Ulasan
Melamban Bukan Hal yang Tabu, Ini Pelajaran dari Lagu 33x Perunggu
Saya pertama kali dengar 33x bukan lewat rekomendasi playlist, melainkan gara-gara sering muncul sebagai backsound reflektif di TikTok. Awalnya saya kira ini cuma lagu galau biasa dengan judul angka yang sengaja dibuat unik biar gampang diingat.
Tapi begitu saya cari tahu durasinya yang ternyata tujuh menit lebih, saya langsung mikir, "ini band niat banget bikin lagu sepanjang ini, pasti ada sesuatu yang serius di baliknya."
Ekspektasi saya pun berubah, dari yang tadinya menduga lagu santai jadi menduga ini semacam perjalanan musikal yang kompleks. Dan benar saja, begitu intro yang tenang mulai mengalun disusul lirik pertama yang berat, saya langsung merasa masuk ke ruang batin yang jauh lebih dalam dari yang saya bayangkan.
Soal konteks, 33x masuk ke genre alternatif rock dengan sentuhan spiritual yang kental, dirilis Perunggu pada Maret 2022 dalam album Memorandum.
Tema besarnya berputar pada perjalanan batin seseorang yang sedang berusaha berdamai dengan hidup, di tengah rasa lelah dan kehilangan arah.
Angka 33 sendiri erat dikaitkan dengan jumlah zikir dalam tradisi Islam, simbol pengingat untuk terus kembali mengingat Tuhan di setiap keadaan.
Relevansinya dengan situasi sekarang menurut saya kuat banget, terutama buat siapa saja yang hidup di tengah budaya serba cepat dan dituntut selalu produktif, sampai lupa caranya berhenti sejenak.
Secara garis besar, lagu ini menggambarkan seseorang yang terjebak dalam kegelisahan batin, merasa kendali atas hidupnya perlahan-lahan terambil alih oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Ada momen kebingungan, rasa lelah, hingga akhirnya perlahan menemukan ketenangan lewat penyerahan diri. Intinya, lagu ini bercerita tentang perjalanan emosi yang bergerak dari kekacauan menuju penerimaan, dari pertanyaan menuju keyakinan.
Nah, di sinilah saya mau kuliti beberapa bagian liriknya yang menurut saya paling menohok. Baris pembuka "risalah terikatnya, batin dan raga yang mengunci" langsung menggambarkan situasi psikologis yang stagnan, semacam perasaan terjebak yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa.
Lalu lanjut ke baris "di atas Sang Maha Daya semua kendali terambil alih", yang menurut saya jadi inti filosofis dari seluruh lagu, sebuah pengakuan jujur bahwa manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar memegang kendali penuh atas hidupnya.
Ada juga baris yang menurut saya paling menenangkan, "melamban bukanlah hal yang tabu", semacam kritik halus terhadap budaya hustle yang menuntut kita selalu bergerak cepat, padahal berhenti sejenak bukan berarti gagal. Baris "kami pernah di situ, di posisimu, helakan kesahmu" juga menyentuh, karena membawa nada empati, mengingatkan bahwa siapa pun yang sedang berada di titik terendah tidak benar-benar sendirian.
Soal kelebihan, kekuatan utama lagu ini ada pada kedalaman maknanya yang dibalut lirik puitis tanpa terasa menggurui, ditambah aransemen musik yang melankolis namun tetap menghangatkan.
Kekurangannya, durasi lagu yang cukup panjang bisa jadi tantangan tersendiri bagi pendengar yang terbiasa dengan lagu-lagu pendek dan langsung ke inti pesan.
Saya rasa 33x cocok didengarkan siapa saja yang sedang merasa lelah mengejar validasi atau kehilangan arah hidup.
Lagu ini juga pas untuk momen-momen sunyi ketika kita butuh diingatkan untuk melambat sejenak. Setelah selesai mendengarkan, saya pribadi merasa lebih ringan, seolah baru saja menyelesaikan satu putaran zikir batin yang panjang.
Identitas Karya
Judul: 33x
Penyanyi/Band: Perunggu
Tahun rilis: 2022 (album Memorandum)
Genre: Alternatif Rock/Religi
Durasi: sekitar 7-8 menit