Ulasan
Review Novel Every Day: Ketika Tokoh Utama Berganti Tubuh Setiap Hari
Ada buku yang dipilih dengan penuh pertimbangan, tetapi ada pula yang justru ditemukan secara tidak sengaja lalu meninggalkan kesan mendalam. Pengalaman itulah yang saya rasakan saat menemukan Every Day karya David Levithan di sebuah toko buku bekas di kawasan Blok M. Meski yang saya temukan adalah edisi berbahasa Inggris, saya langsung tertarik pada premisnya yang terasa sangat unik. Selain ingin menikmati ceritanya, saya juga menganggap novel ini sebagai kesempatan untuk menambah kosakata bahasa Inggris melalui bacaan yang menyenangkan.
Every Day pertama kali diterbitkan pada 2013 oleh penerbit Ember dan masih menjadi salah satu novel young adult yang relevan hingga sekarang. Label A New York Times Bestseller yang terpampang di sampulnya semakin membuat saya penasaran. Setelah selesai membacanya, saya bisa memahami mengapa novel ini mendapatkan begitu banyak perhatian. Meskipun sudah lebih dari satu dekade sejak diterbitkan, ide yang ditawarkan David Levithan tetap terasa segar dan mampu diterima pembaca pada 2026.
Novel ini mengikuti perjalanan seorang tokoh misterius yang hanya dikenal sebagai A. Berbeda dari manusia pada umumnya, A tidak memiliki tubuh, nama, maupun identitas yang tetap. Setiap pagi, ia selalu terbangun di tubuh orang lain yang usianya sebaya dengannya. Selama satu hari penuh, A menjalani kehidupan pemilik tubuh tersebut dengan mengandalkan ingatan, kebiasaan, dan lingkungan yang sudah dimiliki sang inang. Setelah hari berakhir, ia akan berpindah lagi ke tubuh orang yang berbeda tanpa bisa mengendalikan ke mana ia akan pergi berikutnya.
Selama bertahun-tahun, A memegang prinsip sederhana, yaitu jangan mengubah hidup orang yang tubuhnya ia tempati. Ia hanya berusaha melewati hari sebaik mungkin tanpa meninggalkan kekacauan. Pola hidup itu terus berlangsung sampai suatu hari ia terbangun sebagai Justin, seorang remaja yang memiliki hubungan dengan gadis bernama Rhiannon. Pertemuan singkat itu mengubah seluruh cara pandang A terhadap kehidupannya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ikatan emosional yang begitu kuat kepada seseorang hingga rela melanggar aturan yang selama ini selalu dipegang.
Sejak saat itu, perjuangan A menjadi jauh lebih rumit. Karena setiap hari harus berpindah ke tubuh yang berbeda, ia harus mencari berbagai cara agar tetap bisa bertemu Rhiannon. Tidak hanya itu, A juga akhirnya memilih untuk mengungkapkan kenyataan yang hampir mustahil dipercaya, bahwa dirinya adalah sosok yang berganti wajah setiap dua puluh empat jam. Dari sinilah kisah cinta yang tidak biasa mulai berkembang.
Hal yang membuat novel ini menarik bukan hanya kisah romantisnya, melainkan juga berbagai pertanyaan filosofis yang muncul di sepanjang cerita. Bagaimana seseorang dapat dicintai jika wajahnya selalu berubah? Apakah cinta benar-benar bergantung pada penampilan fisik, atau justru pada kepribadian seseorang? David Levithan mengajak pembaca memikirkan identitas, rasa memiliki, hingga konsekuensi moral dari kehidupan A yang terus meminjam tubuh orang lain. Semua dilema tersebut disampaikan tanpa terasa menggurui, sehingga pembaca diajak merenung melalui perjalanan para tokohnya.
Selama membaca, saya berkali-kali membayangkan bagaimana jika saya berada di posisi A. Bangun setiap pagi sebagai orang yang berbeda, tanpa memiliki wajah atau identitas asli, terdengar sangat menakutkan sekaligus membingungkan. Di sisi lain, ada rasa penasaran karena saya bisa merasakan kehidupan orang lain dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Mungkin itulah kekuatan terbesar novel ini, yaitu membuat pembaca ikut mempertanyakan arti diri mereka sendiri.
Saya juga sangat menikmati cara David Levithan membangun karakter A. Walaupun tokoh utamanya tidak pernah memiliki tubuh yang sama, kepribadiannya tetap terasa konsisten. Penulis berhasil menggambarkan emosi, kesepian, harapan, hingga kebingungan A dengan sangat halus. Setiap kali A berpindah ke tubuh baru, saya justru semakin kagum dengan kreativitas penulis dalam menciptakan karakter-karakter yang berbeda tetapi tetap membuat A terasa sebagai individu yang utuh. Hubungan A dengan karakter lain pun ditulis dengan begitu natural sehingga saya terus dibuat penasaran untuk membuka halaman berikutnya.
Meski demikian, pengalaman membaca novel ini tidak sepenuhnya mulus. Ada beberapa bagian yang menurut saya berjalan cukup lambat dan sedikit sulit dipahami, terutama karena saya membaca versi bahasa Inggris. Saya harus mengulang beberapa paragraf agar benar-benar memahami maksudnya. Namun setelah mencari informasi lebih lanjut, saya mengetahui bahwa Every Day juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia. Kehadiran edisi terjemahan tentu menjadi pilihan menarik bagi pembaca yang ingin menikmati ceritanya tanpa terkendala bahasa.
Secara garis besar, Every Day bukan sekadar novel tentang kisah cinta yang unik. Buku ini menawarkan refleksi mengenai identitas, empati, kehilangan, dan terutama tentang belajar melepaskan sesuatu yang tidak selalu bisa dimiliki. Di balik konsep fantasinya yang tidak biasa, David Levithan berhasil menghadirkan cerita yang terasa manusiawi dan menyentuh. Bagi saya, novel ini adalah bukti bahwa sebuah kisah tidak membutuhkan dunia yang megah untuk meninggalkan kesan mendalam, cukup sebuah pertanyaan sederhana: apakah kita akan tetap mencintai seseorang ketika yang tersisa hanyalah jiwanya?
Identitas Buku
Judul: Every Day
Penulis: David Levithan
Penerbit: Ember (versi bahasa Inggris)
Tahun Terbit: 2013 (versi bahasa Inggris)
ISBN: 978-0-307-93189-4 (versi bahasa Inggris)