Ulasan

Review A Little Like Magic: Tak Harus Selamanya untuk Menjadi Berharga

Review A Little Like Magic: Tak Harus Selamanya untuk Menjadi Berharga
Buku A Little Like Magic (goodreads.com)

A Little Like Magic karya Sarah Kurpiel adalah buku bergambar yang lembut, puitis, dan penuh keajaiban kecil. Ceritanya mengikuti seorang gadis yang tidak nyaman dengan udara dingin, topi yang terasa mengganggu, dan tempat baru.  Ia akhirnya ikut ibunya mengunjungi festival es, meski sejak awal perjalanan itu terasa seperti sesuatu yang tidak ingin ia lakukan.

Di festival tersebut, sang gadis melihat para pemahat bekerja dengan tekun. Mereka memahat dan mengebor balok-balok es hingga berubah menjadi karya seni yang indah. Namun, rasa tidak nyaman membuatnya tidak benar-benar memahami mengapa orang mau menghabiskan begitu banyak waktu untuk sesuatu yang pada akhirnya akan mencair. 

Situasi menjadi semakin buruk ketika ia menyadari patung kuda kecil kesayangannya hilang. Benda tersebut terasa penting baginya, sehingga kehilangan itu membuat perjalanan ke festival terasa semakin tidak sepadan. Ia bahkan berharap tidak pernah datang ke tempat tersebut sejak awal.

Namun, kunjungan berikutnya mengubah cara pandangnya. Ketika kembali pada malam berikutnya, ia melihat patung-patung es yang telah selesai dan tampak berkilauan di bawah cahaya. Pemandangan itu perlahan membuatnya memahami bahwa sesuatu tidak harus bertahan selamanya untuk menjadi berharga.

Di sinilah kekuatan utama A Little Like Magic terasa. Buku ini mengajak pembaca memikirkan apa yang layak diberi waktu, perhatian, dan tenaga. Melalui pengalaman sederhana, Kurpiel menunjukkan bahwa nilai sebuah pengalaman tidak selalu ditentukan oleh berapa lama sesuatu dapat bertahan.

Saya menyukai cara cerita ini menggambarkan kecemasan dan kesulitan menghadapi perubahan tanpa membuat pengalaman tokohnya terasa berlebihan. Pembaca dapat merasakan penolakannya terhadap tempat baru, cuaca dingin, ketidaknyamanan sensorik, hingga rasa kesal ketika kehilangan benda kesayangan. Semua emosi tersebut disampaikan secara sederhana sehingga mudah dipahami anak-anak.

Sudut pandang gadis tersebut juga menjadi salah satu daya tarik buku. Teksnya terasa seperti pikiran seorang anak yang sedang mencoba memahami pengalaman baru. Perubahan perasaannya terlihat jelas, dari enggan dan kecewa menjadi kagum, penasaran, lalu menemukan makna yang lebih dalam.

Keunikan lainnya adalah representasi disabilitas yang hadir secara alami. Tokoh utama menggunakan kursi roda, tetapi kondisi tersebut bukan sumber konflik utama dalam cerita. Ia tetap digambarkan sebagai anak dengan perasaan, keinginan, ketakutan, rasa ingin tahu, dan kemampuan untuk menemukan keindahan di sekitarnya.

Ilustrasi Kurpiel memperkuat suasana cerita dengan nuansa biru dan putih yang terasa dingin sekaligus menenangkan. Sentuhan warna kuning memberikan aksen hangat dan membuat beberapa momen terasa semakin istimewa. Perpaduan teks dan ilustrasi membantu pembaca mengikuti perubahan emosi tokoh tanpa membutuhkan penjelasan yang panjang.

Buku ini juga menarik karena membicarakan sifat sementara dari seni dan kehidupan dengan bahasa yang ramah anak. Patung es memang akan mencair, tetapi pengalaman melihatnya dapat tinggal jauh lebih lama dalam ingatan. Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki kedalaman yang juga bisa direnungkan orang dewasa.

A Little Like Magic sangat cocok untuk anak prasekolah hingga usia sekolah awal, terutama anak yang sedang belajar menghadapi tempat baru atau perubahan rutinitas. Buku ini juga bisa menjadi bahan percakapan bersama orang tua, guru, maupun pendamping tentang perasaan, keberanian mencoba sesuatu, dan menghargai momen. Dengan cerita yang hangat dan visual yang memikat, buku ini layak menjadi pilihan untuk waktu membaca bersama.

Secara keseluruhan, A Little Like Magic adalah picture book yang berhasil menghadirkan keajaiban tanpa membutuhkan fantasi besar. Keajaibannya justru muncul dari pengalaman sederhana, seni yang sementara, dan perubahan cara seseorang melihat dunia. Setelah halaman terakhir, pembaca mungkin akan membawa satu pertanyaan kecil: apakah sesuatu harus bertahan selamanya agar berarti?

Bagi pembaca dewasa, kisah ini juga mengingatkan bahwa pengalaman singkat dapat meninggalkan jejak panjang. Itulah alasan cerita sederhana ini terasa begitu hangat karena pesannya tetap relevan setelah dibaca.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda