Ulasan

Londo Ireng 1831-1945: Kisah yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

Londo Ireng 1831-1945: Kisah yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia
Serdadu Afrika di Hindia Belanda (Dok.Pribadi/Oktavia)

Ketika membicarakan sejarah kolonial Indonesia, sebagian besar orang mengenal tentara Belanda, pasukan KNIL, atau perlawanan rakyat Nusantara terhadap penjajahan. Namun, hanya sedikit yang mengetahui bahwa di antara pasukan kolonial Belanda pernah bertugas ribuan tentara asal Afrika yang berkulit hitam.

Mereka dikenal dengan sebutan "Belanda Hitam" atau "Londo Ireng", sebuah kelompok yang keberadaannya menjadi salah satu bab paling unik sekaligus terlupakan dalam sejarah Indonesia.

Kisah mereka diangkat secara mendalam oleh sejarawan Belanda, Ineke van Kessel, dalam bukunya Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831–1945. Buku yang merupakan terjemahan dari karya berjudul Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indië ini membuka perspektif baru tentang sejarah kolonial yang jarang dibahas dalam buku pelajaran sekolah.

Isi Buku

Latar belakang kedatangan para serdadu Afrika tidak dapat dilepaskan dari situasi yang dihadapi Belanda setelah berakhirnya Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830). Konflik besar tersebut menguras keuangan dan menyebabkan banyak korban di pihak Belanda. Pemerintah kolonial kemudian mengalami kesulitan merekrut tentara Eropa dalam jumlah besar untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Hindia Belanda.

Di sisi lain, Belanda juga tidak sepenuhnya percaya kepada pasukan pribumi yang jumlahnya semakin banyak dalam tubuh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Untuk mengatasi persoalan tersebut, mereka mencari sumber rekrutmen baru dari wilayah Afrika Barat, khususnya Elmina yang kini termasuk wilayah Ghana.

Antara tahun 1831 hingga 1872, lebih dari 3.000 orang Afrika direkrut untuk menjadi tentara kolonial. Sebagian berasal dari Kerajaan Ashanti, sementara sebagian lainnya merupakan budak yang ditebus dan kemudian diikat kontrak militer selama 12 hingga 15 tahun. Mereka dikirim ribuan kilometer melintasi samudra menuju Hindia Belanda untuk bertugas sebagai serdadu KNIL.

Pemerintah kolonial memiliki alasan khusus memilih orang-orang Afrika. Mereka dianggap memiliki fisik yang kuat, lebih tahan terhadap iklim tropis, serta lebih kebal terhadap berbagai penyakit dibandingkan tentara Eropa. Dalam banyak operasi militer, para komandan KNIL mengandalkan mereka sebagai pasukan tempur garis depan.

Keberadaan mereka sangat penting dalam berbagai ekspedisi penaklukan Belanda. Para serdadu Afrika terlibat dalam operasi militer di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Aceh. Dalam Perang Aceh yang berlangsung sangat lama dan menguras sumber daya Belanda, mereka menjadi salah satu kekuatan yang membantu mempertahankan posisi kolonial di wilayah tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan

Menariknya, status para serdadu Afrika berbeda dengan tentara pribumi. Berdasarkan perjanjian antara Belanda dan Kerajaan Ashanti, mereka dikategorikan sebagai warga Belanda. Karena itu mereka memperoleh gaji, fasilitas, dan hak-hak yang setara dengan tentara Eropa. Posisi ini membuat mereka menempati lapisan sosial yang unik di dalam masyarakat kolonial.

Namun kehidupan mereka tidak selalu berjalan mulus. Meski dihargai sebagai prajurit tangguh, mereka tetap menghadapi diskriminasi rasial dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda dari tanah kelahiran mereka. Beberapa bahkan melakukan perlawanan ketika merasa diperlakukan tidak adil oleh pihak militer.

Setelah masa tugas berakhir, tidak semua serdadu Afrika kembali ke kampung halaman. Banyak yang memilih menetap di Hindia Belanda dan membangun kehidupan baru. Mereka menikah dengan perempuan pribumi maupun Indo-Eropa dan membentuk komunitas keturunan Indo-Afrika di berbagai kota garnisun seperti Purworejo, Semarang, Solo, dan Salatiga.

Jejak keberadaan mereka masih dapat ditemukan hingga kini. Salah satu yang paling dikenal adalah kawasan Gang Afrikan di Purworejo, Jawa Tengah, yang dahulu menjadi tempat tinggal sejumlah keluarga keturunan serdadu Afrika. Generasi penerus mereka kemudian berasimilasi dengan masyarakat setempat, menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-hari dan memperoleh pendidikan ala Eropa.

Sayangnya, setelah Indonesia merdeka, sebagian besar komunitas ini memilih atau terpaksa bermigrasi ke Belanda. Akibatnya, kisah mereka perlahan menghilang dari ingatan kolektif bangsa Indonesia.

Melalui Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831–1945, Ineke van Kessel mengajak pembaca melihat sejarah kolonial dari sudut pandang yang berbeda. Buku ini menunjukkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya melibatkan penjajah dan yang dijajah, tetapi juga kelompok-kelompok lain yang terjebak dalam pusaran imperialisme global.

Kisah para Londo Ireng menjadi pengingat bahwa masa lalu Nusantara jauh lebih kompleks daripada yang selama ini kita bayangkan, dan masih menyimpan banyak cerita yang menunggu untuk ditemukan kembali.

Identitas Buku

  • Judul Asli: Zwarte Hollanders: Afrikaanse soldaten in Nederlands-Indië
  • Judul Terjemahan: Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945
  • Penulis: Ineke van Kessel
  • Penerjemah: S. Hertini Adiwoso
  • Penerbit: Komunitas Bambu 
  • Tahun Terbit: 2011 
  • Tebal: xiv + 306 halaman
  • ISBN: 979-3737-98-2
  • Kategori: Non Fiksi, Sejarah, Kolonialisme

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda