Ulasan

Review Jujur The Prodigy: Saat Kejeniusan Berubah Menjadi Senjata Mematikan

Review Jujur The Prodigy: Saat Kejeniusan Berubah Menjadi Senjata Mematikan
The Prodigy (Dok. Pribadi/Wenny Simbolon)

Bagi para penggemar genre fiksi ilmiah (science fiction) dan fantasi, novel berjudul The Prodigy karya penulis Midnightstalks menawarkan kisah distopia yang patut untuk disimak. Diterbitkan oleh penerbit Fantasious, buku ini tidak hanya menyajikan ketegangan aksi, tetapi juga membawa pesan moral serta kritik sosial yang mendalam.

Sinopsis Novel

Cerita ini berlatar di sebuah negara fiktif bernama Neostate. Di negara ini, masyarakatnya hidup dalam sistem stratifikasi sosial yang sangat ketat, tempat nilai dan derajat tiap individu dinilai berdasarkan klan atau marga keluarga tempat mereka berasal, seperti Klan Kim, Lee, Na, Ryu, Hwang, dan lain-lain.

Neostate memiliki sebuah institusi pendidikan pascasarjana yang sangat eksklusif dan bergengsi bernama Neo Prodigy Academy (NPA). Sekolah ini dirancang khusus untuk mencetak orang-orang jenius atau prodigy yang nantinya akan mengabdikan diri pada proyek teknologi dan pertahanan besar negara.

Di NPA sendiri terdapat empat fakultas utama, yaitu:

  • Vestenium: Berfokus pada proses kimia sel makhluk hidup.
  • Ostenium: Berfokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Nordeium: Berfokus pada teknologi digital umum.
  • Sydenium: Berfokus pada ilmu pertahanan dan keamanan negara.

Fokus utama cerita ini berpusat pada seorang pemuda bernama Huang Rennath. Rennath awalnya tidak peduli dengan status sosial maupun ambisi klan-klan di negaranya. Namun, segalanya berubah ketika ia mendapati fakta bahwa nama marga di depan namanya telah dihilangkan dari seluruh catatan negeri. Tidak hanya itu, rekam jejak dan eksistensi mendiang ibunya telah dilenyapkan, serta fakta mengenai jati dirinya disembunyikan rapat-rapat oleh otoritas.

Satu-satunya cara untuk menemukan jawaban atas misteri masa lalu ibunya adalah dengan masuk ke Neo Prodigy Academy, yang merupakan tempat ibunya dulu menimba ilmu. Bersama dengan teman-temannya di akademi tersebut, Rennath memulai misi berbahaya untuk membongkar sejarah palsu, konspirasi besar, dan membawa keadilan bagi nama ibunya.

Di balik aksi fiksi ilmiah dan kecanggihan teknologinya, The Prodigy membawa pesan moral dan kritik sosial yang sangat mendalam:

Identitas Manusia Lebih Berharga daripada Label dan Marga

Di Neostate, nilai seorang manusia ditentukan sejak lahir berdasarkan kasta marganya. Jika kamu lahir di klan bawah, kamu dianggap tidak berharga. Melalui tokoh Rennath yang identitasnya dihapus, buku ini mengajarkan bahwa martabat dan nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh dari keluarga mana ia lahir atau label yang ditempelkan oleh sistem masyarakat. Rennath membuktikan bahwa tindakan, integritas, dan pilihan hiduplah yang mendefinisikan siapa diri kita sebenarnya, bukan validasi dari penguasa.

Bahaya Pengetahuan dan Teknologi Tanpa Moralitas

NPA diisi oleh orang-orang paling jenius atau prodigies, namun kejeniusan mereka justru dieksploitasi oleh pemerintah untuk menciptakan senjata, alat kontrol sosial, dan mempertahankan kekuasaan. Makna implisit yang ingin disampaikan adalah kecerdasan tanpa kompas moral hanya akan melahirkan penindasan. "Menjadi pintar saja tidak cukup"; ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan empati dan keberanian untuk membela kemanusiaan.

Esensi dari Keluarga Pilihan

Rennath memulai perjalanannya dengan rasa tidak percaya pada siapa pun karena trauma masa lalunya. Namun, di akademi, ia menemukan sahabat-sahabat yang rela mempertaruhkan nyawa demi membantunya. Buku ini memberikan pesan hangat bahwa keluarga tidak selalu tentang ikatan darah. Di tengah dunia distopia yang kejam dan egois, hubungan persahabatan yang tulus yang dibangun di atas rasa saling percaya dan penderitaan yang sama justru menjadi kekuatan terbesar untuk meruntuhkan ketidakadilan.

Singkatnya, The Prodigy mengingatkan kita bahwa seketat atau sekejam apa pun sebuah sistem mencoba mengatur dan membungkam kebenaran, kebebasan berpikir dan solidaritas antarmanusia selalu memiliki celah untuk melawan dan menang.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

Konsep yang Berani: Berani mengambil genre sci-fi distopia yang terbilang jarang dieksplorasi secara mendalam di pasar novel remaja Indonesia.

Aksi dan Ketegangan yang Konsisten: Konflik tidak pernah benar-benar berhenti; selalu ada misteri baru yang terungkap setelah misteri lama terpecahkan.

Visualisasi yang Kuat: Penggambaran akademi dan seragam menciptakan estetika yang kuat di kepala pembaca.

Kekurangan:

Kompleksitas Karakter Sampingan: Karena jumlah tokoh yang cukup banyak dengan nama marga yang mirip, pembaca baru terkadang butuh waktu ekstra di awal cerita untuk mengingat siapa saja mereka.

Resolusi Beberapa Konflik: Beberapa bagian penyelesaian masalah taktis terasa sedikit terlalu cepat selesai karena kejeniusan karakter utama yang kadang terasa terlalu dominan atau overpowered.

Identitas Buku

  • Judul: The Prodigy
  • Penulis: Midnightstalks (Nadia Fatimah)
  • Penerbit: Fantasious (penerbit imaji dari PT Grafidia)
  • Tahun Terbit: 2021
  • Genre: Fiksi Ilmiah (Science Fiction), Distopia, Fantasi, Thriller Remaja
  • Bahasa: Indonesia
  • Asal Platform: Wattpad (sebelum akhirnya resmi diterbitkan secara fisik)

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda