Ulasan
Seni Memahami Kekasih: Potret Hubungan 'Anak Muda Miskin' yang Sangat Relate dengan Kehidupan Nyata
Film Seni Memahami Kekasih, yang sempat menghiasi layar bioskop pada 5 September 2024, kini hadir kembali menyapa penonton melalui platform streaming Netflix sejak 18 Juni lalu. Mengusung genre drama komedi romantis, film ini merupakan adaptasi dari buku Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih karya Agus Mulyadi.
Berdurasi 1 jam 31 menit, film ini mengajak penonton menyelami dinamika hubungan asmara antara seorang penulis sekaligus editor di media Mojok dengan seorang aktivis perempuan. Menariknya, kedua karakter utama ini sama-sama digambarkan berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah.
Lewat arahan sutradara Jeihan Angga, realitas kehidupan pasangan muda dalam menghadapi berbagai ujian hubungan berhasil dieksekusi dengan baik. Tidak hanya mengandalkan drama, film ini juga menyelipkan unsur komedi yang mengalir natural dan tidak terasa kaku.
Sinopsis Film Seni Memahami Kekasih
Cerita bermula dari Kalis (Febby Rastanty), seorang perempuan yang kerap mengirimkan tulisan ke media tempat Agus (Elang El Gibran) bekerja. Pertemuan yang tidak disengaja antara Kalis dan sang editor—yang kerap mengoreksi tulisannya—membawa mereka ke dalam lika-liku hubungan asmara khas anak muda.
Perjalanan cinta mereka tidaklah mulus; dipenuhi rasa takut, keraguan, trauma melihat nasib buruk pernikahan teman, hingga ketakutan akan komitmen.
Ulasan Film Seni Memahami Kekasih
Sutradara Jeihan Angga tampil lihai menyuguhkan visual yang dekat dengan keseharian, tanpa kehilangan kedalaman emosional cerita. Kelihaian ini tecermin melalui adegan-adegan yang terasa sangat nyata. Mulai dari cara Agus dan Kalis menghadapi konflik, usaha canggung Agus membujuk Kalis yang merajuk, hingga potret kelam kehidupan Rahayu yang harus menghadapi tekanan finansial sebagai seorang ibu tunggal (single mom).
Dari segi departemen akting, jajaran pemerannya patut diapresiasi. Elang El Gibran sukses menghidupkan karakter Agus Mulyadi dengan rentang emosi yang pas. Begitu pula dengan Febby Rastanty yang mampu menaklukkan kompleksitas karakter Kalis Mardiasih, meskipun beberapa dialog beraksen Jawanya masih terdengar kurang medok.
Sayangnya, penampilan Sisca Saras sebagai Rahayu, seorang ibu tunggal sekaligus korban KDRT, terasa sedikit kurang berimbang. Emosi berat yang ia bawakan di beberapa adegan puncak justru terkesan berlebihan (overacting), sehingga momen yang seharusnya mengundang air mata malah menjadi kurang menyentuh.
Sepanjang film, penonton diajak menyelami hubungan Agus dan Kalis yang dipenuhi ketidakpastian, terutama dari segi finansial. Kalis kerap dirundung kekhawatiran saat melihat teman-teman sebayanya mulai melangkah ke jenjang pernikahan. Tekanan sosial ini memicu konflik di antara mereka; Kalis mendesak Agus untuk segera menikahinya, sementara Agus bersikeras untuk membangun karier terlebih dahulu. Hubungan mereka terus diuji oleh ketakutan akan masa depan yang terus membayangi.
Secara keseluruhan, Seni Memahami Kekasih adalah tontonan yang sangat layak untuk mengisi waktu luang. Meskipun banyak menyoroti realitas pahit kehidupan kelas menengah, eksekusi humornya yang membumi membuat film ini tetap terasa ringan. Penyelesaian konfliknya pun ditangani secara logis dan tidak berlebihan, sebuah nilai plus di tengah maraknya film romansa yang kerap meromantisasi konflik hingga jauh dari realitas.
Kesimpulannya, Seni Memahami Kekasih sukses mengangkat kepingan kehidupan sehari-hari menjadi sebuah tontonan yang ringan, menghibur, tetapi tetap sarat akan makna.