Ulasan

Membaca Es Krim Pertamaku: Luka Batin Tak Selalu Sembuh oleh Waktu

Membaca Es Krim Pertamaku: Luka Batin Tak Selalu Sembuh oleh Waktu
Es Krim Pertamaku (Dok.Pribadi/Oktavia)

Jujur, ketika ngambil buku ini aku memang tertarik sama nama yang ada di pengantar. Iqbal Aji Daryono itu salah satu penulis artikel populer yang sering kubaca. Opini-opininya tajam dan mudah dipahami. Gaya tulisnya sedikit mirip Tere Liye tapi versi lebih lembut. Berjudul Es Krim Pertamaku, buku setebal 166 halaman ini mengajak pembaca memahami makna mencintai diri sendiri melalui kisah-kisah nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Merupakan kumpulan karya terpilih dari Lomba Menulis 16 Tahun Klik Media. Kredibilitasnya semakin kuat karena proses kurasinya dilakukan oleh para juri yang telah lama dikenal di dunia literasi, yakni Iqbal Aji Daryono, Titah AW, Soni Triantoro, dan Alya Rachma.

Isi Buku

Tema utama buku ini adalah perjalanan seseorang untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Namun, mencintai diri sendiri di sini tidak dipahami sebagai sikap egois atau sekadar memanjakan diri. Buku ini justru memperlihatkan bahwa mencintai diri sendiri sering kali merupakan proses panjang yang lahir dari pengalaman hidup yang menyakitkan.

Pembaca akan menemukan berbagai kisah tentang individu yang pernah ditolak, diremehkan, atau kehilangan rasa berharga. Ditulis oleh Rainy Amanda, Minhajuddin, M. In'amul Aufa, Yohanes Britto Wirajati, M. Aidul Bakri, Evichii, Citta Mandala, Ranang Aji SP, Foggy. F. Ferdiana, Helva Silvianita, Niamah, Riska Septya Rahayu, Muhammad Agumelar Saddam Husain, Nur Afni Aripin, Moh. Ahsanul Umam, Dea Intan Purwanti, Ni Komang Triani, Julianus Gunawan, Sarimoon, dan Angelica Mulia. 

Ada cerita mengenai seseorang yang tumbuh sebagai people pleaser, selalu berusaha menyenangkan orang lain hingga melupakan kebutuhannya sendiri. Ada pula kisah tentang mereka yang kehilangan kepercayaan diri karena keterbatasan fisik, mengalami kekerasan dalam keluarga, membawa luka inner child, hingga hidup dalam hubungan yang tidak sehat.

Semua kisah tersebut memiliki benang merah yang sama: seseorang baru bisa benar-benar mencintai orang lain setelah belajar menerima dirinya sendiri.

Salah satu tulisan yang paling membekas adalah karya Rainy Amanda berjudul "Es Krim di Kepala Tiga Pertama". Cerita ini mengangkat pengalaman mengikuti psikoterapi dan berdialog dengan inner child. Terapis memberikan tugas sederhana: memenuhi keinginan pertama yang muncul dari diri kecilnya.

Jawabannya ternyata hanya satu.

"Es krim."

Permintaan yang terdengar sangat sederhana itu justru menghadirkan pergulatan batin yang besar. Tokoh dalam cerita merasa takut bahkan hanya untuk membeli es krim. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena selama bertahun-tahun ia terbiasa mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.

Dalam kisah itu memperlihatkan bagaimana orang dewasa sering kali berusaha menegosiasikan kebutuhan emosionalnya sendiri menggunakan logika. Padahal, luka masa kecil tidak selalu membutuhkan penjelasan rasional. Kadang ia hanya membutuhkan rasa aman, penerimaan, dan kesempatan untuk memenuhi keinginan sederhana yang dulu tidak pernah terpenuhi.

Kelebihan dan Kekurangan

Alih-alih memberikan daftar cara mencintai diri sendiri, buku ini mengajak pembaca menyelami pengalaman manusia yang sangat personal. Pembaca tidak diposisikan sebagai murid yang harus menerima nasihat, tetapi sebagai teman seperjalanan yang diajak merenungkan luka-lukanya sendiri.

Secara gaya bahasa, hampir seluruh tulisan menggunakan bahasa populer yang ringan sehingga mudah dipahami oleh pembaca umum. Meskipun berasal dari banyak penulis dengan latar belakang berbeda, kualitas narasinya relatif konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyuntingan dan kurasi dilakukan dengan baik.

Namun, karena berupa kumpulan tulisan, kedalaman setiap cerita tentu tidak sama. Ada kisah yang sangat emosional dan membekas, sementara beberapa lainnya terasa lebih singkat sehingga belum sepenuhnya mengeksplorasi konflik yang diangkat. Meski demikian, keragaman sudut pandang justru menjadi kelebihan buku ini karena memperlihatkan bahwa luka batin setiap orang memiliki bentuk yang berbeda.

Es Krim Pertamaku adalah kumpulan kisah tentang manusia yang perlahan belajar memeluk dirinya sendiri setelah bertahun-tahun hidup dengan rasa bersalah, malu, takut, atau merasa tidak cukup berharga. Buku ini mengingatkan bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti menjadi egois. Justru dengan menerima luka, memahami kebutuhan emosional, dan berdamai dengan masa lalu, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain.

Seperti es krim yang menjadi simbol dalam salah satu kisahnya, kebahagiaan kadang hadir bukan dalam hal-hal yang besar. Ia bisa berawal dari keberanian memenuhi kebutuhan kecil yang selama ini terus kita abaikan. Dan mungkin, di situlah manisnya mencintai diri sendiri benar-benar terasa.

Identitas Buku

  • Judul: Es Krim Pertamaku: Ternyata Menyayangi Diri Sendiri Itu Manis Rasanya
  • Penulis: Rainy Amanda, Minhajuddin, M. In'amul Aufa, dkk. 
  • Penerbit: C-Klik Media 
  • Tahun Terbit: 2023
  • Tebal: x + 166 halaman
  • ISBN: 978-623-357-108-1
  • Kategori: Kumpulan Kisah Motivasi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda