Ulasan

Membaca Orang Tuaku Hobi Menghukum: Seni Mendidik Tanpa Melukai

Membaca Orang Tuaku Hobi Menghukum: Seni Mendidik Tanpa Melukai
Orang Tuaku Hobi Menghukum (Dok.Pribadi/Oktavia)

Pernah melihat anak melakukan kesalahan kecil, lalu respons orang tuanya langsung, “Nak, jangan begitu!” disusul bentakan, ancaman, atau bahkan hukuman? Menariknya, kadang yang membuat anak takut bukan karena ia memahami kesalahannya, melainkan karena ia tahu setelah melakukan sesuatu yang dianggap salah, hukuman sudah menunggu.

Fenomena inilah yang dibahas Miftahul Jinan dalam buku Orang Tuaku Hobi Menghukum: Panduan Memberi Sanksi pada Anak Bagi Orang Tua dan Guru. Buku yang diterbitkan Filla Press, pada 2010 ini membongkar kebiasaan orang tua memberikan hukuman kepada anak.

Buku ini juga mengajak pembaca bertanya, apakah hukuman benar-benar membuat anak belajar, atau cuma membuat anak takut? Judul bukunya memang terdengar provokatif. Bagaimana mungkin orang tua “hobi” menghukum?

Isi Buku

Menurut Jinan, ada kemiripan antara hobi dan kebiasaan menghukum. Orang yang memiliki hobi akan melakukannya berulang kali dan merasa ada sesuatu yang kurang ketika lama tidak melakukannya. Begitu pula sebagian orang tua. Hukuman dilakukan berulang-ulang dan ketika anak langsung berubah setelah dihukum, orang tua merasa cara tersebut berhasil.

Masalahnya, keberhasilan itu sering kali cuma terlihat di permukaan.

Misalnya anak mencoret-coret tembok. Orang tua punya dua pilihan. Bisa membentak dan memukul tangannya agar ia berhenti saat itu juga. Atau menjelaskan bahwa tempat menggambar adalah kertas, kemudian mengajak anak membersihkan tembok. Pilihan pertama memang terlihat lebih cepat. Anak berhenti karena takut. Tetapi ia belum tentu memahami alasan mengapa mencoret tembok itu salah.

Inilah salah satu alasan orang tua akhirnya “ketagihan” hukuman: hasilnya instan.

Jinan menguraikan beberapa penyebab. Pertama, pola asuh diwariskan. Orang tua yang dulu dibesarkan dengan bentakan atau hukuman fisik bisa menganggap cara tersebut normal karena merasa dirinya juga “baik-baik saja”. Kedua, hukuman dianggap paling manjur. Ketiga, minimnya pengetahuan tentang parenting membuat orang tua tidak memiliki banyak alternatif. Keempat, konflik pasangan kadang ikut terbawa ke pola pengasuhan sehingga anak menjadi sasaran pelampiasan emosi. Kelima, aturan di rumah tidak jelas. Anak tidak diberi tahu mana yang boleh dan tidak boleh, tetapi tiba-tiba dihukum ketika melakukan sesuatu yang ternyata dianggap salah.

Padahal, anak bukan pembaca pikiran.

Kalau hari ini pintu ditutup keras lalu dimarahi, besok pintu dibiarkan terbuka juga dimarahi, anak bisa bertanya-tanya: sebenarnya aku salah karena apa?

Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini kemudian mengajak orang tua mempertimbangkan kembali jenis hukuman. Bentakan, misalnya, mungkin membuat anak diam dalam hitungan detik, tetapi tidak otomatis membuatnya memahami masalah. Bahkan, komunikasi penuh teriakan dapat membuat anak semakin tertutup, tidak percaya diri, cuek, atau justru tumbuh menjadi pribadi yang suka melawan.

Begitu pula hukuman fisik. Anak bukan cuma belajar tentang aturan, tetapi juga belajar dari perilaku orang dewasa. Jika setiap kemarahan diselesaikan dengan pukulan, bukan tidak mungkin anak menangkap pesan bahwa kekerasan adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah.

Lalu, kalau hukuman bukan solusi utama, harus bagaimana?

Di sinilah konsep konsekuensi logis menjadi menarik.

Contohnya sederhana. Rino mencoret dinding dengan cat air. Ibunya tidak membentak atau memukul. Ia menjelaskan bahwa menggambar seharusnya dilakukan di kertas, kemudian mengajak Rino membersihkan dinding. Karena dinding tersebut baru dicat oleh ayahnya, Rino juga diminta meminta maaf.

Rino tetap mendapatkan konsekuensi. Namun konsekuensinya berhubungan langsung dengan tindakannya.

Inilah perbedaannya. Hukuman cenderung membuat anak menerima sesuatu yang diberikan orang tua sebagai balasan atas kesalahan. Sementara konsekuensi logis membantu anak memahami hubungan sebab-akibat: “Aku melakukan ini, maka ada sesuatu yang harus aku bereskan.”

Pesan Moral

Orang tua dalam konsep ini bukan hakim yang mencari kesalahan, melainkan pendidik yang membantu anak belajar bertanggung jawab.

Tentu, mengubah pola pengasuhan tidak bisa dilakukan semalam. Orang tua juga manusia yang bisa lelah, kesal, dan kehilangan kesabaran. Karena itu, Jinan menekankan pentingnya aturan yang jelas, sederhana, dan disepakati bersama. Tidak perlu puluhan aturan. Sedikit tetapi konsisten justru lebih efektif.

Yang tak kalah penting, jangan sampai orang tua hanya sibuk menangkap kesalahan anak. Anak melakukan banyak hal baik setiap hari, tetapi sering luput dari perhatian. Pujian, pelukan, ucapan terima kasih, atau sekadar mengatakan, “Mama senang kamu mau membereskan mainanmu,” bisa menjadi bentuk penghargaan yang jauh lebih bermakna daripada hadiah materi.

Pada akhirnya, Orang Tuaku Hobi Menghukum mengingatkan bahwa tujuan mendidik anak bukan membuat mereka takut kepada orang tua. Tujuannya adalah membuat mereka mampu memahami pilihan, mengenali konsekuensi, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Sebab anak yang patuh karena takut mungkin terlihat mudah diatur. Tetapi anak yang memahami alasan di balik sebuah aturan akan membawa nilai itu bahkan ketika tidak ada orang tua yang mengawasinya.

Dan mungkin, di situlah sebenarnya keberhasilan parenting dimulai: bukan ketika anak berhenti melakukan kesalahan karena takut dihukum, melainkan ketika ia mulai belajar memperbaiki kesalahan karena sadar bahwa setiap tindakan punya konsekuensi.

Identitas Buku

  • Judul: Orang Tuaku Hobi Menghukum: Panduan Memberi Sanksi pada Anak Bagi Orang Tua dan Guru
  • Penulis: Miftahul Jinan
  • Penerbit: Filla Press 
  • Tahun Terbit: 2010 
  • Tebal: xii + 174 halaman
  • ISBN: 978-979-422-325-3

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda