Ulasan

Ulasan Wedding Impossible: Mengkritisi Norma di Balik Tuntutan Menikah

Ulasan Wedding Impossible: Mengkritisi Norma di Balik Tuntutan Menikah
Drama Korea Wedding Impossible (Instagram/tvn_drama)

Pernikahan sering dianggap sebagai salah satu fase dalam hidup manusia. Setelah mencapai usia tertentu, seseorang mulai dihadapkan pada pertanyaan tentang pasangan dan rencana menikah. Pilihan untuk tetap sendiri pun tak jarang dianggap sebagai aneh dan tidak lazim. Fenomena tersebut menjadi salah satu topik yang diangkat oleh drama Korea Wedding Impossible. Drama ini tidak hanya bercerita tentang pernikahan palsu antara dua sahabat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keputusan menikah dapat dipengaruhi oleh tuntutan keluarga dan norma sosial.

Lee Do Han (diperankan Kim Do Wan) harus menghadapi desakan keluarganya untuk menikah, meski ada masalah pribadi yang membuatnya tidak bisa begitu saja memenuhi keinginan tersebut. Di sisi lain, Na A Jeong (diperankan Jeon Jong Seo) melihat pernikahan palsu sebagai sebuah pekerjaan sekaligus kesempatan untuk memainkan peran utama yang selama ini tidak pernah ia dapatkan sebagai aktris figuran.

Lantas, bagaimana Wedding Impossible mengajak penonton melihat kembali anggapan tentang pernikahan yang selama ini dianggap lumrah? Simak ulasan lengkapnya.

Pernikahan Bukan Lagi Pilihan Personal

Wedding Impossible cukup menarik dalam menunjukkan bahwa pernikahan tidak selalu berdiri sebagai keputusan personal. Bagi keluarga Lee Do Han, pernikahan juga berkaitan dengan citra keluarga, posisi sosial, dan kepentingan penerus perusahaan. Do Han berada dalam posisi yang serba salah karena keluarganya sudah memiliki rencana tentang masa depan yang harus ia jalani.

Bagi saya, drama ini berhasil menangkap persoalan tentang pernikahan yang sering dianggap sebagai sebuah keharusan. Padahal, keputusan untuk menikah semestinya lahir dari keinginan orang yang menjalaninya. Melalui kisah Do Han, Wedding Impossible memperlihatkan posisi sulit seseorang yang harus mencari jalan keluar dari tuntutan hidup yang tidak sesuai dengan pilihan pribadinya.

Norma Pernikahan dan Kehidupan yang Dianggap Ideal

Tekanan untuk menikah tentu tidak hanya dialami oleh orang-orang dari keluarga kaya seperti Do Han. Dalam kehidupan sehari-hari, pernikahan masih sering ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan yang dianggap ideal. Begitu memasuki usia tertentu, seseorang seolah diharapkan sudah memiliki pasangan dan mulai memikirkan pernikahan.

Pertanyaan tentang pasangan, rencana menikah, hingga keinginan memiliki anak pun kerap muncul tanpa mempertimbangkan bahwa setiap orang memiliki pilihan dan jalan hidup yang berbeda. Seolah-olah kehidupan harus mengikuti tahapan yang sama agar dianggap lengkap.

Menurut saya, Wedding Impossible menarik karena memperlihatkan absurditas dari tuntutan tersebut melalui konsep pernikahan palsu. A Jeong sebenarnya tidak benar-benar menikah dengan Do Han. Ia hanya diminta memainkan peran sebagai istri demi membantu sahabatnya menghadapi keluarganya.

Berkat pengalamannya sebagai aktris fuguran, A Jeong seolah tidak perlu banyak belajar untuk menjadi seorang istri karena standar mengenai sosok istri ideal sudah begitu familiar. Masyarakat memiliki ekspektasi tertentu terhadap penampilan, sikap, dan perilaku perempuan yang dianggap pantas dalam sebuah pernikahan.

Apakah Wedding Impossible Layak Ditonton?

Di tengah konflik tentang tuntutan pernikahan, hubungan A Jeong dan Lee Ji Han (diperankan Moon Sang Min), adik Lee Do Han, menjadi salah satu daya tarik utama drama ini.

Pada awalnya, Ji Han berusaha menghentikan pernikahan kakaknya karena ingin memastikan Do Han tetap menjadi penerus LJ Group. A Jeong pun dianggap sebagai penghalang bagi rencana tersebut. Namun, sikap Ji Jan perlahan berubah setelah perasaannya kepada A Jeong tumbuh. Hubungan yang semula dipenuhi kecurigaan dan pertentangan berkembang menjadi kedekatan yang lebih personal. Menurut saya, perubahan dinamika tersebut menjadi salah satu alasan cerita tetap terasa menarik, terutama di bagian awal hingga pertengahan.

Sayangnya, kekuatan premis Wedding Impossible tidak sepenuhnya bertahan sampai akhir. Konsep pernikahan palsu dan persoalan identitas membuat bagian awal drama terasa cukup segar. Akan tetapi, memasuki bagian akhir, cerita mulai mengandalkan konflik yang lebih familiar, seperti kesalahpahaman dan pengorbanan sepihak.

Akibatnya, sejumlah konflik yang sebenarnya memiliki potensi untuk digali lebih jauh justru menjadi kurang mendapat perhatian. Konflik identitas Do Han, misalnya, dapat menjadi ruang untuk membahas tekanan keluarga dan norma pernikahan secara lebih mendalam. Namun, cerita kemudian lebih banyak berfokus pada hubungan romantis serta perebutan kepentingan dalam keluarga. Namun, meski memiliki beberapa kekurangan dalam pengembangan ceritanya, menurut saya Wedding Impossible tetap layak ditonton, terutama bagi penonton yang menyukai drama romantis dengan premis pernikahan palsu dan konflik keluarga.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda