Ulasan
Novel Tanah Tabu: Kisah Perempuan Papua Berjuang Melawan Keadaan
Tidak semua orang tumbuh dengan kesempatan yang sama. Ada yang sejak kecil bisa mendapatkan pendidikan, hidup berkecukupan, dan bebas menentukan masa depan. Di tempat lain, ada orang-orang yang bahkan harus berjuang lebih dulu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persoalan seperti inilah yang banyak ditemui dalam novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf.
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2009, novel ini membawa pembaca ke Papua dan mengikuti kehidupan sejumlah tokoh perempuan di tengah persoalan keluarga, kemiskinan, kekerasan, serta perubahan yang terjadi di lingkungan mereka. Ceritanya tidak hanya berkutat pada kehidupan pribadi tokoh, tetapi juga menyentuh persoalan masyarakat dan tanah yang menjadi tempat mereka hidup.
Tanah Tabu sendiri merupakan novel yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008. Dari awal sampai akhir, pembaca diajak mengenal kehidupan yang mungkin terasa jauh dari keseharian kita, tetapi justru karena itulah cerita ini memberikan sudut pandang yang berbeda.
Isi Buku Tanah Tabu
Cerita berpusat pada Mabel dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mabel adalah perempuan yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya. Ia tidak mendapatkan kehidupan yang mudah. Kemiskinan dan persoalan keluarga menjadi bagian dari kesehariannya, begitu pula pengalaman pahit yang membuatnya harus belajar menjadi kuat.
Di sisi lain ada Leksi, seorang anak perempuan yang ikut melihat berbagai persoalan tersebut dari sudut pandangnya sendiri. Kehadiran Leksi membuat cerita tidak hanya berbicara tentang apa yang sudah dialami generasi sebelumnya, tetapi juga tentang bagaimana seorang anak melihat kehidupan yang diwariskan kepadanya.
Ada pula Mama Kori yang mempunyai kisahnya sendiri. Dari tokoh-tokoh inilah cerita berkembang. Masing-masing membawa pengalaman dan luka yang berbeda, tetapi kehidupan mereka saling berhubungan.
Persoalan perempuan menjadi salah satu hal yang paling menonjol dalam cerita. Mabel dan tokoh-tokoh perempuan lainnya tidak hanya berhadapan dengan kemiskinan, tetapi juga dengan perlakuan yang membuat mereka sulit menentukan pilihan hidup sendiri. Bagian ini menjadi salah satu alasan kenapa cerita Mabel tidak berhenti sebagai kisah tentang keluarga.
Meski begitu, mereka bukan tokoh yang hanya digambarkan sebagai korban. Ada kemarahan, keinginan untuk melawan, dan harapan untuk mengubah keadaan. Justru dari sini cerita menjadi lebih manusiawi. Mereka bisa lemah, bisa salah, tetapi juga punya alasan untuk terus bertahan.
Papua juga bukan sekadar latar tempat dalam novel ini. Kehidupan masyarakat dan tanah tempat mereka tinggal ikut menjadi persoalan penting. Perubahan yang terjadi di sekitar mereka berkaitan dengan kepentingan terhadap tanah dan sumber daya alam.
Bagi masyarakat yang kehidupannya sudah lama berkaitan dengan tanah tersebut, perubahan itu tentu bukan persoalan kecil. Tanah bukan cuma tempat untuk mendirikan rumah atau mencari penghasilan. Ada kehidupan dan identitas yang ikut melekat di dalamnya.
Karena itu, judul Tanah Tabu terasa semakin masuk akal setelah mengikuti keseluruhan ceritanya. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan tentang tanah, kehidupan masyarakat, dan orang-orang yang harus menghadapi perubahan tanpa selalu mempunyai pilihan yang cukup.
Yang saya suka dari novel ini adalah ceritanya tidak buru-buru memberikan jawaban untuk semua persoalan. Beberapa masalah dibiarkan berkembang melalui kehidupan para tokohnya. Pembaca seperti diajak melihat sendiri bagaimana satu masalah bisa memengaruhi keluarga dan kehidupan seseorang dalam waktu yang panjang.
Kelebihan Tanah Tabu ada pada tokoh-tokoh perempuannya. Mabel, Leksi, dan Mama Kori mempunyai pengalaman masing-masing sehingga cerita tidak hanya dilihat dari satu sisi. Perbedaan usia dan pengalaman mereka juga membuat persoalan yang dibicarakan menjadi lebih luas.
Latar Papua menjadi nilai tambah lainnya. Novel ini tidak sekadar menyebut Papua sebagai tempat kejadian, tetapi memasukkan kehidupan masyarakat dan persoalan di sekitarnya ke dalam cerita. Dari sana pembaca bisa mendapatkan gambaran tentang kehidupan yang mungkin belum pernah mereka temui secara langsung.
Ada beberapa bagian yang cukup berat untuk dibaca, terutama saat cerita membahas kemiskinan, kekerasan, dan kehidupan perempuan yang penuh masalah. Karena itu, novel ini bukan bacaan yang ringan.
Tetapi menurut saya, justru hal tersebut yang membuat Tanah Tabu masih teringat setelah bukunya selesai dibaca. Cerita ini tidak hanya mengajak pembaca mengikuti perjalanan Mabel dan tokoh lainnya, tetapi juga membuat kita berpikir tentang keadaan yang membuat seseorang harus berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Setelah membaca dari awal sampai akhir, Tanah Tabu bercerita tentang orang-orang yang berusaha bertahan di tengah kehidupan yang tidak mudah. Di balik persoalan perempuan, keluarga, kemiskinan, dan tanah, ada keinginan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.
Cerita ini juga mengingatkan bahwa setiap orang punya kehidupan dan masalah yang berbeda. Apa yang dialami satu generasi tidak harus terus terjadi pada generasi berikutnya. Selalu ada kesempatan untuk memilih jalan yang berbeda dan mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Identitas Buku
Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009
Genre: Fiksi
Tebal: 240 halaman