Ulasan

How to Master Your Habits: Bukan Malas, Mungkin Kebiasaan Kita yang Salah!

How to Master Your Habits: Bukan Malas, Mungkin Kebiasaan Kita yang Salah!
How to Master Your Habits (Dok.Pribadi/Oktavia)

Pernah merasa semangat berubah cuma bertahan tiga hari? Hari pertama rajin olahraga, hari kedua masih semangat, hari ketiga mulai muncul pikiran legendaris: besok aja deh. Atau sudah bertekad membaca buku setiap malam, tetapi akhirnya malah scrolling sampai ketiduran? Masalahnya, menurut Felix Y. Siauw dalam How to Master Your Habits, perubahan hidup tidak cukup mengandalkan motivasi. Yang jauh lebih menentukan adalah kebiasaan.

Buku yang diterbitkan Alfatih Press pada 2013 ini mengajak pembaca melihat kembali aktivitas sehari-hari. Sebab, sadar atau tidak, manusia sebenarnya sedang membangun dirinya melalui sesuatu yang dilakukan berulang-ulang. Kebiasaan kecil yang terus dilakukan akhirnya menjadi pola, kemudian membentuk karakter dan pada akhirnya memengaruhi kualitas hidup.

Buku setebal 282 halaman ini menarik karena tidak sekadar berkata, ayo berubah. Justru pembahasannya diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar. Bagaimana cara membuat perubahan itu bertahan?

Isi Buku

Salah satu pembahasan yang cukup menarik adalah soal berapa lama seseorang membutuhkan waktu untuk membentuk kebiasaan baru. Ada pendapat yang menyebut 28–30 hari, sementara pendapat lain menggunakan waktu 40 hari. Felix memilih pendekatan 30 hari dan mengaitkannya dengan latihan menjalankan puasa Ramadan.

Namun, 30 hari tentu bukan perjalanan yang selalu mulus. Pada minggu pertama mungkin masih terasa menyenangkan. Memasuki minggu berikutnya, rasa malas mulai datang. Di sinilah seseorang membutuhkan alasan yang kuat atau strong why.

Misalnya, ingin membaca bukan sekadar karena ingin terlihat pintar, tetapi karena ingin meningkatkan kemampuan. Ingin olahraga bukan karena ikut tren, melainkan karena ingin memiliki tubuh yang lebih bugar. Ketika alasan di balik sebuah kebiasaan cukup kuat, kita punya sesuatu untuk dijadikan pegangan ketika motivasi sedang turun.

Dengan kata lain, motivasi boleh menjadi pemantik, tetapi kebiasaanlah yang membuat kita terus berjalan. Salah satu jebakan ketika ingin berubah adalah membuat target terlalu besar. Baru hari pertama sudah memasang target membaca 50 halaman, olahraga satu jam, bangun pukul lima, menulis setiap hari, dan sederet resolusi lainnya.

Besoknya? Tumbang berjamaah. Felix justru menyarankan memulai dari sesuatu yang kecil. Kalau ingin membangun kebiasaan membaca, misalnya, mulailah dengan 10 halaman sehari. Ketika tubuh dan pikiran sudah terbiasa, porsinya dapat ditingkatkan.

Prinsipnya sederhana: lebih baik sedikit tetapi konsisten daripada banyak tetapi cuma bertahan sebentar.

Selain itu, kebiasaan perlu memiliki tempat dan waktu yang jelas. Misalnya, menulis setelah salat Subuh atau membaca sebelum tidur. Dengan pola yang berulang, aktivitas tersebut perlahan menjadi sesuatu yang otomatis dilakukan.

Pengingat juga bisa digunakan. Alarm, catatan di meja, sticky note di dinding, atau aplikasi pengingat dapat menjadi “alarm mental” agar kita tidak mudah lupa.

Kelebihan dan Kekurangan

Bagian lain yang menarik adalah cara buku ini melihat hubungan antara kebiasaan dan keahlian. Kita sering melihat seseorang yang hebat lalu buru-buru menyimpulkan, dia memang berbakat. Padahal, kemampuan yang terlihat hari ini biasanya merupakan hasil dari latihan yang dilakukan berkali-kali.

Seorang penulis menjadi semakin terampil karena menulis berulang-ulang. Atlet menjadi kuat karena berlatih secara konsisten. Orang yang pandai berbicara terbentuk karena terus belajar dan berkomunikasi.

Artinya, kemampuan bukan sesuatu yang berhenti pada bakat. Ada proses panjang yang melibatkan disiplin, pengulangan, kesungguhan, bimbingan, dan waktu.

Buku ini bahkan mengajak pembaca melihat hidup dengan perspektif yang cukup menohok: dunia tidak selalu berpihak kepada orang yang biasa-biasa saja. Karena itu, manusia perlu terus mengembangkan keahlian. Dan keahlian tersebut tidak muncul secara instan, melainkan dibangun melalui kebiasaan.

Pesan Moral

Pesan yang paling mudah dibawa pulang dari How to Master Your Habits adalah pentingnya pertumbuhan kecil. Tidak perlu langsung menjadi versi terbaik dari diri sendiri dalam semalam. Cukup menjadi sedikit lebih baik dibanding kemarin. Satu halaman buku, satu latihan, satu tulisan, satu keputusan untuk mengurangi kebiasaan buruk. Semuanya terlihat kecil, tetapi jika dilakukan konsisten, dampaknya bisa jauh lebih besar.

Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya kumpulan keputusan besar. Hidup juga merupakan hasil dari ribuan tindakan kecil yang kita ulang setiap hari.

Sebab, tanpa disadari, kita sedang menjadi seseorang. Dan orang itu sedang dibentuk oleh apa yang kita lakukan berulang-ulang.

Identitas Buku

  • Judul: How to Master Your Habits
  • Penulis: Felix Y. Siauw
  • Penerbit: Alfatih Press
  • Tahun Terbit: Maret 2013 
  • Tebal: 282 halaman
  • ISBN: 9786239717339

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda