor biasa, ruangan kosong, dan lampu menjadi sesuatu yang mengancam. Sudahkah Sobat Yoursay menontonnya? Yuk, bagikan pendapatmu di sini. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda