Ulasan
Ketika Realita Membunuh Mimpi: Pelajaran Berharga dari Drakor "Dream to You"
Mungkin sudah bisa ditebak kalau "Dream to You" merupakan salah satu drama Korea berjenis romantic comedy yang mengangkat kisah cinta pertama.
Namun, setelah menonton drama yang dibintangi Hwang In Youp dan Hyeri ini, saya merasa bahwa kisah percintaannya justru bukan satu-satunya hal yang menarik untuk dibicarakan.
"Dream to You" bercerita tentang Woo Soo Bin (Hwang In Youp) dan Joo Yi Jae (Hyeri), dua orang yang pernah saling mengenal ketika masih duduk di bangku sekolah. Keduanya sama-sama memiliki impian di dunia perfilman. Namun, setelah beranjak dewasa, kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Soo Bin berhasil mengejar mimpinya hingga menjadi seorang sutradara film berbakat. Sementara itu, Yi Jae justru harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang membuatnya perlahan meninggalkan impian masa mudanya. Ia tumbuh menjadi seorang reporter yang menjalani kehidupan dengan perasaan kosong.
Keduanya kemudian dipertemukan kembali setelah 15 tahun.
Awalnya saya mengira drama ini hanya akan membawa kita pada kisah klasik tentang cinta pertama yang kembali hadir setelah bertahun-tahun. Seorang laki-laki yang masih menyimpan perasaan kepada perempuan dari masa lalunya, kemudian mereka kembali bertemu dalam keadaan yang sudah jauh berbeda.
Ternyata tidak sesederhana itu. Menurut saya, "Dream to You" justru lebih banyak berbicara tentang satu pertanyaan yang mungkin pernah muncul di kepala banyak orang ketika memasuki usia dewasa: sebenarnya, apa yang saya inginkan dalam hidup ini?
Pertanyaan tersebut terasa sederhana. Tapi semakin bertambah usia, menjawabnya justru menjadi semakin sulit.
Ketika masih kecil, mungkin kita bisa dengan mudah mengatakan ingin menjadi dokter, guru, penulis, sutradara, pengusaha, atau pekerjaan apa pun yang terlihat menyenangkan di mata kita. Saat itu, kita belum terlalu memikirkan uang, tuntutan keluarga, kegagalan, persaingan, ataupun kemungkinan bahwa hidup ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Namun, ketika dewasa, mimpi sering kali kalah dengan kebutuhan untuk bertahan hidup. Hal inilah yang saya rasakan melalui karakter Joo Yi Jae.
Yi Jae bukan seseorang yang tidak punya mimpi. Ia pernah memilikinya. Ia bahkan pernah begitu bersemangat mengejar sesuatu yang ia sukai bersama Soo Bin. Hanya saja, kehidupan membuatnya perlahan percaya bahwa mimpi tersebut mungkin tidak lagi cocok untuk dirinya.
Dan bukankah banyak orang dewasa mengalami hal yang sama?
Kita pernah punya banyak keinginan ketika masih muda. Tetapi setelah mengalami kegagalan berkali-kali, ditolak keadaan, melihat teman-teman sudah lebih dulu berhasil, atau sekadar kelelahan menghadapi tuntutan kehidupan, kita akhirnya memilih untuk berhenti.
Bukan karena sudah tidak ingin. Tapi karena terlalu lelah untuk mencoba lagi. Di sisi lain, Woo Soo Bin menjadi gambaran seseorang yang berhasil mempertahankan mimpinya. Menariknya, Soo Bin tidak sejak awal memiliki keberanian tersebut. Ia justru hidup dalam dunia yang sudah ditentukan oleh orang tuanya. Pertemuannya dengan Yi Jae ketika remaja menjadi salah satu titik penting yang membuatnya berani memiliki mimpi sendiri.
Bagi saya, bagian ini cukup menarik. Kadang-kadang kita tidak membutuhkan seseorang yang memberikan jawaban atas hidup kita. Kita hanya membutuhkan seseorang yang membuat kita berani bertanya, “Sebenarnya aku mau apa?”
Yi Jae pernah menjadi orang tersebut bagi Soo Bin. Ironisnya, ketika mereka bertemu kembali 15 tahun kemudian, justru Yi Jae yang sudah kehilangan arah. Soo Bin datang sebagai seseorang yang sudah mendapatkan apa yang dulu mereka impikan. Sementara Yi Jae datang sebagai seseorang yang bahkan sudah lupa seperti apa rasanya mengejar impian tersebut.
Di sinilah hubungan keduanya terasa lebih dari sekadar kisah cinta.
Soo Bin tidak hanya kembali untuk menemui cinta pertamanya. Ia juga seolah kembali untuk mengingatkan Yi Jae tentang dirinya yang dulu. Tentang seorang perempuan yang pernah punya keberanian untuk bermimpi.
Saya suka gagasan tersebut karena "Dream to You" tidak menggambarkan mimpi sebagai sesuatu yang selalu harus berhasil diwujudkan dengan cara yang besar. Kadang-kadang, menemukan kembali mimpi yang pernah kita tinggalkan saja sudah merupakan sebuah pencapaian.
Kita sering menganggap bahwa usia tertentu adalah batas terakhir untuk mengejar sesuatu. Kalau belum berhasil di usia 20-an, kita merasa terlambat. Kalau baru ingin memulai di usia 30-an, kita merasa malu. Kalau orang lain sudah jauh lebih dulu sukses, kita merasa tidak punya kesempatan.
Padahal, hidup bukan perlombaan yang memiliki garis finis yang sama untuk semua orang. Soo Bin dan Yi Jae sama-sama memiliki masa lalu, tetapi keduanya menjalani perjalanan yang berbeda. Ada yang sampai lebih dulu. Ada yang harus berhenti di tengah jalan. Ada yang bahkan harus memulai kembali dari nol.
Menurut saya drama ini worth it ditonton, apalagi bagi semua orang yang merasa 'ketinggalan' dan terlambat untuk mencapai impian yang kita inginkan. Apakah kamu sudah menonton drama "Dream To You?"