Ulasan

Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona

Review Serial Marc by Sofia: Estetika Sunyi Sofia Coppola yang Memesona
Poster film Marc by Sofia (IMDb)

Marc by Sofia merupakan film dokumenter debut sutradara Sofia Coppola yang dirilis pada tahun 2025. Film ini menawarkan potret intim terhadap perancang busana legendaris Marc Jacobs, sahabat dekat Coppola sejak awal 1990-an. Dengan durasi sekitar 97 menit, dokumenter ini diproduksi oleh A24 dan tayang perdana di luar kompetisi Festival Film Venesia pada September 2025, sebelum rilis teater terbatas pada Maret 2026.

Film ini bukanlah biografi konvensional yang linear atau mendalam secara investigatif. Sebaliknya, Coppola menyusunnya sebagai kolase visual yang mencerminkan proses kreatif Jacobs yang non-linear. Struktur utamanya mengikuti persiapan koleksi Spring 2024 Jacobs di New York Fashion Week, yang bertema paper doll. Bab-bab dibagi berdasarkan hitungan minggu menjelang pertunjukan, diinterupsi oleh wawancara santai, arsip pertunjukan lama, klip film inspiratif, dan momen pribadi. Pendekatan ini menciptakan pengalaman imersif yang lebih mirip mood board daripada laporan jurnalistik tradisional.

Menjahit Sejarah Fashion Dunia Lewat Kamera

Salah satu adegan di film Marc by Sofia (IMDb)
Salah satu adegan di film Marc by Sofia (IMDb)

Coppola, yang telah mengenal Jacobs selama lebih dari tiga dekade, tidak berpura-pura objektif. Suaranya terdengar di balik kamera, dan ia bahkan muncul dalam beberapa adegan untuk berbagi kenangan, seperti pertemuan pertama mereka di pertunjukan grunge Jacobs untuk Perry Ellis atau kostum polisi kecil yang dibuat Jacobs untuk Halloween-nya. Kehangatan persahabatan ini menjadi kekuatan sekaligus keterbatasan film. Bagi penggemar mode dan pengikut karier Jacobs, film ini memberikan akses eksklusif ke pikiran kreatifnya. Akan tetapi, bagi penonton awam, ia mungkin terasa ringan dan kurang mendalam dalam mengeksplorasi tantangan bisnis, kehidupan pribadi, atau kontroversi.

Jacobs digambarkan sebagai seniman yang tenang, percaya diri, dan rendah hati. Ia mendiskusikan inspirasi awalnya—neneknya yang chic, babysitter era 1970-an, serta pengaruh sinema seperti The Bitter Tears of Petra von Kant karya Rainer Werner Fassbinder, Cabaret, All That Jazz karya Bob Fosse, dan Hello, Dolly!. Klip-klip film klasik ini dijalin dengan arsip pertunjukan Jacobs, menciptakan hubungan visual yang kaya. Ia juga membahas koleksi grunge-nya yang kontroversial, kolaborasi dengan Louis Vuitton (termasuk tas graffiti ikonik), serta filosofi bahwa setiap pertunjukan adalah teater tujuh menit.

Review Serial Marc by Sofia

Salah satu adegan di film Marc by Sofia (IMDb)
Salah satu adegan di film Marc by Sofia (IMDb)

Secara teknis, film ini memukau dengan sinematografi yang elegan, khas gaya Coppola. Montase arsip, foto keluarga, dan footage di balik layar studio menciptakan ritme yang dinamis. Penampilan cameo dari tokoh seperti Grace Coddington, Kim Gordon, Pharrell Williams, dan Spike Jonze menambah kedalaman budaya. Jacobs terlihat santai di rumah dengan jubah mandi, memilih kain, mendiskusikan prop raksasa, atau mengarahkan wig kapas kapas berlapis untuk model. Ketegangan kecil muncul saat ia sedikit gugup menjelang pertunjukan, memberikan humanisasi yang menyentuh.

Salah satu adegan paling berkesan adalah rekonstruksi visual inspirasi sinematik Jacobs. Coppola menampilkan klip Hey Big Spender dari Sweet Charity, diikuti langsung oleh tim Jacobs yang bereksperimen dengan wig tinggi, bulu mata dramatis, dan riasan dead Barbie. Transisi ini mengilustrasikan bagaimana referensi budaya pop berubah menjadi kreasi nyata, meninggalkan kesan mendalam tentang proses kreatif.

Adegan pertunjukan Spring 2024 di Park Avenue Armory juga tak terlupakan. Model-model berjalan di bawah meja dan kursi raksasa, dengan rambut tinggi dan pakaian oversized yang kartun-like, menciptakan teater surealis. Coppola fokus pada detail close-up—kain, aksesori, ekspresi—daripada wide shot keseluruhan, yang membuatku merasakan intensitas dan keajaiban panggung. Momen pasca-pertunjukan, di mana Jacobs berbincang santai keesokan paginya dalam piyama, membahas post-art-done depression, juga sangat manusiawi dan menggugah.

Adegan nostalgia lain yang kuat adalah pembahasan pertunjukan grunge awal dan kolaborasi X-Girl dengan Kim Gordon, termasuk footage jalanan Soho yang penuh energi 1990-an. Adegan-adegan ini tidak hanya merayakan kreativitas Jacobs tetapi juga semangat era tersebut.

Bagi penonton di Indonesia, Marc by Sofia tersedia untuk streaming di platform Max (sebelumnya HBO Max). Film ini dirilis di Max pada 16 Juli 2026. Max telah beroperasi di Indonesia sejak November 2024, menggantikan HBO Go, dan menyediakan akses ke berbagai konten Warner Bros. Discovery, termasuk dokumenter berkualitas tinggi seperti ini.

Secara keseluruhan, Marc by Sofia adalah karya yang menawan bagi pecinta mode dan sinema. Ia berhasil menangkap esensi persahabatan kreatif dan proses artistik dengan keanggunan khas Coppola. Meski ringan dan tidak komprehensif, film ini meninggalkan rasa ingin tahu lebih lanjut serta apresiasi mendalam terhadap warisan Jacobs. Aku rekomendasikan sebagai tontonan yang stylish dan reflektif, khususnya bagi mereka yang menghargai kolase budaya dan keindahan di balik kreasi. Rating pribadi: 7/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda