Ulasan
Kupas Lirik 'Dunia yang Nanti', Ternyata Bukan Cuma Lagu Kaum 'Just Friend'
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Sobat Yoursay saat mendengar lagu Dunia yang Nanti karya Raim Laode?
Masing-masing dari kalian mungkin punya jawaban berbeda atas pertanyaan tersebut. Setiap orang bisa mempunyai interpretasi sendiri terhadap lagu yang mereka dengarkan. Ada yang memaknai lagu ini sebagai lagu yang identik dengan hubungan "just friend", ada pula yang memaknainya sebagai ungkapan cinta tak terbalas atau bertepuk sebelah tangan. Namun, jika kita kupas lebih dalam, lagu ini menyimpan pesan dan cerita yang jauh lebih mendalam.
Melalui lagu Dunia yang Nanti, Raim Laode seolah sedang bercerita tentang hakikat cinta ketika ia datang di waktu yang salah. Kisah tentang pertemuan tak terduga dengan seseorang dari masa lalu yang kembali menumbuhkan benih-benih perasaan yang selama ini terpendam. Namun, perasaan itu terpaksa harus pupus sebelum sempat tumbuh lebih jauh, sebab keduanya sama-sama sudah memiliki orang lain di sisinya. Di titik itu, mengkihlaskan menjadi satu-satunya cara terbaik untuk tetap mencinta tanpa harus merusak hubungan yang sudah ada.
"Waktu bawa kita ke tempat tak terduga, kau hadir kembali menyapa hidupku. Kau ada yang miliki, ku ada yang punyai. Juga ada rasa yang belum sempat terucap."
Di bait pertama, Raim langsung membuka lagu ini dengan gambaran takdir dua orang yang begitu ironis. Keduanya sama-sama pernah memiliki perasaan yang belum terselesaikan di masa lalu. Kini waktu kembali mempertemukan mereka. Sayangnya, ada realita yang tak bisa dielakkan bahwa masing-masing dari mereka telah terikat komitmen dengan orang lain.
"Tak banyak inginku, tak banyak inginmu. Kita dua hati yang bodoh berjalan pada waktu."
Perasaan yang masih tersisa itu tak bisa mengubah apapun. Waktu sudah berlalu. Dua hati yang dulu sempat kita harap bisa saling bertaut, kini tak mungkin lagi disatukan.
"Itulah kenapa jatuh cinta dikatakan jatuh. Karena sebagaimana kita jatuh: kita tidak punya kuasa pilih jatuh pada hati yang mana."
Yeah, begitulah jatuh cinta. Raim Laode menggambarkannya sebagai sesuatu yang berada di luar kendali manusia. Kita tak bisa memilih kepada siapa hati akan berlabuh. Bahkan sering kali, waktu datangnya cinta pun tak bisa kita rencanakan. Semua terjadi begitu saja. Perasaan itu bisa saja muncul tanpa aba-aba sebelumnya. Bagian inilah yang menjadi favorit kaum "just friend". Bait tentang jatuh cinta yang tak bisa diprediksi siapa orangnya dan kapan waktunya.
"Mengerti, mengertilah. Banyak hal yang tak kupahami. Kendati kau kusuka, kita dua hati yang salah, bodoh pada waktu."
Namun, apa yang bisa kita lakukan? Rasa suka itu mungkin akan tetap ada dan tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tapi perasaan yang hadir di waktu yang salah, tak bisa dipaksakan. Suka atau tidak, keduanya harus mengakui bahwa memaksakan hubungan di masa sekarang bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Apalagi dalam keadaan sama-sama sudah terikat komitmen dengan orang lain.
Karena itu, di bait berikutnya, Raim kembali mengulang lirik "Itulah kenapa jatuh cinta dikatakan jatuh ..." yang menegaskan bahwa perasaan yang ada tidaklah salah. Sebab memang begitulah jatuh cinta. Pengulangan tersebut kemudian bersambung dengan bait penutupnya, "Mana bisa kutahan senyum sederhanamu. Karena tidak bisa kupunyai, maka kudoakan kisah kita satu di dunia yang nanti."
Bagian penutup yang begitu indah. Dari kesadaran bahwa keduanya tak bisa saling memiliki di dunia nyata demi menghormati komitmen masing-masing, lahir kompromi yang sekaligus menjadi doa dan harapan cinta mereka mungkin bisa disatukan di masa yang lain (dunia yang nanti), tanpa perlu ada yang tersakiti.
Seperti yang sempat saya singgung di awal, Dunia yang Nanti bukan cuma lagu buat kaum "just friend". Lebih dari itu, lagu ini merefleksikan sebuah keikhlasan ketika cinta terlambat datang dan tak bisa lagi dimiliki. Di dalamnya, ada pengakuan bahwa perasaan yang ada itu valid, tetapi pengakuan tersebut juga disertai kesadaran bahwa saling menyukai tak berarti harus memaksakan diri merusak komitmen yang sudah terjadi. Terakhir, mendoakan kebahagiaanya dengan penuh rasa ikhlas adalah bentuk tertinggi dari mencintai seseorang yang tidak bisa kita miliki.