Ulasan
Kidung Para Pencari: Menemukan Makna di Tengah Riuh Kehidupan
Ada masa ketika hidup terasa seperti perjalanan panjang tanpa papan penunjuk arah. Kita berjalan, berhenti, bertanya, lalu berjalan lagi. Yang dicari kadang bukan sesuatu yang jelas namanya. Mungkin makna, ketenangan, cinta, keyakinan, atau sekadar alasan untuk tetap melanjutkan langkah.
Di wilayah pencarian semacam itulah Kidung Para Pencari karya Nugroho Putu menemukan ruangnya. Diterbitkan pertama kali pada November 2020 oleh Elex Media Komputindo, buku setebal 144 halaman ini merupakan kumpulan puisi dan prosa liris yang mengajak pembaca memasuki percakapan batin tentang manusia, penantian, kesepian, cinta, kata-kata, dan perjalanan hidup.
Isi Buku
Pencarian dalam buku ini justru ditempatkan sebagai bagian dari keseharian manusia. Kita mencari sambil bekerja, menunggu sambil mencintai, berbicara sambil menyimpan luka, bahkan tertawa ketika sebenarnya hati sedang tidak baik-baik saja.
Gagasan itu terasa kuat dalam puisi “Pencarian”. Kehidupan digambarkan sebagai pencarian yang tidak pernah selesai. Gunung, gurun, pasar, lalu lintas, hiruk-pikuk manusia, hingga kesunyian menjadi lanskap tempat manusia mencari arti. Di tengah keramaian itu, manusia justru bisa kehilangan dirinya sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan retoris dalam puisi tersebut menjadi semacam cermin: bukankah manusia adalah pejalan yang terus mengembara mencari arti untuk mengisi kekosongan hati? Bukankah manusia juga sering menciptakan cerita sendiri di dalam kepala dan kemudian memperlakukannya seolah-olah nyata?
Di titik ini, puisi Nugroho Putu terasa dekat dengan pengalaman pembaca. Sebab, pencarian bukan semata perkara menemukan sesuatu di luar diri, melainkan juga keberanian menengok ke dalam diri sendiri.
Tema penantian muncul dengan nada yang berbeda. Dalam penggalan yang berbicara tentang murung, misalnya, penantian tidak diperlakukan sekadar sebagai masa kosong. Murung justru menjadi semacam seni menikmati jeda. Ada ironi ketika kebahagiaan harus dipentaskan demi membangun cerita, sementara kesedihan disimpan agar tidak merusak suasana.
Permainan bahasa menjadi salah satu kekuatan buku ini. Kalimat tentang abjad “c” dan “d” yang berdekatan, misalnya, mengubah persoalan komunikasi menjadi permainan makna: salah langkah dalam cerita dapat mengubah cinta menjadi derita. Percakapan pun akhirnya hanya menjadi pertukaran kabar, bukan pertukaran luka. Ketika telepon ditutup, jeda kembali dimulai. Sebuah jeda yang tidak memiliki birama pasti.
Kelebihan dan Kekurangan
Di sini cinta tidak selalu tampil romantis. Ia bisa menjadi ruang perjumpaan sekaligus pertarungan. Rindu bisa terobati, tetapi cinta juga dapat meninggalkan luka. Dengan metafora yang ringan namun getir, penulis memperlihatkan bahwa hubungan antarmanusia sering kali tidak sesederhana percakapan yang terdengar dari permukaan.
Sementara itu, “Pertarungan Kata” membawa pembaca pada wilayah kontemplasi. Setelah kata-kata berhamburan dalam sebuah percakapan, manusia membutuhkan jeda untuk kembali menemukan kejernihan. Diam tidak diposisikan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang untuk mengendapkan pikiran.
Puisi tersebut juga mempertemukan pergulatan intelektual dengan spiritualitas. Zikir, sujud, doa, dan keheningan menjadi bekal menghadapi “pertarungan” kata-kata. Ada gagasan sederhana tetapi penting: sebelum memenangkan perdebatan dengan orang lain, seseorang barangkali perlu berdamai lebih dahulu dengan dirinya sendiri.
Pandangan serupa hadir dalam “Sesat Sasar di Rimba Kata”. Bahasa digambarkan sebagai rimba yang penuh metafora, tanda baca, perspektif, dan kemungkinan makna. Manusia bisa tersesat bukan karena tidak memiliki pengetahuan, tetapi karena keliru memandang sesuatu. Yang kecil tidak diperhatikan, yang besar justru didekati terlalu dekat hingga kehilangan gambaran utuh.
Karena itu, Kidung Para Pencari pada akhirnya bukan sekadar kumpulan puisi tentang mencari. Ia merupakan catatan tentang manusia yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri. Tentang bagaimana kesepian, cinta, percakapan, spiritualitas, dan kegagalan membaca keadaan menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Buku ini seperti mengingatkan bahwa manusia mungkin tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan akhir. Sebab, setiap jawaban sering melahirkan pertanyaan baru. Setiap perjumpaan bisa membawa perpisahan, setiap penantian memiliki akhir, dan setiap perjalanan pada akhirnya mengantar manusia kembali kepada dirinya.
Barangkali itulah makna terdalam menjadi “para pencari”: bukan selalu tentang menemukan apa yang dicari, melainkan tentang tetap berjalan meski arah belum sepenuhnya terang.
Identitas Buku
- Judul: Kidung Para Pencari
- Penulis: Nugroho Putu
- Penerbit: PT Elex Media Komputindo
- Tanggal terbit: November 2020
- Tebal: 144 halaman
- ISBN: 978-623-00-2096-4
- Kategori: Sastra, Kumpulan Puisi dan Prosa