Ulasan
Film Dan Bandung Membuktikan Formula Lama Masih Bisa Berarti
Cinta Basil dan Elma mungkin dimulai dari dua orang, tapi sejak awal hubungan mereka nggak jadi urusan berdua. Ada keluarga yang ikut bicara, orang tua yang merasa punya hak menentukan, dan ada aturan-aturan yang membuat langkah mereka nggak bisa sebebas perasaan yang sedang tumbuh. Di situlah Dan Bandung menarik banget. Film ini nggak sebatas mempertemukan dua orang yang saling jatuh cinta, melainkan menunjukkan bagaimana sebuah hubungan bisa ikut ditentukan oleh orang-orang yang berdiri di sekelilingnya.
Film produksi Verona Films ini merupakan adaptasi novel karya Pidi Baiq, dengan Rudi Soedjarwo sebagai sutradara dan Titien Wattimena menulis skripnya. Film berdurasi sekitar 120 menit ini dibintangi Samo Rafael sebagai Basil dan Shanna Shannon sebagai Elma. Pemain lainnya antara lain Keisya Levronka, Theo Supple, Razan Zu, Paul Aro, Donny Damara, Jenny Zhang, Arswendy Bening Swara, Nugie, dan Tike Priatnakusumah.
Dan Bandung tayang pada 20 Agustus 2026 dan menjadi debut layar lebar Shanna Shannon, dengan klasifikasi usia 13 tahun ke atas.
Ceritanya terkait Basil, mahasiswa Seni Rupa yang tinggal bersama Mang Yadi dan Bi Rini setelah ayahnya, Nugraha, dipenjara akibat fitnah. Untuk membiayai kuliah dan skripsinya, Basil mengelola kios kaos bersama Doni dan Uu.
Pertemuannya dengan Elma terjadi di pertandingan Persib. Basil terpikat, lalu membuat kaos bergambar wajah Elma dengan tulisan “Dicari: Bidadari Bobotoh”. Desain itu viral dan membuat Elma terganggu. Bersama Susi, dia mendatangi Basil untuk meminta desain tersebut dihentikan. Pertemuan itu menjadi awal kedekatan mereka.
Masalah muncul ketika hubungan mereka berhadapan dengan Wiradireja, ayah Elma. Perbedaan latar belakang sosial membuat cinta mereka punya tembok yang jauh lebih tinggi daripada sekadar rasa suka. Di sinilah Film Dan Bandung mulai berbicara tentang sesuatu yang lebih menarik daripada romansa biasanya.
Cinta, Kasta, dan Keberanian Elma Melawan Batasan Keluarga

Begitulah, Sobat Yoursay. Di sini, karakter Elma bukan sekadar perempuan yang menunggu Basil memperjuangkannya. Dia adalah anak yang hidup di bawah aturan ketat dan sedang mencari ruang untuk menentukan hidupnya sendiri. Dia tumbuh dalam keluarga dengan banyak batasan, lalu perlahan menemukan keberanian melalui Basil dan lingkungan pertemanannya.
Bagiku, inilah inti paling kuat film ini. Basil memang memperjuangkan hubungan mereka, tapi perjalanan emosional terbesar berada pada Elma.
Aku pun suka terkait karakter Basil, yang mana dirinya nggak dijadikan tokoh sempurna yang datang untuk menyelamatkan seorang gadis. Kehadirannya lebih mirip pintu. Melalui Basil, Elma mulai melihat kemungkinan hidup yang sebelumnya terasa jauh. Perjuangan cinta mereka akhirnya punya makna lebih luas: bukan sekadar mendapatkan restu.
Omong-omong soal Bandung, kota ini menjadi ruang ketika Basil dan Elma bisa merasakan kebebasan, sebelum mereka kembali berhadapan dengan aturan keluarga. Bandung terasa seperti saksi perjalanan mereka.
Memang, Film Dan Bandung masih membawa formula cinta beda kasta yang sudah akrab di layar lebar. Nggak masalah kok. Kenapa? Ya, karena memang begitulah kisah percintaan di kebanyakan masyarakat. Ketika urusan hati seringkali harus berhadapan dengan tembok yang dibangun oleh status sosial, ekonomi, keluarga, bahkan pandangan orang-orang di sekitar. Justru karena formula ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, kisah Film Dan Bandung jadi punya pijakan yang cukup kuat.
Kita mungkin sudah berkali-kali melihat cerita semacam ini, tapi persoalannya bukan lagi soal apakah premisnya baru atau belum pernah dibuat. Yang lebih penting adalah bagaimana film tersebut mengolah konflik yang sudah familier menjadi sesuatu yang tetap punya makna.
Di titik ini, Dan Bandung memang nggak sedang berusaha menemukan kembali bentuk baru dalam cerita cinta. Film ini lebih tertarik memperlihatkan bagaimana seseorang harus berhadapan dengan keadaan ketika kebahagiaan yang dia inginkan ternyata nggak datang dengan jalan yang mudah.
Terlepas dari ‘terlalu biasanya’ kisah Film Dan Bandung, film ini toh berhasil menggambarkan keberanian untuk mendapatkan kebahagiaan itu sendiri.
Dan mungkin, itulah alasan kenapa formula yang sebenarnya sudah sering digunakan masih bisa bekerja. Kita nggak selalu membutuhkan cerita yang benar-benar baru untuk merasakan sesuatu yang dekat. Kadang, cerita yang familier jauh lebih mengena karena kita tahu persis bentuk persoalannya.
Maka dari itu, Dan Bandung tetap layak Sobat Yoursay tonton di bioskop. Selamat menonton.