Ulasan
Review The Devil's Mouth: Film yang Gagal Memaksimalkan Ide Besarnya
Film tentang hiu memang hampir selalu berhasil menarik perhatian pecinta thriller. Formula manusia melawan predator laut sudah berkali-kali digunakan, tapi tetap ada daya tariknya tersendiri. Nah, The Devil's Mouth mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.
Alih-alih menghadirkan hiu di lautan lepas, film ini menempatkan ancamannya di dalam sistem gua bawah laut yang sempit dan gelap. Memang, sekilas konsepnya menjanjikan banget dengan menggabungkan dua pancingan sekaligus; predator laut dan rasa sesak terjebak tanpa jalan keluar. Hanya saja, Sobat Yoursay ada baiknya turunkan ekspektasi.
Film berdurasi sekitar 105 menit ini disutradarai Jeff Wadlow dan sudah rilis di Prime Video pada 29 Juli 2026. Produksinya melibatkan Thunder Road Films bersama Lionsgate, sementara distribusi global ditangani Amazon MGM Studios melalui layanan streaming Prime Video. Naskahnya ditulis Jeff Wadlow, Aja Gabel, dan Myung Joh Wesner.
Deretan pemain mudanya cukup menjanjikan. Kathryn Newton memerankan Sara, didampingi Lana Condor sebagai Max. Film ini juga dibintangi Nico Hiraga, Gavin Casalegno, Tommi Rose, serta Tayme Thapthimthong. Dengan kombinasi sutradara berpengalaman dan para aktor muda yang sedang naik daun, sebenarnya film ini memiliki modal yang cukup kuat menjadi salah satu thriller survival yang menarik tahun ini.
Dikisahkan Sara dan Max tengah berlibur bersama teman-temannya di Thailand. Liburan mereka bermula dengan pesta di atas kapal dan menikmati keindahan laut. Namun, suasana berubah ketika Sara secara nggak sengaja tertinggal jauh dari kapal. Teriakannya nggak terdengar hingga akhirnya dia diserang ubur-ubur. Insiden tersebut meninggalkan trauma sekaligus membuat hubungan Sara dan Max dibebani rasa bersalah dan saling menyalahkan.
Meski hubungan mereka belum pulih, rombongan tetap mengikuti tur menuju sistem gua bawah laut yang dikenal sebagai The Devil's Mouth. Tanpa mereka sadari, badai sebelumnya telah menyeret seekor hiu banteng masuk ke dalam gua tersebut. Jalur keluar yang sempit, ruang gerak yang terbatas, serta persediaan udara yang terus menipis membuat mereka terjebak dalam situasi hidup dan mati. Kepanikan mulai menguasai kelompok itu ketika satu per satu menjadi sasaran sang predator, sementara keputusan-keputusan yang mereka ambil semakin memperburuk keadaan.
Seru kali, ya, Sobat Yoursay. Sayangnya ….
Ide Brilian Nggak Otomatis menghasilkan Film yang Keren

Masalah terbesar bukan terletak pada ide ceritanya, melainkan pada bagaimana ide tersebut dieksekusi. Skripnya terlalu sibuk mengejar serangan hiu dibanding membangun ketegangan secara bertahap. Padahal thriller survival terbaik biasanya bikin penonton merasa cemas bahkan ketika monster belum muncul. Rasa takut lahir dari suasana, bukan semata-mata dari ancaman yang terus diperlihatkan.
Sayangnya, The Devil's Mouth malah lebih sering mengandalkan karakter yang berteriak, panik, dan saling menyalahkan. Ketegangan yang seharusnya muncul dari kondisi gua malah tenggelam dalam dialog yang kaku dan keputusan para tokohnya yang bego. Ujung-ujungnya, ya, aku frustrasi melihat tingkah mereka. Boro-boro larut nonton perjuangan mereka bertahan hidup.
Persoalan lain muncul pada pengembangan karakter. Selain Sara dan Max, hampir semua tokoh pendukung hanya 'numpang tampil. Jelas banget kok mereka cuma calon korban yang bakal dimatikan di menit-menit tertentu. Aku sama sekali nggak dikasih cukup waktu untuk mengenal siapa mereka, apa ketakutan mereka, maupun alasan mengapa aku harus peduli ketika mereka berada dalam bahaya. Akibatnya, setiap kematian cuma jadi sebatas daftar korban, bukan momen yang membekas.
Padahal konflik antara Sara dan Max sebenarnya cukup menarik. Hubungan mereka retak akibat rasa bersalah setelah insiden ubur-ubur. Jika konflik tersebut digali lebih dalam, film bisa menyuguhkan perjalanan emosional tentang memaafkan diri sendiri di tengah situasi mematikan. Namun ide itu hanya disentuh di permukaan sebelum akhirnya menguap begitu saja.
Parahnya lagi, aset terbesar film ini nggak dimanfaatkan maksimal. Gua bawah laut dengan lorong sempit, minim cahaya, dan oksigen yang terus menipis sudah cukup untuk membuat penonton merasa nggak nyaman, lho. Sutradara Jeff Wadlow sebenarnya memiliki semua elemen membangun horor psikologis yang efektif melalui suara air, keheningan, ruang sempit, dan rasa putus asa. Namun, filmnya lebih suka menampilkan pola serangan hiu.
Begitulah. The Devil's Mouth jadi contoh ide besar membutuhkan penulisan yang sama besarnya. Konsep hiu yang memburu manusia di dalam gua bawah laut itu termasuk cerita yang segar dalam subgenre film hiu beberapa tahun terakhir, lho. Hanya saja, tanpa karakter yang kuat, dialog yang meyakinkan, dan pembangunan tensi yang konsisten, ide tersebut ujung-ujungnya cuma jadi uap.
Terlepas dari penilaian akhirnya, Sobat Yoursay kalau penasaran tetap harus nonton di Prime Video. Selamat menonton.