Ulasan
Sepucuk Surat dalam Film Dear You Mengajarkan Arti Rindu yang Hilang
Kita hidup di zaman ketika jarak seharusnya sudah nggak punya banyak alasan untuk memisahkan manusia. Tinggal membuka WhatsApp, mengetik pesan, lalu beberapa detik kemudian kabar sudah sampai ke orang yang berada ribuan kilometer jauhnya. Kita bisa mengirim foto, melakukan video call, bahkan melihat seseorang secara langsung tanpa perlu datang ke tempatnya. Namun anehnya, kemudahan komunikasi itu nggak selalu membuat manusia semakin dekat. Kadang sebaliknya, kita bisa berbicara setiap hari dengan seseorang tanpa benar-benar tahu apa yang sedang dia rasakan.
Dari situlah ‘Dear You’ begitu menarik. Film drama keluarga China arahan Lan Hongchun ini menggunakan sesuatu yang sekarang nyaris ditinggalkan, yaitu surat, untuk membicarakan kerinduan, keluarga, perantauan, dan betapa rumitnya menjaga hubungan ketika seseorang pergi terlalu jauh dari rumah.
‘Dear You’, judul aslinya: Gi m de Qíngsh yang berarti: ‘Surat Cinta untuk Nenek’ merupakan film berdurasi sekitar 118 menit arahan Lan Hongchun. Film ini diproduksi Shenzhen King Ant Pictures, Damai Entertainment, Rongde Holdings, dan Shenzhen Lichun Pictures, dengan jajaran bintang nggak main-main. Di antaranya: Li Sitong, Wang Yantong, Wu Shaoqing, Zheng Runqi, Wang Xiaohui, Zhao Shuguang, Li Deru, Li Shuhao, serta aktris Thailand bernama Usha Seamkhum.
Film ini pertama kali dirilis di China pada April 2026 dan kemudian mendapatkan perilisan nasional pada 3 Mei. Setelah sukses besar di pasar domestiknya, ‘Dear You’ melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara dan akhirnya tayang di bioskop Indonesia pada 7 Agustus 2026. Film ini membawa latar kehidupan masyarakat Chaoshan atau Tiochiu dan menjadikan sejarah diaspora sebagai bagian penting dari perjalanan ceritanya, lho. Penasaran?
Ceritanya perihal Xiaowei, pemuda yang sedang terlilit utang dan kemudian pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya, Zheng Musheng. Dia mendengar sang kakek pernah tinggal di Thailand dan berhasil membangun kehidupan yang mapan. Harapannya nggak muluk-muluk: menemukan kakeknya sekaligus mendapatkan jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapinya.
Namun pencarian itu membawanya pada kenyataan bahwa Zheng Musheng sudah meninggal. Yang lebih mengejutkan, selama bertahun-tahun neneknya, Ye Shurou, menerima surat dan kiriman uang yang diyakininya berasal dari sang suami. Ketika Xiaowei mulai menggali kehidupan kakeknya di Thailand, dia menemukan fakta bahwa surat-surat tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih rumit dari yang selama ini dipercaya keluarganya.
Dari sinilah film bergerak ke masa lalu, mempertemukan kita dengan kehidupan Musheng dan Xie Nanzhi serta pilihan-pilihan yang akhirnya membentuk sejarah sebuah keluarga. Semenarik itu Film Dear You!
Menariknya Keberadaan Qiaopi

Iya, qiaopi. Surat yang secara historis dikirim para perantau China pada keluarga di tanah asal dan seringkali disertai kiriman uang. Bagi masyarakat Chaoshan yang memiliki sejarah panjang migrasi ke Asia Tenggara, surat seperti ini bukan sekadar alat komunikasi. Surat itu ibarat tali yang menghubungkan dua kehidupan. Seseorang mungkin sudah pergi jauh, membangun pekerjaan dan keluarga baru di negeri lain, tapi melalui selembar surat, masih bisa mengatakan pada keluarganya bahwa dirinya belum meninggalkan rumah.
Karena itu, ketika surat datang, yang diterima bukan hanya tulisan. Ada rasa tanggung jawab, kerinduan, kecemasan, dan harapan yang ikut masuk ke dalam amplop tersebut. Qiaopi sendiri merupakan bagian penting dari sejarah masyarakat perantauan China dan tercatat dalam UNESCO Memory of the World Register.
Di sinilah aku merasa surat dalam Film Dear You jauh lebih menyakitkan daripada pesan WhatsApp. Bukan karena surat lebih romantis atau teknologi zaman sekarang lebih buruk, tapi karena surat memiliki satu hal yang hampir nggak kita kenal lagi: penantian. Dulu, seseorang yang pergi ke negara lain nggak bisa begitu saja mengirim pesan ketika sudah tiba. Keluarganya harus menunggu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hanya untuk mendapatkan kabar. Ketika surat akhirnya datang, mereka membacanya dengan pengetahuan bahwa mungkin butuh waktu lama lagi sebelum kabar berikutnya tiba. Nggak ada status ‘online’, nggak ada centang dua, nggak ada ‘typing’, dan nggak ada cara untuk langsung bertanya kalau ada sesuatu yang nggak dipahami.
Sekarang, di masa kini, kita hidup dalam keadaan sebaliknya. Pesan bisa sampai dalam hitungan detik, tapi seringkali maknanya semakin ringan. Kita bisa mengirim pesan, “Sudah makan?” Tanpa lama-lama menunggu jawabannya. Kita bisa mengatakan, “Hati-hati’ sebagai kebiasaan yang bisa dikirim kapan saja sampai kehilangan sebagian bobot emosionalnya. Sayangnya, semakin mudah manusia berbicara dan berbagi kabar, kita malah makin sering nggak mengatakan apa yang ingin kita katakan. Teknologi berhasil menghapus jarak, tapi nggak pernah bisa menjamin kedekatan.
Film Dear You bahkan memperlihatkan, keterbatasan komunikasi bisa melahirkan sesuatu yang jauh lebih rumit: kesalahpahaman. Surat hanya membawa sebagian informasi. Orang yang menerima surat kemudian harus menafsirkan sendiri apa yang nggak tertulis.
Dalam kasus keluarga Musheng, informasi yang nggak lengkap tersebut akhirnya membentuk pemahaman tentang seseorang selama puluhan tahun. Xiaowei kemudian datang dari generasi berikutnya dan mulai menemukan potongan-potongan cerita yang selama ini hilang. Pencarian terhadap kakek pun berubah menjadi pencarian kebenaran keluarganya sendiri. Di sinilah film jadi lebih dari sekadar drama keluarga, karena film ini berhasil menunjukkan sejarah keluarga sering kali dibangun dari apa yang diketahui, bukan selalu dari apa yang sebenarnya terjadi.
Patut digarisbawahi. Film ini nggak sedang ngajak kita buat kembali menulis surat mode lama, sebaliknya, malahan lagi mengingatkan, kita tuh sekarang punya kesempatan yang jauh lebih besar untuk menjaga hubungan. Dan bila Sobat Yoursay penasaran, kamu bisa tonton langsung di bioskop, ya. Selamat menonton.