Ulasan
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
Kehilangan pasangan hidup selalu mengubah banyak hal. Bukan hanya soal rasa sepi yang muncul setiap hari, tapi juga tentang bagaimana seseorang harus mempelajari kembali rutinitas yang selama ini dijalani bersama. Situasi itulah yang menjadi jantung cerita Film Color Book, drama garapan David Fortune yang juga menulis naskahnya sendiri.
Film berdurasi ±98 menit ini diproduksi Autumn Bailey Entertainment dan KiahCan Productions sebelum didistribusikan secara global oleh Netflix. Meski merupakan film produksi 2024 yang lebih dulu berkeliling festival, ‘Color Book’ akhirnya secara luas rilis di Netflix pada 19 Juni 2026.
Sebelum menjadi film panjang, proyek ini berawal dari film pendek berjudul Us (2022), kemudian berkembang melalui Film Independent Amplifier Fellowship dan mendapat pendanaan setelah David Fortune memenangkan kompetisi AT&T Untold Stories di Tribeca 2023.
Deretan pemainnya diisi oleh Will Catlett sebagai Lucky, Jeremiah Alexander Daniels sebagai Mason, Brandee Evans sebagai Tammy, Terri J. Vaughn, Kia Shine, hingga Njema Williams. Performa mereka menjadi kekuatan utama yang membuat kisah sederhana ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, lho.
Ceritanya mengikuti Lucky, sosok ayah yang baru kehilangan pasangan hidupnya, Tammy. Di tengah duka yang masih begitu segar, dia harus membesarkan putranya yang berusia 11 tahun, Mason, anak penyandang Down syndrome. Lucky berusaha menjalani peran sebagai orang tua tunggal, meski dirinya sendiri belum siap menerima kenyataan bahwa istri yang selama ini menjadi pendamping hidupnya telah tiada.
Suatu hari, Lucky mengajak Mason menghadiri pertandingan bisbol pertama mereka setelah mendapat ajakan dari teman mereka, Rico. Perjalanan yang semula tampak biasa berubah menjadi petualangan panjang ketika mobil tua mereka mogok. Mereka harus berpindah-pindah menggunakan bus dan kereta, menghadapi berbagai keterlambatan, kesalahpahaman, hingga situasi yang menguras emosi. Nah, di sepanjang perjalanan itulah hubungan ayah dan anak ini perlahan menemukan bentuk yang baru.
Semenarik itu memang kisahnya, Sobat Yoursay!
Menjadi Orang Tua Berarti Terus Belajar, Bahkan Ketika Hidup Terasa Hancur

Yup, selama ini banyak orang menganggap peran ayah atau ibu sebagai sesuatu yang ‘otomatis pasti mampu’. Begitu memiliki anak, seseorang dianggap sudah tahu bagaimana mengasuh mereka. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Apalagi ketika salah satu (pasangannya) meninggal dunia. Peran yang sebelumnya dibagi berdua tiba-tiba harus dipikul seorang diri.
Lucky mengalami situasi tersebut. Dia nggak hanya kehilangan istri, tapi juga kehilangan rekan dalam membesarkan Mason.
Keputusan-keputusan kecil yang sebelumnya bisa didiskusikan kini harus diambil sendiri. Hal-hal sederhana seperti mengatur jadwal, memahami kebutuhan emosional anak, hingga tetap bersikap tenang saat semuanya berantakan menjadi tantangan baru yang nggak pernah dibayangkan sebelumnya.
Di sinilah Color Book begitu jujur. David Fortune nggak menggambarkan Lucky sebagai ayah yang sempurna. Sebaliknya, Lucky beberapa kali terlihat frustrasi, lelah, bahkan kebingungan. Namun, ketidaksempurnaan itulah yang membuat karakternya sangat hidup dan relevan.
Film ini juga menarik karena nggak menjadikan Down syndrome sebagai sumber konflik utama. Mason memang memiliki kebutuhan yang berbeda, tapi dia nggak pernah diposisikan sebagai karakter yang hanya mengundang belas kasihan. Dia tetap digambarkan sebagai anak yang penasaran, ceria, kadang keras kepala, sekaligus penuh kasih sayang. Pendekatan seperti ini jauh lebih menghormati penyandang disabilitas dibanding menjadikan kondisi mereka sebagai alat untuk memancing air mata penonton.
Aku juga menyukai bagaimana proses berduka digambarkan melalui perubahan pola pengasuhan. Lucky harus belajar mengenali Mason dengan cara yang mungkin sebelumnya lebih banyak dilakukan Tammy. Lucky belajar mendengar lebih sabar, memahami reaksi putranya, hingga menyadari bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu memiliki semua jawaban.
Pesan ini lagi-lagi relevan dengan kehidupan nyata. Banyak orang tua yang baru benar-benar memahami anaknya ketika keadaan memaksa mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Kadang kehilangan malah membuka ruang untuk membangun hubungan yang sebelumnya tertutup rutinitas sehari-hari.
Visual hitam putih semakin memperkuat gagasan tersebut. Tanpa gangguan warna, perhatian penonton diarahkan pada ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan sentuhan kecil yang seringkali lebih bermakna daripada dialog panjang. Tatapan Lucky kepada Mason, genggaman tangan mereka, hingga kebiasaan mengepalkan tangan sambil memamerkan otot menjadi gambaran bahwa mereka sedang berusaha saling menguatkan.
Perjalanan menuju stadion pun berubah menjadi perjalanan emosional. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terlihat tujuan sebenarnya bukanlah pertandingan bisbol, melainkan proses menerima kenyataan bahwa hidup nggak akan pernah sama lagi.
Bagiku, Color Book menyampaikan pesan yang sederhana tapi sangat mengena. Duka memang nggak bisa dihapus begitu saja, tapi kehidupan terus berjalan. Di tengah kehilangan, seseorang masih bisa menemukan harapan baru melalui orang yang tetap berada di sisinya. Bagi Lucky, harapan itu bernama Mason. Dan melalui perjalanan sehari yang isinya hambatan, keduanya sama-sama belajar mencintai di tengah ketidaksempurnaan sambil terus belajar dan bertahan hidup, meski hati belum sepenuhnya pulih.
Sobat Yoursay yang penasaran bisa langsung cek Netflix, ya. Selamat menonton.