Ulasan

Ketika Film Cerita Lila Menjadi Cerminan Luka Masa Kecil

Ketika Film Cerita Lila Menjadi Cerminan Luka Masa Kecil
Bagian dari poster film Cerita Lila (Instagram/mvppictures_id)

Ketakutan terbesar manusia seringkali bukan berasal dari sosok yang berdiri di sudut ruangan gelap atau bayangan yang muncul tiba-tiba di balik pintu. Ketakutan terbesar bisa datang dari sesuatu yang jauh lebih dekat, yakni kenangan.

Inilah yang membuat Cerita Lila berbeda dibanding banyak film horor lain yang beredar saat ini. Disutradarai Bobby Prasetyo dan diproduksi MVP Pictures, film yang tayang pada 18 Juni 2026 ini menghadirkan horor yang nggak hanya mengandalkan penampakan menyeramkan, tapi juga menyelami luka batin yang terus hidup meski waktu telah berlalu.

Film ini dibintangi Lutesha, Myesha Lin, Firzanah Alya, Shareefa Daanish, Sara Wijayanto, Wisnu Hardana, Wafda Saifan, Whani Darmawan, dan Annisa Hertami. Diadaptasi dari kisah yang dipopulerkan melalui kanal YouTube Diary Misteri Sara, Cerita Lila membawa penonton masuk ke sebuah misteri yang perlahan membuka luka lama. 

Kisahnya tentu terkait Lila (Firzanah Alya) arwah anak perempuan yang masih terjebak dalam masa lalunya. Dia terus mencari saudara kembarnya, Lili, yang menghilang setelah tragedi mengerikan yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Tari (Lutesha) bersama putrinya, Nia (Myesha Lin), pindah ke rumah tua yang ternyata menyimpan banyak rahasia kelam. Nia mulai berinteraksi dengan Lila tanpa menyadari bahwa sosok yang menemaninya sebenarnya berasal dari dunia yang berbeda.

Pertemuan tersebut menjadi awal dari terungkapnya berbagai misteri yang selama ini tersembunyi. Kehadiran Rahma dan berbagai kejadian supranatural yang semakin intens perlahan membuka potongan-potongan masa lalu yang banyak penderitaan. Bersama Sara (Sara Wijayanto) dan Wisnu (Wisnu Hardana), kebenaran yang selama ini terkubur mulai disusun hingga membentuk gambaran utuh tentang kehilangan, trauma, dan luka keluarga. 

Dari segi cerita memang sangat menarik. Namun, lebih dari itu ada hal yang begitu menggelitik pikiran. Apa itu?

Luka Masa Kecil di Sepanjang Cerita

Poster Film Cerita Lila (Instagram/ mvppictures_id)
Poster Film Cerita Lila (Instagram/ mvppictures_id)

Banyak orang percaya waktu akan menyembuhkan segalanya. Kalimat itu terdengar menenangkan, tapi kenyataannya nggak selalu demikian. Ada luka yang memang memudar, tapi ada pula yang hanya bersembunyi. Yup, hanya menunggu momen tertentu untuk muncul kembali.

Trauma masa kecil sering bekerja dengan cara seperti itu. Seseorang mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang terlihat baik-baik saja. Bekerja, bergaul, tertawa, bahkan membangun keluarga. Namun jauh di dalam dirinya, masih tersimpan ketakutan, kesedihan, atau kemarahan yang belum pernah benar-benar selesai.

Luka tersebut nggak selalu muncul dalam bentuk ingatan yang jelas. Kadang hadir sebagai kecemasan yang sulit dijelaskan. Kadang berupa rasa takut ditinggalkan. Dalam banyak kasus, seseorang bahkan nggak sadar perilakunya hari ini berakar dari pengalaman yang terjadi puluhan tahun lalu.

Di sinilah aku merasa Cerita Lila berhasil menggunakan horor sebagai bahasa untuk membicarakan trauma.

Selama ini hantu sering dipahami sebagai sosok yang datang untuk menakut-nakuti manusia. Namun dalam Cerita Lila, hantu lebih berfungsi sebagai tanda yang mewakili sesuatu belum selesai. Sesuatu yang terus kembali karena nggak pernah dihadapi.

Lila bisa dilihat sebagai representasinya. Dia hadir karena ada masa lalu yang belum menemukan penyelesaian. Ada kehilangan yang nggak pernah dipahami. Termasuk kesedihan yang terus tertahan di antara dunia yang sudah berlalu dan dunia yang masih berjalan.

Hal tersebut membuat Cerita Lila lebih dekat dengan kehidupan nyata, ketimbang apa yang mungkin disadari banyak penonton.

Iya, kita mungkin nggak pernah melihat arwah gentayangan di rumah tua. Namun hampir semua orang pernah membawa luka dari masa kecilnya. Dan nggak semua orang bisa sembuh hanya karena waktu berlalu. Sama seperti hantu dalam film horor yang terus muncul karena ada sesuatu yang belum selesai, trauma juga dapat terus menghantui seseorang ketika nggak pernah diakui keberadaannya.

Karena itulah aku melihat Cerita Lila nggak sebatas film tentang dunia gaib. Film ini juga menjadi bahan renungan, terkait manusia seringkali membawa masa lalunya ke mana pun perginya. 

Pada akhirnya, Cerita Lila menawarkan sebuah pertanyaan yang nggak memiliki jawaban mudah. Apakah luka masa kecil benar-benar bisa hilang? Mungkin nggak sepenuhnya.

Namun, luka tersebut bisa dipahami, diterima, dan perlahan disembuhkan ketika seseorang berani menghadapinya. Sebab seperti yang ditunjukkan Cerita Lila, hal yang paling berbahaya bukanlah masa lalu yang menyakitkan. Melainkan masa lalu yang terus disembunyikan hingga akhirnya berubah menjadi sesuatu yang menghantui sepanjang hidup.

Sobat Yoursay jangan sampai lupa nonton, ya. Ini film keren yang layak banget diapresiasi. Selamat menonton.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda