Ulasan

Niat Cari Hiburan dan Ketawa, Saya Malah Ngantuk Nonton Film Harusnya Horror

Niat Cari Hiburan dan Ketawa, Saya Malah Ngantuk Nonton Film Harusnya Horror
Saya dan istri usai menonton film Harusnya Horor di Kota Cinema Mall Jember (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Selasa malam Rabu, (1/9/2026), pukul 19.25 WIB, saya dan istri duduk di kursi G5 dan G6 di bioskop Kota Cinema Mall (KCM) Jember. Malam itu, saya membawa perasaan sederhana yang ingin saya tuntaskan, yakni berhenti sejenak dari rutinitas.

Seharian saya baru saja menuntaskan seabrek tugas dan melewati rangkaian kesibukan yang cukup menguras tenaga. Rasanya kepala masih penuh dengan pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai urusan yang belum sepenuhnya hilang dari pikiran. Maka, ketika memutuskan pergi menonton bersama istri, pilihan saya jatuh kepada film bertajuk Harusnya HorrorAlasannya sederhana: komedi.

Saya ingin tertawa. Saya ingin melihat sesuatu yang ringan. Saya ingin selama kurang lebih 106 menit melupakan sejenak rumitnya aktivitas sehari-hari.

Sore menjelang malam itu, saya dan istri mengendarai sepeda motor kesayangan, menembus angin sore menuju KCM Jember. Perjalanan singkat tersebut justru terasa seperti bagian dari proses refreshing. Angin yang menerpa wajah, jalanan yang mulai ramai, dan tujuan yang bukan untuk bekerja membuat suasana hati perlahan berubah.

Saya berangkat ke bioskop bukan sebagai seorang kritikus film yang membawa catatan penilaian, melainkan sebagai orang yang sedang lelah dan ingin bersenang-senang. Lalu di situlah pengalaman menonton Harusnya Horror menjadi cukup personal bagi saya.

Hantu Wibu yang Ingin Menakut-nakuti

Tiket masuk dan poster film Harusnya Horor (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Tiket masuk dan poster film Harusnya Horor (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Harusnya Horror merupakan debut Reza Oktovian alias Reza Arap sebagai sutradara layar lebar. Film ini juga menjadi ruang bagi Arap bersama sejumlah nama dari ekosistem AAA Clan dan Marapthon untuk membawa persona serta chemistry mereka dari dunia digital ke bioskop.

Premisnya sebenarnya cukup unik. Tokoh utama bernama Mas, seorang wibu yang meninggal secara mendadak sebelum sempat menyaksikan episode terakhir anime kesayangannya. Bukannya langsung mendapatkan ketenangan di alam baka, ia justru diberi tugas untuk menakut-nakuti 100 ribu manusia. Jika berhasil, ia mendapatkan kesempatan untuk menonton episode anime yang selama ini ingin dituntaskannya.

Masalahnya cuma satu, dia adalah hantu yang tidak menakutkan. Dari sinilah kekonyolan dimulai. Mas kemudian bertemu Kevin, Gea, Kenzo, dan Cipuy, kelompok kreator konten horor yang sedang menghadapi persoalan finansial. Mereka akhirnya menjadikan Mas sebagai materi konten. Dari sebuah ide yang terdengar konyol, konten mereka berkembang menjadi viral.

"Kamu siapa namanya?" tanya Gea penasaran.

"Mas. Mas doang," jawab hantu berkacamata yang diperankan oleh Reza Arap itu.

"Kami panggil Mas atau Doang?" tanya Gea, satu-satunya perempuan dalam kelompok kreator konten tersebut.

"Mas," jawab Mas, singkat.

Premis semacam ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan generasi sekarang. Dunia digital, konten, viralitas, algoritma, popularitas, dan keinginan mendapatkan perhatian publik merupakan bagian dari keseharian generasi muda. Maka dari itu, saya merasa Harusnya Horror memiliki pintu masuk yang cukup menarik.

Saat Dunia Kreator Digital Masuk ke Bioskop

Salah satu adegan film Harusnya Horor, Cipuy menjadi hantu (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Salah satu adegan film Harusnya Horor, Cipuy menjadi hantu (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Salah satu kekuatan film ini adalah chemistry para pemainnya. Reza Arap dan orang-orang yang sudah lama berada dalam satu ekosistem digital tentu memiliki gaya interaksi yang cair. Celetukan, ekspresi, dan respons antarpemain terasa seperti pertemanan yang memang sudah terbentuk sebelumnya. Hal ini menjadi sesuatu yang sulit dibuat-buat.

Bagi penonton yang sudah mengenal AAA Clan, Marapthon, atau persona para kreatornya, berbagai referensi di dalam film mungkin terasa seperti bonus kecil.

Ada sensasi, “Oh, ini mereka banget!” Namun, di sisi lain, di sinilah film juga menghadapi tantangan.

Sesuatu yang lucu bagi komunitas atau lingkaran pertemanan tertentu belum tentu otomatis lucu ketika dipindahkan ke layar lebar. Film memiliki tuntutan berbeda dengan konten digital. Kalau di konten digital sebuah celetukan spontan bisa langsung menghasilkan tawa, film membutuhkan pembangunan karakter, konflik, ritme, dan konteks yang lebih kuat.

Identitas AAA Clan terasa kuat, tetapi sejumlah inside joke dan referensi dunia mereka mungkin lebih mudah dinikmati penggemar daripada penonton yang benar-benar awam.

Menurut saya, ini bukan berarti identitas kreator tersebut harus dihilangkan. Justru identitas itulah salah satu modal utama film. Hanya saja, akan lebih menarik jika dunia tersebut tidak hanya mengajak penggemarnya masuk, tetapi juga membuat penonton baru merasa diterima di dalamnya.

Lucu, tetapi Mengapa Saya Malah Mengantuk?

Nah, bagian ini cukup personal. Sejujurnya, saya datang ke bioskop dengan ekspektasi ingin tertawa. Biasanya, secapek apa pun badan saya setelah seharian beraktivitas, ketika menonton film, terlebih film komedi, semangat saya bisa kembali.

Namun tadi malam berbeda. Saya sempat sedikit terkantuk. Apakah berarti Harusnya Horror tidak lucu? Menurut saya, tidak sesederhana itu.

Saya justru tidak ingin menjadikan rasa kantuk tersebut sebagai vonis bahwa filmnya gagal membuat penonton tertawa. Kondisi fisik dan mental penonton juga punya peran besar dalam pengalaman menonton. Saya datang setelah seharian menyelesaikan banyak aktivitas. Bisa jadi tubuh saya memang sudah meminta waktu istirahat.

Tetapi, sebagai pengalaman menonton pribadi, saya juga merasa ritme film kadang belum selalu mampu mempertahankan energi komedinya secara konsisten.

Terdapat bagian yang terasa cair dan menyenangkan. Ada pula momen ketika saya seperti menunggu sesuatu yang lebih “meledak”. Beberapa lelucon terasa sangat bergantung pada persona pemain atau konteks yang sudah dikenal sebelumnya. Jadi, saya tidak keluar dari bioskop dengan pikiran, “Film ini tidak lucu.”

Lebih tepatnya, saya merasa, film ini punya banyak bahan untuk menjadi lucu, tetapi tidak semuanya berhasil mendarat dengan kekuatan yang sama.

Horornya di Mana?

Salah satu adegan film Harusnya Horor: Cipuy, Kenzo dan ayah Kevin (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Salah satu adegan film Harusnya Horor: Cipuy, Kenzo dan ayah Kevin (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Judulnya Harusnya Horror. Namun, kalau berharap mendapatkan horor yang benar-benar membuat bulu kuduk berdiri, mungkin ekspektasinya perlu diturunkan.

Film ini lebih nyaman bermain di wilayah komedi-horor daripada horor yang serius. Bahkan, absurditas tokoh Mas sebagai hantu wibu justru menjadi salah satu sumber kelucuannya. Oleh karena itu, jangan masuk bioskop dengan harapan akan mendapatkan pengalaman seperti menonton film horor murni.

Ada hantu, ada suasana seram, ada usaha menakut-nakuti manusia, tetapi film ini memang lebih tertarik mengolah situasi tersebut menjadi bahan komedi. Dan menurut saya, pilihan tersebut sebenarnya sah-sah saja.

Masalahnya hanya pada keseimbangan. Ketika horornya tidak terlalu menyeramkan dan komedinya juga tidak selalu meledak, film terkadang seperti berada di wilayah abu-abu.

Judulnya bilang Horor. Filmnya bilang, “Santai saja, kita bercanda.”

Lula Lahfah dan Energi Para Pemain

Salah satu hal yang cukup mencuri perhatian adalah permainan Lula Lahfah sebagai Gea. Sejumlah ulasan juga menempatkan penampilan Lula sebagai salah satu kekuatan film. Karakternya terasa natural dan mampu memberikan warna tersendiri dalam dinamika kelompok.

King Aloy juga cukup menarik karena mampu memanfaatkan persona dirinya dengan lepas. Ada karakter yang penakut, ada pula sisi lain yang lebih berani, sehingga menghasilkan kontras yang cukup menghibur.

Sementara itu, Reza Arap sebagai Mas terasa cukup cocok dengan karakter yang dibangun. Energi khas seorang kreator digital memang masih terasa kuat. Saya kira ini sekaligus menjadi kekuatan sekaligus pekerjaan rumah film.

Para pemain sudah punya warna masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana warna tersebut tidak hanya menjadi persona, tetapi benar-benar berkembang menjadi karakter film yang memiliki perjalanan emosional.

Relevan dengan Generasi Muda

Di luar soal lucu atau tidak lucu, saya melihat Harusnya Horror cukup relevan dengan generasi muda masa kini. Film ini berbicara tentang dunia yang sangat dekat dengan anak muda, yaitu menjadi kreator, membuat konten, mengejar viralitas, membangun popularitas, memanfaatkan tren, dan berusaha mendapatkan perhatian di tengah lautan konten.

Hari ini, seseorang bisa terkenal bukan karena muncul di televisi, tetapi karena satu video yang tiba-tiba viral. Seseorang bisa membangun karier dari kamera ponsel. Dan seseorang bisa mempunyai komunitas besar hanya karena konsisten menjadi dirinya sendiri di internet.

Harusnya Horror seperti mengambil realitas tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam dunia fantasi yang absurd. Di sisi lain, film ini juga memberi semacam pengingat bahwa dunia digital memiliki bahasanya sendiri. Inside joke yang dipahami komunitas tertentu belum tentu dipahami semua orang. Hal ini juga berlaku di kehidupan nyata.

Generasi muda hari ini hidup dalam berbagai “lingkaran digital”. Kita punya bahasa, meme, referensi, fandom, komunitas, bahkan humor yang mungkin hanya dipahami oleh kelompok tertentu.

Film ini menarik karena memperlihatkan bagaimana budaya tersebut mencoba menyeberang dari layar kecil menuju layar bioskop.

Jadi, Layak Ditonton?

Bagi saya, Harusnya Horror adalah film yang menarik untuk dibicarakan justru karena ia tidak sempurna. Ada premis yang unik. Ada energi kreator digital. Ada chemistry pemain yang terasa natural. Ada visual dan production design yang cukup serius. Namun, struktur cerita, konsistensi humor, pembangunan karakter, dan penerjemahan inside joke ke penonton umum masih terasa sebagai pekerjaan rumah.

Dan pengalaman saya tadi malam semakin memperlihatkan bahwa pengalaman menonton film memang sangat personal. Saya datang dalam kondisi lelah dan ingin tertawa.

Saya memang mendapatkan beberapa momen yang menghibur. Tetapi saya juga sempat menguap dan terkantuk. Bukan karena saya ingin mengatakan film ini buruk, melainkan karena malam itu tubuh saya mungkin sudah lebih membutuhkan bantal daripada popcorn.

Lantas akhirnya, saya justru menikmati perjalanan pulangnya bersama istri. Setelah film selesai, kami kembali mengendarai sepeda motor menembus udara malam. Saya pulang dengan membawa kesimpulan, bahwa tidak semua film komedi harus membuat kita tertawa terbahak-bahak sepanjang durasi.

Kadang-kadang, sebuah film cukup menjadi alasan bagi kita untuk berhenti sejenak. Berhenti memikirkan pekerjaan. Berhenti mengejar kesibukan. Berhenti menatap layar karena tugas. Lalu duduk dalam gelap, menonton, sesekali tertawa, sesekali mengantuk, dan setelah itu pulang dengan kepala yang sedikit lebih ringan.

Bagi saya, itulah pengalaman Harusnya Horror tadi malam.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda