Ulasan

Review Juvenile Justice: Ketika Usia Menjadi Tameng bagi Pelaku Kejahatan

Review Juvenile Justice: Ketika Usia Menjadi Tameng bagi Pelaku Kejahatan
Juvenile Justice (IMDb)

Jika ada anak di bawah umur melakukan kejahatan, menurut Sobat Yoursay, lebih baik dihukum seberat-beratnya biar jera atau diberi fasilitas rehabilitasi dan perlakuan yang baik demi masa depannya?

Pertanyaan tersebut menjadi premis utama yang diangkat di drama Juvenile Justice. Drama ini bercerita tentang Shim Eun-seok (Kim Hye-soo), seorang hakim yang baru ditugaskan di Pengadilan Distrik Yeonhwa dan menangani berbagai kasus kejahatan yang dilakukan oleh anak di bawah umur.

Berbeda dari hakim pada umumnya, Eun-seok dikenal dingin dan tegas. Ia bahkan secara terang-terangan mengaku membenci pelaku kejahatan anak karena menganggap usia tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari konsekuensi dari perbuatan mereka.

Dalam menjalankan tugasnya, Eun-seok bekerja bersama Cha Tae-joo (Kim Mu-yeol), hakim yang memiliki pandangan berbeda dan lebih percaya pada kesempatan kedua serta rehabilitasi bagi anak-anak yang melakukan kejahatan. Keduanya kemudian menghadapi berbagai kasus, mulai dari pembunuhan, perundungan, hingga kekerasan yang melibatkan anak di bawah umur. Dari kasus-kasus tersebut, drama ini memperlihatkan bagaimana sulitnya menentukan hukuman yang adil ketika pelaku masih memiliki masa depan panjang, tetapi korban juga harus mendapatkan keadilan.

Ketika menonton drama ini, satu hal yang cukup mengejutkan bagi saya adalah bahwa kenakalan anak-anak dan remaja ternyata bisa sangat mengerikan. Di episode pertama saja, kita sudah ditunjukkan kasus remaja yang membunuh dan memutilasi anak kecil. Yang membuatnya semakin menyakitkan, kasus ini ternyata diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Korea tahun 2017 lalu.

Selain kasus pembunuhan tersebut, Hakim Shim Eun-seok juga menangani kasus lain, seperti kasus anak yang kabur dari rumah karena mengalami kekerasan, kecelakaan tabrak lari tanpa SIM, kebocoran soal ujian di sekolah elit, hingga kasus pemerkosaan berkelompok. Mirisnya, semua kejahatan tersebut pelakunya adalah para remaja nakal yang menyadari bahwa usia mereka masih dilindungi secara hukum sehingga berani melakukan tindakan kriminal.

Seiring berjalannya cerita, hal itu membuat saya cukup bisa memahami sikap keras Eun-seok terhadap pelaku kriminal anak. Melalui vonis yang dia berikan saat sidang, Eun-seok seolah sedang menunjukkan kepada terdakwa bahwa usia kini tidak bisa menjadi alasan bagi mereka untuk meremehkan hukum.

Sementara itu, Cha Tae-joo memiliki pandangan yang berbeda. Ia melihat bahwa anak-anak yang melakukan kejahatan masih memiliki kesempatan untuk berubah. Karena bagaimana pun mereka adalah anak kecil yang masih dalam masa pertumbuhan. Setiap perilaku yang mereka lakukan juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, maupun pengalaman buruk yang pernah dialami. Oleh karena itu, ia percaya bahwa rehabilitasi serta perlakuan yang baik dan penuh kasih sayang bisa menjadi jalan bagi anak-anak yang tersesat untuk kembali ke arah yang benar.

Melalui berbagai kasus yang mereka tangani, Juvenile Justice menunjukkan bahwa persoalan kejahatan anak jauh lebih kompleks daripada sekadar memberikan hukuman atau memaafkan pelaku. Ada korban yang membutuhkan keadilan, ada pelaku yang masih punya masa depan, dan ada pula lingkungan yang ikut berperan dalam membentuk perilaku mereka.

Di drama ini kita juga diperlihatkan bahwa tidak semua pelaku anak bisa dipandang sebagai korban yang harus selalu dilindungi. Dalam kasus tertentu, memang ada anak yang melakukan kriminal karena menjadi korban kekerasan, misalnya. Namun, di sisi lain, kita juga melihat banyak pula pelaku yang dengan sadar memanfaatkan celah dalam sistem peradilan anak untuk menghindari konsekuensi.

Ini yang paling bikin saya greget. Apalagi ketika pelaku terlihat begitu percaya diri di pengadilan karena merasa dirinya tidak bisa dihukum dengan alasan usia. Hal itu seolah juga memberikan validasi bahwa memberi kesempatan kedua tanpa dibarengi dengan konsekuensi yang tegas belum cukup untuk membuat anak merasa jera. Ini juga ditunjukkan di adegan awal, ketika anak-anak yang berada dalam masa rehabilitasi ternyata malah melakukan pencurian.

Selain itu, Juvenile Justice juga memberikan kritik yang cukup tajam tentang pola asuh. Pengabaian orang tua, tekanan ekspektasi keluarga, hingga kekerasan rumah tangga bisa menumbuhkan monster dalam diri seorang anak. Dan mungkin berawal dari sanalah, pelaku kriminal anak lahir dan melakukan berbagai kejahatan tanpa merasa takut.

Drama ini mengangkat isu yang cukup berat. Jadi bagi yang memiliki trauma atau pernah mengalami kekerasan, Juvenile Justice kurang saya rekomendasikan. Tetapi buat penggemar tema hukum, drama ini layak banget buat masuk watchlist.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda