Ulasan
Viral Gegara Natalius Pigai, Ini 5 Buku Tipis Wajib Baca untuk Anak Muda yang Malas Baca Buku Tebal
Belakangan ini, pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai soal buku yang sebaiknya dibaca anak muda ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam sebuah video yang beredar, Pigai menyebut buku-buku karya orang Barat sebagai salah satu rekomendasi bacaan bagi anak muda karena menurutnya tulisan orang Indonesia cenderung subjektif.
Terlepas dari perdebatan mengenai pernyataan tersebut, ada satu hal yang sebenarnya menarik untuk dibicarakan, yaitu buku apa sebenarnya yang memang layak dibaca anak muda hari ini?
Jawabannya tentu tidak harus selalu buku tebal ratusan halaman. Justru, bagi kamu yang sedang mencoba membangun kebiasaan membaca, buku tipis bisa menjadi pilihan yang cukup masuk akal.
Tidak perlu langsung menaklukkan buku setebal bantal. Ada banyak buku yang bisa selesai dibaca dalam satu atau dua kali duduk, tetapi tetap meninggalkan pertanyaan dan pemikiran yang bertahan jauh lebih lama.
Berikut lima buku terjemahan karya penulis luar yang bisa kamu pertimbangkan.
1. Sang Alkemis - Paulo Coelho

- Jumlah halaman: 224 halaman
- Penulis: Paulo Coelho
- Penerbit edisi Indonesia: Gramedia Pustaka Utama
Kalau kamu sedang mencari buku tentang perjalanan mengejar impian, “Sang Alkemis” adalah salah satu pilihan yang sulit dilewatkan.
Novel karya penulis Brasil, Paulo Coelho, ini bercerita tentang Santiago, seorang penggembala muda asal Andalusia yang berulang kali memimpikan harta karun di dekat piramida Mesir.
Santiago kemudian meninggalkan kehidupan lamanya dan melakukan perjalanan panjang untuk menemukan harta tersebut. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan berbagai orang yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan, mimpi, keberanian, dan takdir.
Hal yang menarik dari buku ini adalah perjalanan Santiago mencari harta karun yang justru menjadi cara bagi Santiago untuk mengenali dirinya sendiri, menggapai impiannya, dan menemukan makna tentang kehidupan.
Bahasanya sederhana dan ceritanya mengalir. Karena itu, buku ini cocok untuk kamu yang baru ingin kembali membaca buku fiksi tanpa harus berhadapan dengan cerita yang terlalu rumit.
Buat saya pribadi, “Sang Alkemis” juga menjadi salah satu buku yang menarik karena setelah selesai dibaca, ceritanya masih bisa dibawa ke kehidupan sehari-hari, tentang apa yang sebenarnya kita cari dan seberapa berani kita mengejarnya.
2. Pangeran Cilik - Antoine de Saint-Exupéry

- Jumlah halaman: 118 halaman
- Penulis: Antoine de Saint-Exupéry
- Penerbit edisi Indonesia: Gramedia Pustaka Utama
Jangan tertipu oleh judul dan bentuknya yang seperti buku anak-anak.
“Pangeran Cilik” atau “Le Petit Prince” memang ditulis dengan cerita yang sederhana. Namun, semakin dewasa seseorang membacanya, semakin banyak hal yang terasa berbeda dari buku ini.
Cerita bermula ketika seorang pilot mengalami kecelakaan dan terdampar di Gurun Sahara. Di sana ia bertemu seorang anak kecil misterius yang berasal dari asteroid lain.
Pangeran Cilik kemudian bercerita mengenai perjalanannya mengunjungi berbagai planet dan bertemu dengan orang-orang dewasa yang memiliki sifat aneh. Ada raja yang ingin memerintah, orang yang haus pujian, pebisnis yang sibuk menghitung bintang, hingga seorang penjaga lampu.
Di balik cerita yang sederhana tersebut terdapat pertanyaan mengenai cinta, persahabatan, kesepian, dan cara manusia memandang kehidupan.
Edisi Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tercatat memiliki 118 halaman.
Buku ini cocok dibaca oleh anak muda Gen Z seperti kita semua, karena mengingatkan kita pada sesuatu yang sering hilang ketika dewasa, seperti kemampuan untuk melihat dunia tanpa terlalu sibuk dengan angka, status, dan penilaian orang lain.
3. What I Talk About When I Talk About Running - Haruki Murakami

- Jumlah halaman: 196 halaman
- Penulis: Haruki Murakami
- Penerbit edisi Indonesia: Bentang Pustaka
Buku ini cocok untuk kamu yang tidak terlalu suka membaca buku motivasi, tetapi tetap ingin mendapatkan suatu insight dari sebuah buku tentang kehidupan.
Haruki Murakami menulis buku ini sebagai memoar mengenai kegemarannya dalam berlari. Namun, jangan berharap menemukan panduan bagaimana cara berlari ataupun tips dan trik menjadi pelari profesional.
Murakami justru menggunakan pengalaman berlari untuk berbicara mengenai kehidupan sebagai seorang penulis, disiplin, kesepian, rasa sakit, kegagalan, dan proses menjalani hidup.
Dalam buku ini, lari menjadi semacam ruang bagi Murakami untuk berpikir. Ia membicarakan bagaimana dirinya menjalani maraton, menghadapi rasa lelah, dan terus melakukan sesuatu meskipun tidak selalu menyenangkan.
Edisi terbaru Indonesia dari Bentang Pustaka tercatat memiliki 196 halaman.
Buku ini menarik terutama bagi anak muda yang sedang berusaha membangun sesuatu dalam hidupnya. Sebab, salah satu pelajaran yang terasa kuat dari memoar ini adalah bahwa konsistensi sering kali jauh lebih penting daripada menunggu motivasi datang.
Kamu tidak harus seorang pelari untuk menikmati buku ini.
4. Animal Farm - George Orwell

- Jumlah halaman: 148 halaman
- Penulis: George Orwell
- Penerbit edisi Indonesia: Bentang Pustaka
Kalau ingin membaca buku tipis sekaligus belajar melihat bagaimana kekuasaan bekerja, Animal Farm adalah pilihan yang sangat menarik.
George Orwell menggunakan sebuah peternakan sebagai latar cerita. Para binatang yang selama ini hidup di bawah kekuasaan manusia kemudian melakukan pemberontakan. Mereka ingin membangun kehidupan baru yang lebih adil dan bebas.
Namun, setelah kekuasaan berhasil direbut, persoalan baru kemudian muncul.
Binatang-binatang yang sebelumnya berjuang melawan penindasan perlahan mulai membangun bentuk kekuasaan baru. Pada akhirnya, cita-cita mengenai kesetaraan justru dapat berubah menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan.
Edisi Indonesia dari Bentang Pustaka tercatat memiliki 148 halaman.
Meskipun ditulis sebagai alegori politik, Animal Farm tetap mudah dibaca karena ceritanya sederhana. Justru karena kesederhanaannya, buku ini bisa menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mulai membaca sastra politik.
Setelah selesai membacanya, kamu mungkin akan mulai bertanya: mengapa orang yang awalnya gigih melawan kekuasaan kemudian bisa berubah menjadi penguasa yang sama buruknya?
5. The Things You Can See Only When You Slow Down - Haemin Sunim

- Jumlah halaman: 265 halaman
- Penulis: Haemin Sunim
- Penerbit edisi Indonesia: POP
Buku terakhir ini sedikit berbeda karena penulisnya bukan berasal dari Barat. Haemin Sunim merupakan penulis Korea Selatan dan guru meditasi Zen yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat.
Namun, kalau kita sedang membicarakan buku luar yang layak dibaca anak muda, rasanya sayang jika buku ini dilewatkan.
“The Things You Can See Only When You Slow Down” berbicara mengenai satu persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai anak muda hari ini, kita hidup dalam dunia yang bergerak semakin cepat.
Kuliah, pekerjaan, media sosial, tuntutan keluarga, hubungan, karier, hingga keinginan untuk terus berkembang membuat kita seolah-olah harus selalu bergerak.
Haemin Sunim justru mengajak pembaca melakukan kebalikannya.
Melalui tulisan-tulisan pendek mengenai kehidupan, hubungan, cinta, pekerjaan, dan ketenangan batin, ia mengajak kita untuk berhenti sejenak dan memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri sendiri.
Edisi Indonesia yang diterbitkan POP memiliki 265 halaman dan dilengkapi ilustrasi.
Buku ini cocok dibaca secara perlahan. Tidak harus langsung tamat dalam sehari. Bahkan, beberapa bagiannya justru terasa lebih relevan ketika dibaca sedikit demi sedikit.
Jadi, Haruskah Membaca Buku Barat?
Pada akhirnya, persoalan membaca sebenarnya tidak sesederhana membagi buku menjadi "buku Barat" dan "buku Indonesia".
Buku yang bagus bisa datang dari mana saja.
Lima buku di atas dipilih bukan semata-mata karena penulisnya berasal dari luar Indonesia saja seperti yang disarankan oleh Natalius Pigai, akan tetapi karena masing-masing menawarkan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda.
“Sang Alkemis” berbicara tentang perjalanan mencari makna hidup. “Pangeran Cilik” mengajak kita melihat kembali dunia dengan cara yang lebih sederhana. Murakami menunjukkan bagaimana disiplin dan ketekunan dapat membentuk seseorang. Orwell mengajak kita mencurigai kekuasaan. Sementara Haemin Sunim mengingatkan kita bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan tergesa-gesa.
Lagi pula, membaca buku dari luar bukan berarti harus menganggap budaya sendiri lebih rendah.
Justru dengan membaca lebih banyak perspektif, kita memiliki kesempatan untuk membandingkan, mempertanyakan, dan membentuk pandangan sendiri.
Mungkin, itulah alasan paling sederhana mengapa anak muda perlu membaca, supaya kita punya lebih banyak cara untuk memahami dunia dan, pada akhirnya, memahami diri sendiri.