Ulasan

Psikologi Keputusan: Mengapa Bisa Salah Pilih, Meski Sudah Berpikir Matang?

Psikologi Keputusan: Mengapa Bisa Salah Pilih, Meski Sudah Berpikir Matang?
Psikologi Keputusan (Dok.Pribadi/Oktavia)

Setiap hari manusia membuat keputusan. Mulai dari perkara sederhana seperti memilih makanan, menentukan pakaian, membalas pesan, hingga keputusan besar mengenai pendidikan, pekerjaan, bisnis, pasangan, dan masa depan.

Menariknya, kita sering menganggap keputusan yang baik lahir dari pikiran yang rasional. Padahal, menurut buku Psikologi Keputusan: Jejak Memori, Kognisi, & Emosi dalam Pengambilan Keputusan karya Dedi Priadi, MT., MA., proses memilih jauh lebih rumit daripada sekadar mempertimbangkan pilihan A atau B.

Buku yang diterbitkan Junun Media Arrahmah pada Maret 2022 ini mencoba memperkenalkan ilmu pengambilan keputusan dari perspektif psikologi, dengan mempertemukan tiga unsur penting: memori, kognisi, dan emosi. Ketiganya bekerja dalam pikiran manusia dan ikut menentukan bagaimana seseorang menilai situasi, mempertimbangkan risiko, hingga akhirnya mengambil tindakan.

Isi Buku

Salah satu bagian yang menarik adalah pembahasan mengenai berbagai states of mind atau keadaan pikiran. Penulis menggambarkan kondisi seperti absent-minded, small-minded, narrow-minded, mindless, mind-expanding, out of my mind, close-minded, mindful, dan open-minded.

Istilah-istilah tersebut bukan sekadar permainan kata. Masing-masing menggambarkan cara pikiran bekerja ketika seseorang menghadapi persoalan. Orang yang absent-minded, misalnya, dapat menjadi ceroboh karena pikirannya bercabang dan mencoba mengerjakan terlalu banyak hal sekaligus. Sementara itu, close-minded menggambarkan seseorang yang membentengi diri dari kritik dan perbedaan karena merasa dirinya paling tahu.

Sebaliknya, kondisi mindful digambarkan sebagai keadaan ketika seseorang mampu berpikir dengan kesadaran dan ketenangan. Ia tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak terlalu lambat. Pertimbangannya berusaha logis dan faktual, sementara emosinya relatif stabil. Ada pula open-minded, yaitu kondisi ketika seseorang terbuka terhadap gagasan baru, mau mendengarkan orang lain, dan menikmati proses belajar tanpa kehilangan kecermatan dalam mengambil keputusan.

Pembagian ini membuat pembaca dapat bercermin. Bisa jadi masalah dalam keputusan bukan karena kurang pintar, melainkan karena kondisi pikiran ketika keputusan dibuat.

Buku ini kemudian membawa pembaca pada persoalan yang lebih serius: manusia ternyata sangat mungkin melakukan kesalahan penilaian. Penulis mengutip pemikiran Daniel Kahneman mengenai kecenderungan manusia mengandalkan penilaian intuitif. Intuisi memang berguna dalam banyak situasi, tetapi bukan berarti selalu benar. Bahkan orang yang cerdas sekalipun tetap dapat terjebak dalam judgmental error.

Di sinilah emosi memainkan peran menarik. Emosi sering dianggap sebagai musuh rasionalitas. Ketika marah, takut, kecewa, atau terlalu bersemangat, seseorang dianggap lebih mudah membuat keputusan buruk. Namun buku ini tidak menyederhanakan emosi sebagai sesuatu yang harus selalu disingkirkan.

Kesimpulan 

Mengacu pada George Loewenstein dan Jennifer Lerner, terdapat perbedaan antara expected emotions dan immediate emotions. Emosi yang diharapkan berkaitan dengan prediksi mengenai perasaan yang akan muncul akibat suatu hasil keputusan. Sementara emosi langsung merupakan perasaan yang sedang dialami seseorang ketika keputusan dibuat.

Perbedaannya sangat penting. Bayangkan seseorang sedang bernegosiasi dengan mitra bisnis yang sebelumnya membuatnya marah. Jika kemarahan tersebut dibawa ke meja negosiasi, keputusan yang diambil bisa saja tidak lagi didasarkan pada kepentingan bisnis. Ia mungkin menolak tawaran yang sebenarnya menguntungkan hanya karena ingin “membalas” perlakuan buruk sebelumnya.

Sebaliknya, pengalaman emosional masa lalu juga dapat membantu manusia. Antonio Damasio melalui konsep somatic marker menjelaskan bahwa pengalaman sebelumnya dapat meninggalkan penanda yang membantu seseorang merespons situasi tertentu. Dengan kata lain, pengalaman bukan sekadar sesuatu yang diingat, tetapi dapat menjadi semacam sinyal ketika kita menghadapi pilihan baru.

Karena itu, keputusan yang baik bukan berarti keputusan yang sepenuhnya bebas emosi. Yang lebih penting adalah kemampuan mengelola hubungan antara ingatan, pikiran, dan perasaan. Psikologi Keputusan menarik karena tidak membatasi pembahasannya pada satu bidang. Dalam pengantarnya, penulis menyebut buku ini dapat menjadi pengantar ilmu keputusan lintas bidang, mulai dari psikologi, bisnis dan manajemen, pendidikan, pemerintahan, kemiliteran, teknik, hingga kedokteran.

Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca memahami satu hal sederhana tetapi sering dilupakan: kita tidak pernah mengambil keputusan hanya dengan otak yang steril dari pengalaman dan perasaan. Setiap pilihan membawa jejak masa lalu, cara berpikir, kondisi mental, serta emosi yang sedang bekerja.

Maka, sebelum bertanya apakah keputusan kita benar atau salah, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: dalam keadaan pikiran seperti apa keputusan itu kita buat?

Identitas Buku

  • Judul: Psikologi Keputusan: Jejak Memori, Kognisi, & Emosi dalam Pengambilan Keputusan
  • Penulis: Dedi Priadi, MT., MA.
  • Editor: Annas Baihaqi
  • Desain Sampul: Novia Awaliya Latifah K.
  • Setting/Layout: Ilham Syahrial
  • Ilustrasi: Mohammad Masyhudi, Febby Risyanti, dan Wahyuni
  • Penerbit: Junun Media Arrahmah
  • Terbit: Maret 2022
  • Kategori: Psikologi, Ilmu Keputusan

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda