Ulasan
Ulasan Film Perfect Days: Ketika Kedamaian Ditemukan dalam Rutinitas
Saya sudah menonton film Perfect Days (2023) sampai lima kali, sebuah rekor yang cukup membuat teman-teman curiga kalau saya tidak punya modal untuk beli tiket film lain. Tapi ya bagaimana, setiap kali isi kepala saya mendadak ruwet terasa mencekik seperti tagihan utang, saya selalu sowan pada Hirayama. Pria pembersih toilet di Tokyo ini punya ilmu sakti mandraguna untuk mengingatkan bahwa hidup ini tidak perlu dijalani sambil ngebut kesetanan.
Film Perfect Days (2023) besutan Wim Wenders yang dibintangi Koji Yakusho ini sama sekali tidak memajang tampang heroik yang sibuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Kisahnya super ekstrem nan-lempeng: Hirayama cuma bangun tidur, merapikan kasur lembutnya, menyiram tanaman kesayangannya, berangkat kerja, menyetel kaset jadul, membaca buku sampai ketiduran, lalu besoknya mengulangi ritual yang persis sama, berkali-kali, bertahun-tahun. Ajaibnya, Hirayama tampak tak pernah merasa bosan dengan ritual super ekstrem nya itu.
Ia menjalani rutinitas harian dengan tingkat ketelitian yang nyaris serba ekstrem. Dari urutan menata barang, jadwal kerja, sampai ritual membawa roti dan kamera analog, semuanya tertata rapi tanpa celah. Dia tidak sedang ngoyo mengejar pangkat atau ambisi setinggi langit.
Begitu jam istirahat tiba, dia cukup duduk tenang di taman, memandangi pohon, lalu memotret komorebi—istilah romantik untuk cahaya matahari yang menyelinap malu-malu di balik rimbunnya dedaunan. Dunia di luaran sana boleh saja berputar dengan kecepatan cahaya, tapi Hirayama dengan anggun memilih untuk berjalan santai menikmatinya.
Pekerjaan Hirayama sebagai pendekar pembersih toilet ini pun bukan sekadar pajangan pemanis kamera. Usut punya usut, film ini lahir dari proyek bernama The Tokyo Toilet, sebuah kerja sama ciamik antara The Nippon Foundation dan Pemerintah Kota Shibuya. Tidak main-main, ada 17 toilet publik yang didandani ulang oleh 16 arsitek kelas dewa sekelas Tadao Ando hingga Kengo Kuma demi menciptakan fasilitas super nyaman untuk semua umat manusia tanpa pandang bulu.
Di tengah kemegahan arsitektur yang aduhai itu, hadir sang satrio piningit pertoiletan bernama Hirayama yang memastikan kemewahan tersebut tidak berakhir jadi tempat kumuh. Pekerjaannya jelas sepi dari tepuk tangan penonton, tapi dari gerakan tangan, gosokan sikat, dan ketelitiannya merawat ruangan, kita disadarkan pada satu hal bahwa kebersihan toilet yang hakiki itu butuh manusia nyata yang rela datang setiap hari.
Ternyata oh ternyata, tegaknya tiang peradaban toilet kita ini sering kali bersandar pada jenis pekerjaan sunyi yang sama sekali tidak estetik untuk dipajang di unggahan Instagram—lagian siapa pula yang dengan kesadaran penuh memamerkan pekerjaannya sebagai seorang juru bersih toilet sejagat Tokyo?
Tak berhenti di situ, keikhlasan hidup Hirayama ini rupanya sukses menyihir dunia. Terbukti, sang aktor Koji Yakusho berhasil menggondol piala Best Actor di Festival Film Cannes 2023, bahkan filmnya sukses menembus nominasi Best International Feature Film di ajang Academy Awards ke-96! Prestasi setinggi langit ini membuktikan bahwa cerita tentang hidup yang lempeng dan biasa-biasa saja pun punya daya pikat yang luar biasa mendunia.
Film ini sama sekali tidak berniat mengubah Hirayama menjadi malaikat bersayap, ia cukup menampilkannya sebagai manusia seutuhnya yang berhasil menikmati setiap jengkal napas dalam hidupnya sendiri.
Kaset jadul yang diputar Hirayama di mobilnya itu ibarat sebuah aksi mogok massal terhadap dunia yang super duper cepat. Di saat orang-orang di luar sana sibuk berakrobat mengganti lagu, status media sosial, hingga identitas digital secepat kilat, pria ini malah asyik mendengarkan musik lama dengan tingkat kesabaran purbakala. Alunan lagu "Perfect Day" dari Lou Reed seolah menegaskan bahwa kebahagiaan itu adalah seni menikmati tempat di mana kaki kita sedang berpijak saat ini juga.
Bukan berarti film ini menyuruh kita pasrah menerima nasib tanpa kegelisahan realitas sosial ala Maudy Ayunda. Hirayama juga manusia biasa yang punya tumpukan masa lalu, rasa sepi yang menggigit, dan hubungan keluarga yang ruwetnya mirip benang kusut. Hidup sederhana memang bukan obat ajaib untuk segala penyakit batin. Namun, kisah ini mengetuk hati kita agar tidak menjalani rutinitas harian yang membosankan itu dengan wajah cemberut penuh kebencian.
Di tengah gempuran doktrin zaman sekarang yang memaksa anak muda memeras keringat menjadi manusia super produktif, Hirayama hadir membawa aksi pembangkangan paling damai sejagat raya. Senjatanya adalah rutinitas kesehariannya: menyiram tanaman, berangkat kerja, membaca buku, dan memotret berkas cahaya matahari.
Pada akhirnya, kedamaian sejati barangkali bukan perkara memiliki kehidupan yang megah bak istana dongeng. Kita mungkin hanya perlu belajar melototi kehidupan yang serba biasa saja ini dengan perhatian yang jauh lebih utuh. Seperti Hirayama, kita bisa mulai dengan menikmati hari ini dengan sungguh-sungguh lahir batin, sebelum besok pagi matahari kembali terbit membawa paket rutinitas yang persis sama.