Ulasan
Buku Kisah-Kisah Nyesek saat KKN: Dari Lele Kuning hingga Begal Kampung
Berawal dari kunjungan saya kemarin, Selasa (21/7/2026), ke kantor desa Ledokombo Jember yang berjumpa dengan adik-adik mahasiswa KKN, sontak saya teringat kepada buku yang berjudul Kisah-Kisah Nyesek saat KKN ini.
Sebagai seorang lelaki gagah perkasa (tidak nyambung banget) yang telah menuntaskan membaca buku karya Frida Kurniawati dkk., saya merasa buku ini bukan sekadar kumpulan cerita pengalaman mahasiswa selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Lebih dari itu, buku ini adalah potret kecil tentang Indonesia yang mungkin jarang terlihat dari ruang-ruang kelas kampus.
Selama ini, KKN sering dipahami sebagai program pengabdian masyarakat yang menjadi syarat kelulusan mahasiswa. Namun setelah membaca buku ini, saya menyadari bahwa KKN sesungguhnya adalah sekolah kehidupan yang tidak pernah diajarkan secara lengkap di bangku kuliah. Di sanalah mahasiswa belajar tentang kesederhanaan, keterbatasan, keberagaman karakter manusia, hingga berbagai persoalan sosial yang nyata terjadi di tengah masyarakat.
Buku ini menghadirkan pengalaman nyata dari dua puluh empat penulis yang pernah menjalani KKN di berbagai daerah. Masing-masing penulis membawa cerita dengan warna yang berbeda. Ada yang lucu hingga membuat pembaca tertawa, ada yang menegangkan, ada yang romantis, bahkan ada pula yang bernuansa horor. Keberagaman pengalaman inilah yang membuat buku ini terasa hidup dan tidak membosankan.
Salah satu kisah yang paling membekas bagi saya adalah pengalaman Frida Kurniawati saat menjalani KKN di Sebujit. Gambaran tentang keterbatasan listrik di daerah tersebut begitu sederhana namun mampu menyentuh kesadaran pembaca.
“Di Sebujit, listrik membanjir hanya dari pukul enam atau tujuh malam selama kurang lebih empat jam. Bahkan, pernah dalam suatu masa ketika kami tinggal di sana, listrik menyala dua atau tiga hari sekali, bukan tiga kali sehari.”
Kutipan tersebut terasa sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam. Di saat sebagian besar masyarakat perkotaan menganggap listrik sebagai kebutuhan yang selalu tersedia, masih ada daerah yang harus menyesuaikan seluruh aktivitasnya dengan jadwal menyala listrik. Melalui pengalaman itu, saya diajak melihat bahwa pembangunan belum sepenuhnya merata.
Selain menghadirkan kisah tentang keterbatasan fasilitas, buku ini juga memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat yang terkadang jauh dari bayangan mahasiswa. LD. Lustikasari, misalnya, menceritakan keterkejutannya saat berhadapan dengan kasus kriminalitas di lokasi KKN.
“Sebagai mahasiswa universitas negeri yang alur hidupnya terlalu lempeng; kos-kampus-kos-kampus, tentu hal-hal kriminal serupa pembegalan, narkoba, dan kekerasan terasa tabu bagi saya. Namun di tempat KKN, saya seperti sedang masuk ke dalam negeri dongeng yang saban hari dikidungkan oleh acara berita kriminal di televisi.”
Kenyataan ini menggambarkan benturan antara kehidupan kampus yang relatif aman dengan realitas sosial masyarakat yang jauh lebih kompleks. Mahasiswa yang sebelumnya hanya mengenal teori akhirnya harus berhadapan langsung dengan persoalan nyata yang tidak pernah muncul dalam buku ajar.
Meski mengangkat banyak kisah yang “nyesek”, buku ini justru terasa ringan dan menghibur. Para penulis mampu menyampaikan pengalaman mereka dengan gaya bertutur yang santai dan penuh humor. Saya beberapa kali dibuat tertawa oleh cerita-cerita yang mungkin terdengar sepele, tetapi justru menjadi kenangan paling berkesan selama KKN.
Salah satunya adalah kisah Lele Kuning karya Ramajani Sinaga yang menceritakan perjuangan mencari tempat buang air di daerah dengan fasilitas terbatas. Ada pula pengalaman Bustamin yang tanpa sengaja diberaki ayam saat tidur karena rumah tempat tinggalnya tidak memiliki sekat kamar yang memadai.
Kisah-kisah seperti ini membuat saya menyadari bahwa mahasiswa KKN sering kali harus beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka.
Namun di balik kelucuan tersebut, tersimpan banyak pelajaran berharga. Buku ini menunjukkan bahwa masyarakat pedesaan memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Dalam berbagai cerita, tampak bagaimana warga saling membantu, menghormati tamu, dan menjaga kebersamaan. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, selalu ada ruang untuk gotong royong dan kepedulian.
Saya juga menyukai cara buku ini menghadirkan beragam sudut pandang. Setiap penulis memiliki pengalaman, karakter, dan gaya bercerita yang berbeda. Hal itu membuat pembaca tidak merasa sedang membaca kisah yang berulang-ulang. Justru keberagaman cerita tersebut memperlihatkan betapa luas dan berwarnanya pengalaman KKN di Indonesia.
Dari sisi penulisan, bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami. Tidak ada kalimat yang terlalu berat atau akademis. Pembaca dari berbagai kalangan dapat menikmati isi buku ini tanpa kesulitan. Bahkan bagi mereka yang belum pernah menjalani KKN, buku ini mampu memberikan gambaran yang cukup jelas tentang suka duka kehidupan mahasiswa di lapangan.
Menurut saya, kelebihan utama buku ini terletak pada kejujurannya. Para penulis tidak berusaha menampilkan KKN sebagai pengalaman yang selalu indah. Mereka juga tidak menutupi berbagai kesulitan yang dialami. Justru dari kejujuran itulah pembaca dapat merasakan emosi yang nyata, mulai dari tawa, kesal, takut, haru, hingga rasa syukur.
Buku ini sangat layak dibaca oleh mahasiswa yang akan menjalani KKN. Berbagai cerita di dalamnya dapat menjadi bekal mental sekaligus pengingat bahwa kondisi lapangan sering berbeda dengan ekspektasi.
Selain itu, buku ini juga menarik dibaca oleh masyarakat umum maupun para pemangku kebijakan karena menyajikan gambaran nyata tentang kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur di berbagai daerah.
Bagi saya, Kisah-Kisah Nyesek saat KKN bukan hanya kumpulan cerita mahasiswa yang sedang mengabdi di desa. Buku ini adalah rekaman pengalaman manusia yang belajar memahami Indonesia secara lebih dekat. Saya menutup buku ini dengan senyum sekaligus perenungan.
Di balik kisah-kisah lucu, nyesek, dan kadang absurd, tersimpan pelajaran berharga tentang empati, ketangguhan, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
Identitas Buku
Judul: Kisah-Kisah Nyesek saat KKN
Penulis: Frida Kurniawati, dkk
Penerbit: Diva Press
Cetakan: I, 2017
Tebal: 151 Halaman
ISBN: 978-602-391-495-1
Genre: Fiksi Indonesia