Ulasan
Review In the Hand of Dante: Sebuah Refleksi tentang Seni dan Kehilangan
In the Hand of Dante, disutradarai oleh Julian Schnabel dan diadaptasi dari novel tahun 2002 karya Nick Tosches, merupakan sebuah karya ambisius yang menyatukan dua garis waktu yang terpisah sekitar 700 tahun. Film ini mengeksplorasi tema obsesi terhadap seni, pencarian spiritual, kekerasan, dan sifat komoditas seni dalam masyarakat modern.
Dengan durasi sekitar 150 menit, film bergenre drama, kriminal, dan misteri ini menampilkan Oscar Isaac dalam peran ganda yang kuat, didukung pemeran pendukung bintang seperti Gerard Butler, John Malkovich, Gal Gadot, Al Pacino, Jason Momoa, dan penampilan cameo Martin Scorsese.
Petualangan Seni dan Spiritualitas Abadi

Cerita berpusat pada dua narasi paralel. Di era kontemporer (awal 2000-an hingga 2011), Nick Tosches (Oscar Isaac), seorang penulis yang sedang berduka atas kematian putrinya, dipekerjakan oleh seorang bos mafia, Joe Black (John Malkovich), untuk mengautentikasi dan mencuri manuskrip asli The Divine Comedy karya Dante Alighieri yang diyakini ditemukan dari Vatikan.
Nick bekerja sama dengan pembunuh bayaran sadis bernama Louie (Gerard Butler), yang membawa mereka ke dalam perjalanan penuh kekerasan di New York dan Italia. Narasi ini disajikan dalam hitam-putih yang tajam, mencerminkan kegelapan moral dan kekacauan dunia bawah tanah.
Sementara itu, di abad ke-14 di Italia, Dante Alighieri (juga diperankan oleh Oscar Isaac) berjuang melawan krisis eksistensial, pengasingan politik, dan pencarian inspirasi ilahi untuk menyelesaikan mahakaryanya. Adegan ini berwarna penuh, dengan sinematografi yang indah oleh Roman Vasyanov, menampilkan interaksi Dante dengan mentornya Isaiah (Martin Scorsese), istrinya Giulietta (Gal Gadot), dan Paus Boniface VIII (Gerard Butler). Schnabel menggunakan pendekatan visual yang artistik, dengan gerakan kamera yang poetis, simbolisme, dan transisi yang menghubungkan kedua era, seolah menekankan bahwa pencarian manusia akan keindahan, cinta, dan keilahian bersifat timeless.
Review Film In the Hand of Dante

Overall, film ini adalah meditasi ambisius tentang seni sebagai sesuatu yang suci sekaligus komoditas. Schnabel, yang dikenal dengan pendekatan visualnya yang seperti lukisan, berhasil menciptakan tekstur sinematik yang kaya. Akan tetapi, film ini juga menuai kritik karena narasinya yang kadang terasa berantakan, dialog yang pretensius, dan transisi antar timeline yang tidak selalu mulus.
Aku menyebut ini sebagai fanciful folly yang oversauced, sementara keberaniannya dalam menggabungkan elemen crime noir dengan refleksi filosofis. Oscar Isaac memberikan penampilan luar biasa, menunjukkan kerapuhan, kemarahan, dan kedalaman emosional di kedua peran. Penampilan pendukung, khususnya Scorsese yang bijaksana dan Malkovich yang sinis, menambah lapisan menarik.
Film In the Hand of Dante telah dirilis secara teatrikal terbatas di Amerika Serikat pada 12 Juni 2026, dan tersedia untuk streaming di Netflix mulai 24 Juni 2026. Film ini sudah dapat ditonton di Netflix wilayah Indonesia. Netflix telah mengamankan hak distribusi global, sehingga kamu dapat mengaksesnya melalui langganan standar atau premium tanpa batasan wilayah tambahan. Trailer resmi dan promosi menegaskan ketersediaan luas di platform ini.
Salah satu adegan paling emosional adalah ketika Nick Tosches, yang sedang berduka mendalam atas kehilangan putrinya, duduk sendirian di pantai Bora Bora pada 2011 sambil membaca jurnalnya. Adegan ini, disajikan dalam hitam-putih yang kontras, menangkap kerapuhan manusia di tengah obsesi terhadap manuskrip. Isaac menyampaikan monolog internal tentang kehilangan, penyesalan, dan pencarian makna dengan intensitas yang menyayat hati. Aku pun merasakan beban emosionalnya secara mendalam, menghubungkan kesedihan pribadi dengan perjuangan Dante di masa lalu. Adegan ini menjadi puncak refleksi film tentang bagaimana seni dan kehilangan saling terkait.
Adegan paling berkesan lainnya adalah pertemuan Dante dengan mentornya Isaiah (Martin Scorsese) di abad ke-14. Dalam nuansa warna yang hidup, Scorsese memberikan nasihat filosofis yang tenang namun mendalam tentang kreativitas, iman, dan perjuangan manusia. Interaksi ini penuh dengan dialog puitis dan visual alam yang indah seperti awan bercahaya dan bunga yang mekar, menciptakan momen spiritual yang transcendent. Kurasa ini sebagai oasis kehangatan di tengah kekerasan dan kekacauan cerita modern. Adegan ini tidak hanya memorable karena penampilan Scorsese yang ikonik, tetapi juga karena cara Schnabel menggambarkan proses kreatif sebagai perjuangan ilahi.
Adegan kekerasan yang melibatkan Louie (Butler) juga meninggalkan kesan kuat, terutama klimaks di mana kekerasan bertemu dengan simbolisme Dante, menunjukkan bagaimana nafsu manusia dapat merusak keindahan seni. Adegan-adegan ini menggabungkan brutalitas dengan estetika artistik, membuatnya sulit dilupakan.
Pada akhirnya, In the Hand of Dante adalah film yang menuntut perhatian dan refleksi. Meski tidak sempurna, keberanian artistiknya, penampilan aktor, dan tema mendalam tentang warisan sastra membuatnya layak ditonton bagi pencinta film intelektual dan visual.
Buat kamu yang menyukai karya Schnabel atau adaptasi sastra yang berani, film ini menawarkan pengalaman sinematik yang unik. Di era di mana seni sering direduksi menjadi komoditas, film ini mengingatkan kita pada kekuatannya yang abadi. Rating pribadi: 7.6/10.