Ulasan

Merapah Renjana: Menyusuri Jejak Rasa dalam Puisi-puisi Penuh Keresahan

Merapah Renjana: Menyusuri Jejak Rasa dalam Puisi-puisi Penuh Keresahan
Merapah Renjana (Dok.Pribadi/Fitrotin Nurin)

Tidak semua perasaan mudah diucapkan. Ada keresahan yang terlalu rumit untuk diceritakan, kerinduan yang hanya bisa disimpan, dan luka yang justru terasa lebih jujur ketika dituangkan dalam kata-kata. Merapah Renjana merupakan akumulasi rasa yang menyusuri ruang-ruang batin melalui puisi. Buku ini ditulis oleh Fatma Nuuril Maulida bersama 121 penulis terpilih lainnya. Diantaranya yakni Abdillah Al Umami, Achmad Nuryadi, Adinda Nasarani Sihombing, dan Aditya Irfan. Merapah Renjana diterbitkan oleh CV. Poetry Publisher dan pertama kali dicetak pada Februari 2022.

Isi Buku

Buku ini memiliki ketebalan 163 halaman, dari judulnya, Merapah Renjana sudah menawarkan kesan puitis. Kata “merapah” dapat dimaknai sebagai berjalan atau menjelajah, sementara “renjana” berkaitan dengan rasa hati, cinta, atau gairah. Secara sederhana, judul tersebut seperti mengajak pembaca melakukan perjalanan menyusuri berbagai perasaan manusia.

Salah satu puisi yang menarik perhatian adalah “Bimbang Ditimbang” karya Fitrotin Nurin Indah. Puisi ini menghadirkan suasana melankolis sejak baris-baris awal. Angin, kehampaan, luka, tangisan, dan kalbu menjadi kata-kata yang membangun atmosfer muram.

Angin membisik di telingaku. Hampa kosong tak berarah. Pilu luka tersayat di kalbu.

Pilihan diksi tersebut memperlihatkan keadaan seseorang yang sedang berada dalam tekanan batin. Ia seperti kehilangan arah dan kebebasan. Perasaan terjebak juga semakin kuat melalui gambaran “tali mulai mengikat” dan “kebebasan mulai sirna”. Metafora ini memberikan kesan bahwa persoalan yang dihadapi tokoh lirik bukan sekadar kesedihan biasa, tetapi sesuatu yang perlahan membatasi ruang geraknya.

Menariknya, kesedihan dalam puisi tersebut kemudian beririsan dengan kerinduan. Pada bagian akhir muncul ungkapan tentang “rindu tergores rasa” dan “terjebak dalam rindu”. Peralihan ini memperlihatkan bagaimana perasaan manusia sebenarnya tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Luka dapat melahirkan rindu, sementara rindu terkadang justru memperpanjang luka.

Bimbang Ditimbang” juga memperlihatkan kekuatan buku ini dalam mengeksplorasi bahasa puitis. Kata-kata seperti hampa, pilu, luka, kalbu, rindu, dan kehampaan membangun suasana yang konsisten. Pembaca seolah diajak masuk ke dalam pikiran seseorang yang sedang bergulat dengan perasaan.

Kelebihan dan Kekurangan

Dari sisi kepenulisan, puisi Bimbang Ditimbang masih memiliki beberapa hal yang dapat diperhatikan. Pengulangan sejumlah kata terasa cukup dominan sehingga intensitas emosinya terkadang menjadi kurang variatif. Selain itu, perubahan fokus dari tekanan dan keterikatan menuju persoalan kerinduan pada bagian akhir terasa cukup mendadak. Namun, hal tersebut juga dapat dilihat sebagai gambaran spontan mengenai pikiran seseorang yang sedang dilanda emosi.

Secara keseluruhan, Merapah Renjana menarik bagi pembaca yang menyukai karya sastra dengan nuansa reflektif dan emosional. Buku ini tidak harus dibaca dengan terburu-buru. Beberapa puisinya justru lebih nikmat direnungkan perlahan karena kekuatannya terletak pada suasana dan perasaan yang dibangun melalui pilihan kata.

Yang membuat kumpulan puisi seperti ini menarik adalah keberagamannya. Setiap penulis membawa pengalaman, sudut pandang, dan cara masing-masing dalam menerjemahkan perasaan menjadi bahasa. Pembaca pun memiliki ruang untuk menemukan pengalaman pribadi di antara larik-larik yang tersedia.

Merapah Renjana dapat dibaca sebagai perjalanan menyusuri perasaan manusia. Tentang bimbang, luka, rindu, kehampaan, dan berbagai emosi yang terkadang sulit diberi nama. Buku ini mengingatkan bahwa sastra tidak selalu harus menawarkan jawaban. Kadang-kadang, sebuah puisi cukup menjadi tempat untuk berhenti sejenak, mengakui bahwa kita pernah terluka, pernah rindu, pernah kehilangan arah, dan tetap berusaha berjalan. Sebab, seperti judulnya, hidup memang sebuah perjalanan merapah renjana: menyusuri rasa, satu kata demi satu kata.

Identitas Buku

  • Judul: Merapah Renjana
  • Penulis: Fatma Nuuril Maulida, Abdillah Al Umami, Achmad Nuryadi, Adinda Nasarani Sihombing, Aditya Irfan, dkk.
  • Penyunting: IDN Creation
  • Penerbit: CV. Poetry Publisher
  • Tanggal Terbit: Februari 2022
  • Tebal: 163 halaman
  • ISBN: 978-623-7948-39-1
  • Genre: Kumpulan puisi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda