Ulasan

Ulasan Buku Penghancuran Buku: Saat Buku Dibakar & Ingatan Dihapus

Ulasan Buku Penghancuran Buku: Saat Buku Dibakar & Ingatan Dihapus
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa adalah buku karya Fernando Bรกez yang mengkaji sejarah global pemusnahan buku selama 55 abad. (Foto: Amazon.com)

Buku adalah benda yang kelihatannya tidak berbahaya sama sekali. Tidak punya kaki untuk mengejar orang, tidak punya tangan untuk memukul penjahat, bahkan kalau dilempar pun paling yang sakit adalah kepala sendiri.

Anehnya, sepanjang sejarah manusia, buku berkali-kali diperlakukan seperti benda berbahaya. Fernando Báez membongkar keganjilan itu dalam “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa”, sebuah kajian sejarah tentang bibliosida yang merentang dari peradaban kuno hingga kehancuran perpustakaan di Irak.

Báez menulis buku ini setelah menyaksikan langsung kehancuran Baghdad pada 2003. Ia melihat perpustakaan dan museum ikut menjadi korban perang. Pertanyaan yang kemudian menghantuinya adalah mengapa manusia menghancurkan buku? Publishers Weekly mencatat bahwa buku Báez menelusuri alasan penghancuran tersebut, mulai dari upaya penakluk menghapus kebudayaan pendahulunya, intoleransi agama, motif politik, sampai kehancuran akibat perang dan bencana.

Part paling menarik, Báez tidak berhenti pada adegan buku dibakar lalu selesai. Ia justru menunjukkan bahwa buku sering dihancurkan karena buku menyimpan gagasan, sejarah, identitas, pengalaman manusia. Menghancurkan buku berarti mengganggu jalur pewarisan ingatan tersebut. Dalam konteks itu, bibliosida bukan sekadar pembakaran benda. Ia menjadi usaha mengendalikan apa yang boleh diingat dan apa yang sebaiknya dilupakan.

Di sinilah buku Báez terasa amat penting. Pelaku penghancuran buku bukanlah orang bodoh yang alergi membaca. Sejumlah kasus yang dibahas justru memperlihatkan keterlibatan kelompok terdidik dan kekuasaan politik. Publishers Weekly menggambarkan karya Báez sebagai kajian mengenai keinginan para penakluk menghapus budaya pendahulunya serta berbagai bentuk intoleransi yang membuat buku dianggap mengancam.

PEN America juga memperlihatkan bahwa persoalan tersebut bukan cerita dari zaman kuno saja. Dalam kronologi sejarah sensor bukunya, organisasi itu mencatat berbagai episode pelarangan, penghancuran, serta pembatasan buku sebagai bagian dari sejarah kebebasan berekspresi. Bagi PEN America, buku bukan sekadar benda budaya. Akses terhadap buku berkaitan dengan kemampuan manusia mempertahankan gagasan dan kebebasan berpikir.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita memang tidak perlu mengarang cerita tentang negara yang datang membawa korek api lalu membakar perpustakaan. Persoalannya bisa jauh lebih sederhana sekaligus menggelikan: buku bisa masuk ke dalam daftar barang bukti ketika seseorang ditangkap. Dalam rilis resmi Tribratanews Polri pada Oktober 2025, misalnya, Densus 88 menyebut sejumlah buku bertema radikalisme sebagai barang bukti dalam penangkapan empat terduga pendukung ISIS.

Kasus lain juga menunjukkan hal serupa. Dalam rilis Tribratanews yang lain mengenai penangkapan aktivis Paul pada September 2025, polisi menyebut menyita sejumlah buku bacaan saat penggeledahan. Rilis yang sama menegaskan bahwa buku-buku yang tidak berkaitan dengan perkara akan dikembalikan kepada tersangka atau keluarga.

Tentu, menyita buku sebagai barang bukti tidak otomatis sama dengan menghancurkan buku. Ini perbedaan yang tidak boleh dibuang hanya demi membuat tulisan terdengar galak. Namun, di sinilah refleksi Báez menjadi menarik. Ketika isi buku mulai dipakai untuk membaca seseorang sebagai ancaman, buku berhenti diperlakukan sekadar sebagai benda. Ia mulai dibaca sebagai representasi ideologi, identitas, bahkan potensi ancaman.

Buku tidak pernah benar-benar bersalah. Ia hanya diam di rak menunggu seseorang membukanya. Yang membuatnya berbahaya adalah gagasan yang mungkin muncul setelah halaman-halamannya dibaca. Karena itu, mungkin yang sebenarnya ditakuti kekuasaan adalah manusia yang selesai membaca buku lalu mulai bertanya.

“Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” menjadi penting justru karena mengajak kita melihat hubungan tersebut. Buku dapat dibakar, disita, dilarang, disensor, atau sekadar dibuat sulit beredar. Ingatan manusia jauh lebih keras kepala. Ia bisa berpindah dari halaman ke kepala, dari kepala ke percakapan, lalu dari percakapan ke generasi berikutnya.

Maka kalau ada yang menganggap buku cuma tumpukan kertas, silakan. Itu haknya. Masalahnya, sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa penguasa yang menganggap buku tidak penting justru sering terlalu sibuk mengurusnya. Dan biasanya, sesuatu yang benar-benar tidak penting tidak perlu ditakuti sampai sedemikian rupa.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda