Kolom

Perempuan yang Menulis: Saat Kata-Kata Menjadi Bentuk Keberanian

Perempuan yang Menulis: Saat Kata-Kata Menjadi Bentuk Keberanian
Ilustrasi perempuan yang sedang menulis (Unsplash/Darius Bashar)

Menulis sering dianggap sebagai kegiatan yang sunyi. Seseorang duduk berhadapan dengan layar atau selembar kertas, lalu menuangkan pikiran yang selama ini hanya hidup di dalam kepala. Namun, bagi banyak perempuan, menulis tidak pernah benar-benar menjadi aktivitas yang hanya melibatkan dirinya sendiri. Ada mata-mata yang mengamati, ada penilaian yang mengikuti, bahkan ada prasangka yang kerap melekat pada setiap kalimat yang mereka hasilkan.

Saya kerap mendapati bahwa masyarakat sering kali memandang tulisan perempuan bukan sekadar karya, melainkan cerminan utuh dari kehidupan pribadinya. Ketika seorang laki-laki menulis tentang patah hati, pembaca cenderung menganggapnya sebagai karya sastra atau imajinasi. Sebaliknya, ketika perempuan menulis tema serupa, tidak sedikit yang langsung bertanya, "Siapa yang menyakitinya?" atau "Apakah ini kisah hidupnya?" Seolah-olah perempuan tidak memiliki ruang untuk berimajinasi, bereksperimen, atau menciptakan tokoh yang berbeda dari dirinya.

Menurut saya, pandangan semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sering mengaitkan identitas perempuan dengan apa yang ia ungkapkan. Tulisan perempuan dianggap terlalu personal, terlalu emosional, bahkan terlalu berani ketika mengangkat isu-isu yang selama ini dianggap tabu. Padahal, menulis adalah cara seseorang berpikir, mengolah pengalaman, dan memahami dunia. Tidak semua tulisan merupakan pengakuan, sebagaimana tidak semua cerita adalah autobiografi.

Di sisi lain, ketika perempuan memilih menulis tentang isu sosial, politik, atau kritik terhadap budaya, tantangan yang dihadapi pun berubah. Alih-alih membahas gagasannya, sebagian orang justru mempertanyakan kapasitasnya. Komentar yang muncul sering kali lebih menyoroti siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan. Penampilan, usia, status pernikahan, hingga kehidupan pribadinya menjadi bahan diskusi yang sama sekali tidak berkaitan dengan isi tulisan.

Fenomena ini memperlihatkan adanya standar yang berbeda. Seorang penulis laki-laki lebih mudah dinilai berdasarkan argumen, sementara perempuan sering kali harus terlebih dahulu "membuktikan" bahwa dirinya layak didengar. Beban ini tidak terlihat, tetapi nyata. Akibatnya, banyak perempuan memilih mengurangi suaranya, menyensor pikirannya sendiri, atau bahkan mengurungkan niat untuk menulis karena takut menerima penilaian yang tidak ada hubungannya dengan kualitas karya.

Tantangan lain yang tidak kalah besar adalah stereotip mengenai tema yang "pantas" ditulis perempuan. Mereka kerap diasosiasikan dengan topik keluarga, percintaan, atau kehidupan sehari-hari. Bukan berarti tema-tema tersebut kurang penting, tetapi persoalannya muncul ketika masyarakat menganggap perempuan tidak memiliki otoritas untuk membahas ekonomi, teknologi, filsafat, atau politik. Padahal, kemampuan menulis tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh pengetahuan, riset, dan cara seseorang mengolah gagasan.

Ironisnya, sejarah justru menunjukkan bahwa banyak perubahan lahir dari tulisan perempuan. Mereka menulis untuk mendokumentasikan pengalaman yang tidak pernah tercatat, menyuarakan ketidakadilan yang diabaikan, dan membuka perspektif yang selama ini luput dari perhatian. Dari esai, novel, puisi, hingga artikel opini, tulisan perempuan telah menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan gerakan sosial.

Di era digital, kesempatan perempuan untuk menulis memang semakin terbuka. Siapa pun dapat membangun blog, menerbitkan buku secara mandiri, atau membagikan opini melalui media sosial. Namun, ruang yang lebih luas juga menghadirkan tantangan baru. Saya melihat bahwa perempuan lebih rentan menghadapi perundungan daring, komentar bernada seksis, hingga serangan personal yang sering kali bertujuan membungkam suara mereka. Kritik terhadap tulisan berubah menjadi serangan terhadap individu. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang memilih diam demi menjaga kesehatan mentalnya.

Meski demikian, perempuan terus menulis. Saya sendiri menulis bukan karena ingin selalu dipuji atau disetujui, melainkan karena menyadari bahwa pengalaman, pemikiran, dan perspektif saya memiliki nilai. Bagi saya, setiap tulisan adalah bentuk keberanian untuk hadir di ruang publik, menawarkan sudut pandang baru, dan ikut membangun percakapan yang lebih beragam.

Karena itu, masyarakat perlu belajar memisahkan karya dari prasangka. Tulisan seharusnya dinilai dari kekuatan argumen, kedalaman analisis, dan kualitas penyampaiannya, bukan dari jenis kelamin penulisnya. Perempuan yang menulis bukan sedang mencari perhatian atau melawan kodrat. Mereka hanya menjalankan hak yang sama untuk berpikir, berekspresi, dan berkontribusi melalui kata-kata.

Selama masih ada perempuan yang berani menulis, akan selalu ada suara yang memperkaya cara kita memahami dunia. Sebab, setiap kalimat yang lahir dari keberanian adalah langkah kecil menuju masyarakat yang lebih terbuka, lebih adil, dan lebih menghargai keberagaman perspektif.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda