Ulasan
Notes from the Last Row: Drama Thriller yang Menipu Penonton Sampai Akhir
Sobat Yoursay, siapa di sini yang sudah nonton series terbarunya Netflix yang berjudul Notes from the Last Row?
“Wah! Daebak!” Yeah, kurang lebih begitulah reaksi saya ketika melihat episode terakhir dari drama Notes from the Last Row ini. Jujur, saya benar-benar kena tipu dan dibuat terus mengernyitkan dahi sampai menjelang akhir drama. Sementara selama nonton, kepala saya terus menebak segala kemungkinan, tapi ternyata semua dipatahkan begitu saja. Benar-benar definisi “diapusi gambar” seperti yang sering dibilang orang rumah tiap melihat saya menonton series atau film.
Sinopsis Drama Notes from the Last Row
Bercerita tentang Heo Mun-oh (Choi Min-sik), professor sastra sekaligus penulis yang telah lama berhenti menulis akibat trauma dan kritik yang ia dapatkan di masa lalu. Ia terus-menerus menyimpan rasa kecewa yang membuatnya meremehkan kemampuan mahasiswa.
Suatu hari, ia bertemu dengan Lee Kang (Choi Hyun-wook), seorang mahasiswa teknik yang pendiam dan selalu duduk di bangku paling belakang tiap mengikuti kelasnya. Ketika membaca tugas esai Lee Kang yang menceritakan teman sekelasnya, Mun-oh terpikat dengan gaya tulisan Kang yang brilian dan misterius.
Dari sana, Mun-oh mulai menawarkan bimbingan menulis secara privat untuk Kang. Namun, semakin lama Mun-oh menyelami cerita yang ditulis Lee Kang sekaligus mengetahui beberapa hal tentang kehidupan pribadi mahasiswanya, obsesi perlahan mengaburkan akal sehat sang professor. Batas antara dunia fiksi dan kenyataan menjadi kabur, yang memicu serangkaian peristiwa berbahaya dan penuh teka-teki.
Ulasan Drama Notes from the Last Row
Seperti yang saya sempat tuliskan di awal, alur cerita dalam drama ini bukan hanya berhasil menipu Mun-oh, tetapi juga para penonton. Sejak episode awal sampai menjelang akhir, kita benar-benar dibuat sulit membedakan antara kenyataan dan imajinasi yang berasal dari karya tulis Lee Kang. Plot twist-nya tepat berada di episode terakhir. Saya dibuat tercengang saat mengetahui kebenarannya.
Drama ini tayang enam episode sekaligus pada 26 Juni kemarin. Beberapa penonton menyebut alurnya sedikit lambat, tetapi bagi saya pribadi semua sudah terasa pas. Bagaimana di awal penonton ditunjukkan dengan pertemuan antara Heo Mun-oh dan Lee Kang. Kemudian hubungan guru dan murid yang dibangun hingga cerita tentang bagaimana Mun-oh bisa terhanyut dalam tulisan Lee Kang. Meskipun masih menyisakan pertanyaan, saya rasa sebagian besar misteri dari drama ini telah terjawab di episode terakhirnya.
Dari segi akting, Choi Min-sik berhasil memerankan karakter Mun-oh yang kompleks. Ia sukses membawakan karakter Mun-oh yang sedang putus asa, merasa inferior, serta mampu menyampaikan perubahan emosi melalui ekspresi dan sorot matanya dalam waktu singkat. Sementara Choi Hyun-wook pun berhasil memerankan karakter Lee Kang sebagai mahasiswa jenius yang pendiam sekaligus misterius.
Kedua aktor tersebut menyampaikan chemistry yang terasa unik. Hubungan keduanya mungkin tampak biasa saja, tetapi sebenarnya penuh racun dan rahasia. Lee Kang bukan hanya pandai memainkan cerita, tetapi juga berhasil menggiring pikiran Mun-oh hingga perlahan kehilangan batas antara kenyataan dan dunia yang ia tulis.
Dari segi premis, menurut saya juga cukup unik. Karena sejauh yang saya tahu, belum banyak drama thriller psikologis dengan tokoh utama seorang penulis. Selain itu, berbeda dari mayoritas drama thriller, Notes from the Last Row tidak mengandalkan adegan aksi. Bahkan hampir tidak ada adegan aksi di dalamnya. Meskipun begitu, ketegangan berhasil dibangun melalui interaksi yang intens antara Mun-oh dan Lee Kang serta hubungan yang terasa jauh lebih rumit dari seorang guru dengan muridnya.
Melalui drama Notes from the Las Row, saya belajar bagaimana rasa iri bisa membuat seseorang buta terhadap kebenaran. Seperti halnya karakter Mun-oh. Rasa irinya terhadap teman lama yang telah menjadi penulis sukses membuat ia kehilangan dirinya sendiri. Ia terlalu sibuk merangkai kisah buruk tentang orang yang ia anggap sebagai lawan hingga mengabaikan kebenaran yang tampak di depan matanya.
Sementara itu, karakter Lee Kang mengingatkan saya lagi bahwa sekecil apapun luka yang diterima seseorang di masa kecil, ia akan terus mengingatnya sampai dewasa. Sekalipun orang yang melukai mungkin tidak sadar bahwa yang ia perbuat menyakiti dan terasa begitu membekas di hati anak kecil di hadapannya. Dan terkadang, orang yang melukai bahkan sudah lupa dengan apa yang pernah ia lakukan. Sebaliknya, orang yang terluka justru membawa luka itu sampai bertahun-tahun kemudian.
Saya rasa drama seperti ini cocok buat Sobat Yoursay yang menyukai kisah thriller psikologis yang bikin mikir dan menebak-nebak mau dibawa ke mana arah ceritanya. Karena hanya enam episode dan tiap episode berdurasi sekitar 50 menit, drama ini cocok banget buat ditonton langsung atau maraton di akhir pekan.